Pegiat Medsos Independen Ajak Generasi Muda Tak Golput

156
Anti Golput
Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) mengimbau generasi muda tak golput pada Pemilu 17 April nanti. (Foto: Istimewa)

Jakarta, Muslim Obsession – Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) mengajak generasi muda untuk tidak golput saat Pemilu pada 17 April nanti. Ajakan dilakukan dengan berbagai aksi kreatif agar masyarakat menyambut dan mensukseskan Pemilu dengan antusias tinggi dan rasa riang gembira.

Koordinator Nasional FPMSI Hafyz Marshal mengatakan, saat ini golput menjadi kekhawatiran sekaligus musuh utama dalam pemilu. Menurutnya, golput bukanlah sebuah pilihan karena hadir dari rasa pesimistis dan apatisme sekelompok orang terhadap calon pemimpin dan kondisi lingkungan.

“Gerakan Golput ini juga tidak membawa perubahan yang baik bagi kondisi politik Indonesia,” katanya, Senin (15/4/2019).

Untuk menangkan berkembangnya golput, jelas Havyz, pihaknya telah melakukan berbagai aksi kreatif untuk terus mengajak masyarakat agar menyambut dan menyukseskan Pemilu dengan antusias tinggi dan rasa riang gembira.

Havyz menambahkan, ada tiga tips untuk menekan gerakan golput ini. Pertama, hilangkan pikiran negatif. Stigma bahwa politikus adalah ‘kotor’ dan tidak baik masih menjadi salah satu faktor di antara banyak faktor yang mampu menurunkan partisipasi pemilih di masyarakat.

“Saya tidak sependapat dengan mereka yang mengatakan para politikus semuanya kotor. Saya masih yakin ada orang-orang bersih di sana meski jumlahnya tidak banyak dan bisa membuat ’bersih’. Momentum Pemilu inilah seharusnya dimanfaatkan untuk memilih sebanyak-banyaknya politisi bersih untuk dapat memimpin dan mewakili,” ujarnya.

Oleh karenanya, Havyz mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam proses demokrasi ini dengan memilih wakil-wakil rakyat serta Presiden dan Wakil Presiden yang mampu mengayomi dan mau bekerja keras untuk rakyat.

Kedua, katakan tidak pada yang mengajak golput. Dengan menolak, imbuh Havyz, berarti sudah menyelamatkan masa depan bangsa.

“Aksi golput seperti mengabaikan satu fakta bahwa masih ada kelompok masyarakat cerdas lain dalam tatanan demokrasi selain mereka. Sikap golput seolah-olah melihat tidak ada lagi jalan ke luar dan memandang cuma mereka saja yang punya konsepsi ideal. Lalu ketika konsep ideal tersebut tidak bisa diterapkan, terus menyalahkan realitas di lapangan,” jelasnya.

Dan ketiga, bersikap aktif. Caranya dengan mendistribusikan konten yang terverifikasi benar. Sebaliknya, tidak mendistibusikan konten bohong. Bahkan kalau ada konten yang menghina, abaikan saja atau kalau perlu laporkan.

“Setidaknya, sebagai milenial, berusaha aktif dan menjadi filter sajalah lebih dulu,” tegas Hafyz.

Sikap aktif tersebut, dinilai Havyz, dapat memutus mata rantai supply dan demand, sehingga narasi negatif bisa berkurang.

Senada dengan Hafyz, Ketua Forum Pegiat Media Sosial Independen (FPMSI) Rusdil Fikri mengingatkan agar publik tanah air turut serta meramaikan dan memilih pemimpin yang memiliki rekam jejak terbaik, dan sudah jelas kerjanya nyatanya.

“Kita masih butuh pemimpin yang punya track record baik, bersih, jujur, dan tidak korupsi serta bekerja keras, baik serta tulus. Lalu yang terpenting sudah jelas kerja nyatanya untuk Indonesia,” tuturnya.

Rusdil berharap Pemilu 2019 pada 17 April nanti dapat berjalan damai., berkualitas dan bermartabat.

“Stop ajakan Golput di Pilpres 2019. Jangan takut memilih dan datang ke TPS untuk gunakan hak suara dengan jernih dan cerdas. Mari bersama-sama menjaga situasi aman, damai, dan nyaman. Pileg dan Pilpres damai, rakyat pun ikut tenang,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here