Parmusi Sulsel Launching Perpustakaan Lorong Berbasis Literasi Al-Quran Pertama di Indonesia

265
PW Parmusi Sulsel meresmikan Perpustakaan Lorong dan Wakaf Buku dengan tema “Beriqra dengan Iman dan Ilmu” di Pesantren Lorong Raudhah Indonesia, Kompleks Mangga Tiga Permai Daya Makassar, Ahad (5/7/2020).

Makassar, Muslim Obsession – Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi) Wilayah Provinsi Sulawesi Selatan meresmikan Perpustakaan Lorong dan Wakaf Buku dengan tema “Beriqra dengan Iman dan Ilmu” di Pesantren Lorong Raudhah Indonesia, Kompleks Mangga Tiga Permai Daya Makassar, Ahad (5/7/2020).

Secara resmi launching dilakukan Ketua PW Parmusi Sulsel DR. H. Abubakar Wasahua, MH disaksikan jajaran Dinas Perpustakaan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan dan Forum Perpustakaan Lorong Desa Sulawesi Selatan.

Acara digelar dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan Covid-19, dimana panitia menyiapkan tempat cuci tangan, sabun, dan hand sanitizer.

Hadir pada kesempatan tersebut Kepala Bidang Perpustakaan DPK Sulsel Nilma, S.Sos, M.M, Kepala Seksi Pengembangan dan Pengolahan Bahan Perpustakaan Syamsuddin, S.S., M.M, Kepala Seksi Deposit Drs. Muh. Syahrir Razak, S.Sos., M.AP, Koordinator Pustakawan Sulsel Syamsul Arif, S.Sos., M.A. Juga hadir pustakawan senior Drs. H. Syahruddin Umar, M.M, PIC, Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Sulsel Nazaruddin, S.Ag., M.Sos.I, dan Duta Baca Sulsel Rezky Amalia Syafiin, S.H

Ketua PW. Parmusi Provinsi Sulawesi Selatan Ustadz DR. H. Abubakar Wasahua, MH dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadi pribadi yang baik, yakni pribadi yang memiliki iman dan ilmu.

Menurutnya, inilah korelasi keberadaan Perpustakaan Lorong Raudhah yang hadir di tengah-tengah lorong menstimulan lahirnya generasi unggul.

“Ada dua pilihan dalam menjalani hidup. Mau menjadi kelompok sebaik-baik makhluk (khairul bariyyah) atau sejahat-jahat makhluk (syarrul bariyyah). Ingin jadi yang terbaik tentu dengan iman dan ilmu. Di antara jalan penting untuk mencapainya adalah dengan membaca Al-Quran dan buku. Dengan membaca kita semakin cerdas dan menjalani kehidupan ini dengan tertib sesuai ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala,” ujar Abubakar.

Penasihat Pesantren Lorong Raudhah Indonesia ini juga menyampaikan bahwa kesuksesan-kesuksesan dari berbagai kegiatan dan terobosan yang telah ditorehkan Pesantren Lorong Raudhah Indonesia harus terus dilanjutkan sebagai sebuah tradisi yang terwariskan di tengah-tengah santri pesantren lorong.

“Insya Allah berbagai terobosan dapat menjadi percontohan bersakala nasional, dan untuk itu Parmusi insya Allah senantiasa siap membersamai Pesantren Lorong Raudhah Indonesia membina umat,” urainya.

Abubakar menegaskan, Perpustakaan Lorong Raudhah dan wakaf buku lahir dari niat dan perbuatan baik untuk membantu pemerintah dalam upaya mencerdaskan anak bangsa dan menghadirkan suasana lingkungan yang kondusif. Dengan niat yang demikian, sudah seharusnya program ini mendapat support dari semua pihak, terutama pemerintah.

“Kita bersyukur karena Ibu Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Ir. Hj. Liestiaty F. Nurdin, M. Fis dalam kapasitasnya sebagai sebagai Bunda Baca Sulsel telah memperlihatkan keseriusannya dalam kegiatan perpustakaan lorong ini,” ucapnya.

Bunda Baca Sulsel Ir. Hj. Liestiaty F Nurdin, M. Fis yang hadir secara virtual mengapresiasi hadirnya Perpustakaan Lorong Raudhah yang diinisiasi PW Parmusi Sulsel dan Forum Perpustakaan Lorong Desa Sulawesi Selatan.

Istri Gubernur Sulsel ini berharap Perpustakaan lorong Raudhah ini bisa bermanfaat untuk masyarakat sekitar dan menjadi contoh untuk perpustakaan lorong lainnya.

“Saya ucapkan terima kasih kepada pengurus dan berharap perpustakaan dijaga dan dihidupkan terus semangat masyarakat untuk senang datang ke Perpustakaan Lorong. Insya Allah saya komitmen membantu pengadaan dan penggantian buku secara berkesinambungan,” ungkapnya.

Apresiasi juga datang dari Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan, Moh. Hasan Sijaya, SH, MH. Apalagi program yang sangat menunjang kegiatan Pesantren Lorong Raudhah Indonesia ini dibangun dan dikembangkan oleh masyarakat dengan pola pembinaan tersendiri.

“Hebatnya, Pesantren Lorong ini satu-satunya di Indonesia, yang digagas dan digerakkan dengan semangat yang luar biasa sehingga bisa terbangun di tempat ini,” kata Hasan.

Ia menyampaikan bahwa Gubernur Sulsel Prof. Nurdin Abdullah memiliki keinginan untuk membuat 2.600 perpustakaan di kepemimpinannya saat ini. Disampaikan Hasan, bahwa Gubernur juga akan memberikan sumbangsih keberadaan secara fisik pembangunan perpustakaan lorong.

“Kalau perlu pengelola perpustakaannya diberikan insentif. Ini sekarang kami gagas dan kami bicarakan dengan DPRD. Kami mendukung peran serta Parmusi Sulsel dan Forum Perpustakaan Lorong Desa Sulsel atas prakarsanya,” sebutnya.

Pada kesempatan launching ini Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan berupa dua perangkat komputer dan uang sebesar Rp.10 juta Rupiah untuk operasional Pesantren Lorong Raudhah Indonesia agar bisa semakin berkiprah untuk umat dan khususnya untuk literasi.

Sementara itu, Ketua Forum Pengelola Perpustakaan Lorong Desa Sulsel, Bachtiar Adnan Kusuma (BAK), berjanji akan memperjuangkan para relawan dan pengelola perpustakaan lorong dan desa Sulsel untuk memeroleh insentif dari Pemprov Sulsel melalui Dinas Perpustakaan Arsip Sulsel.

“Apalagi perjuangan para relawan sejalan dengan keinginan gubernur yang berharap relawan dan pengelola Perpustakaan Lorong mendapatkan perhatian khusus,” kata BAK.

Menanggapi apresiasi dari berbagai kalangan, Pimpinan Pesantren Lorong Raudhah Indonesia yang juga Dai Parmusi, Ustadz Rahim Mayau, mengucapkan syukur karena Allah ta’ala telah menggerakkan hati berbagai pihak untuk terlibat baik secara individu atau pun dengan nama institusi telah bersama-sama hadir dan berbuat di Pesantren Lorong Raudhah Indonesia.

Berbagai kegiatan yang digagas Pesantern Lorong Raudhah Indonesia ini telah menjadi inspirasi kehidupan, termasuk gagasan menjadikan Pos Ronda, menjadi Pos Mengaji sekaligus Perpustakaan Lorong dan tempat konsolidasi kerja-kerja keummatan.

“Awalnya, dua tahun lalu pesantren ini hanya mengajar anak-anak di lorong ini. Kemudian berkembang mengajar remaja, orang tua. Bahkan ada santrinya nenek-nenek, hingga jumlahnya lebih 100 orang,” terang Ustadz Rahim.

Ustadz Rahim menjelaskan, Perpustakaan Lorong Raudhah Indonesia adalah perpustakaan yang dinamikanya berpadu antara literasi Al-Quran dan bahan bacaan lainnya. Setiap santri dalam semua kelompok umur mendapat kewajiban bahwa setiap waktu belajar di pesantren maka santri wajib membaca Al-Quran dan buku.

“Sistem ini akan memelihara terjaganya kebiasaan baca buku dan insya Allah melahirkan generasi khaira ummat, generasi terbaik,” pungkasnya. (Bur)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here