Parmusi Serukan Kader dan Dai untuk Sosialisasikan Boikot Produk Prancis

225
H. Usamah Hisyam
Ketua Umum Persaudaraan Muslimin Indonesia (Parmusi), H. Usamah Hisyam. (Foto: Edwin B/Muslim Obsession)

Jakarta, Muslim Obsession – Parmusi (Persaudaraan Muslimin Indonesia) mengecam sikap arogan Presiden Prancis Emmanuel Macron atas dukungannya terhadap Majalah Charlie Hebdo yang menampilkan kartun Nabi Muhammad.

Macron berdalih penerbitan kartun Nabi Muhammad semua itu didasarkan atas kebebasan bereskpresi.

“Parmusi sangat mengecam sikap Presiden Prancis Emmanuel Macron. Itu sikap arogan dan sangat melukai hati umat Islam di seluruh dunia,” tegas Ketua Umum PP Parmusi H. Usamah Hisyam lewat sambungan telepon kepada Muslim Obsession, Senin (2/11/2020).

Tak hanya mengecam, lanjut Usamah, Parmusi juga meminta seluruh kader dan Dai Parmusi untuk turut memboikot dan menyosialisasikan seruan boikot terhadap produk-produk asal Prancis.

“Ini penistaan besar terhadap junjungan baginda Nabi Muhammad ﷺ dan kita umat Islam harus bereaksi untuk meresponnya. Untuk itu saya minta seluruh kader dan Dai Parmusi untuk memboikot dan menyosialisasikan secara massif agar umat Islam memboikot produk-produk Prancis,” tandasnya.

Sebelumnya, pada Rapat Koordinasi PP Parmusi, Ketua Bidang Agama KH. Farid Ahmad Okbah juga menyerukan hal yang sama. Ia menilai Presiden Prancis Emmanuel Macron sebagai musuh bersama dan meminta umat Islam untuk memboikot produk-produk Prancis.

“Alhamdulillah umat Islam di seluruh dunia saat ini sadar punya musuh. Penistaan oleh Presiden Prancis terhadap Nabi Muhammad ﷺ harus disikapi oleh kita semua, baik secara politik maupun ekonomi. Tenggelamkan Prancis dengan memboikot produknya. Allahu Akbar!” serunya.

Kecaman Presiden Joko Widodo

Kecaman terhadap Presiden Prancis Emmanuel Macron dan seruan boikot menjadi headline di Tanah Air. Kecaman juga datang dari Presiden RI Joko Widodo hingga seruan boikot oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Yang pertama, Indonesia mengecam keras terjadinya kekerasan yang terjadi di Paris dan Nice, yang telah memakan korban jiwa,” ujar Jokowi dikutip dari tayangan konferensi pers di kanal YouTube Sekretariat Presiden, Sabtu (31/10/2020) sore.

“Kedua, Indonesia juga mengecam keras pernyataan Presiden Perancis yang menghina agama Islam yang telah melukai perasaan umat Islam di seluruh dunia,” tuturnya.

Sebagai kepala negara, Jokowi menyayangkan pernyataan Macron yang dinilai dapat memecah belah persatuan antar-umat beragama di dunia. Padahal, saat ini dunia memerlukan persatuan untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Jokowi melanjutkan, kebebasan berekspresi yang menciderai kehormatan, kesucian serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan.

“Mengaitkan agama dengan tindakan terorisme adalah sebuah kesalahan besar. Terorisme adalah terorisme. Teroris adalah teroris. Teroris tidak ada hubungannya dengan agama apa pun,” kata dia.

Terakhir, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia mengajak dunia mengedepankan persatuan dan toleransi beragama untuk membangun dunia yang lebih baik.

Dalam konferensi pers tersebut, Jokowi didampingi oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para menteri dan sejumlah perwakilan organisasi keagamaan.

Perwakilan yang hadir antara lain dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdatul Ulama, Muhammadiyah, Konferensi Wali Gereja imIndonesia (KWI), Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI), Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) dan Majelis Tinggi Agama Khong Hu Cu Indonesia (Matakin).

Seruan Boikot MUI

Sementara itu, MUI turut mengeluarkan seruan kepada seluruh umat muslim di berbagai wilayah Indonesia dan dunia untuk memboikot semua produk yang berasal dari Prancis.

Imbauan tersebut diteken oleh Wakil Ketua Umum MUI Muhyiddin Junaidi serta Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan MUI Anwar Abbas. Imbauan ini berisi setidaknya 7 poin krusial bagi seluruh umat muslim.

Dalam surat tersebut, MUI mengajak seluruh umat Islam untuk memboikot semua produk yang berasal dari negara Prancis sampai ada permintaan maaf. MUI juga mendesak kepada pemerintah untuk melakukan tekanan dan peringatan keras kepada pemerintah Prancis.

“Serta mengambil kebijakan untuk menarik sementara waktu Duta Besar RI di Paris hingga Presiden Emmanuel Macron mencabut ucapannya dan meminta maaf kepada Umat Islam Se-Dunia,” demikian pernyataan resmi MUI, Jumat (30/10/2020).

MUI juga menyeru untuk menghentikan segala tindakan penghinaan dan pelecehan terhadap Nabi Muhammad SAW. Termasuk menyeru menghentikan pembuatan karikatur Nabi Muhammad SAW dan ucapan kebencian dengan alasan apa pun.

MUI mendukung sikap Organisasi Konferensi Islam (OKI) dan anggotanya seperti Turki, Qatar, Kuwait, Pakistan, dan Bangladesh yang telah memboikot semua produk negara Prancis.

MUI juga mendesak Mahkamah Uni Eropa segera mengambil tindakan dan hukuman kepada Prancis atas tindakan dan sikap Presiden Prancis yang telah menghina dan melecehkan Nabi Muhammad SAW.

“Diimbau agar semua khatib, dai, mubaligh, dan asatidz agar menyampaikan pesan materi khutbah Jumat untuk mengecam dan menolak terhadap penghinaan kepada Rasulullah Nabi Muhammad SAW.”

MUI juga mengimbau umat Islam Indonesia agar kiranya dalam menyampaikan aspirasi hendaknya dilakukan secara damai dan beradab. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here