Panganan Bergizi Cegah Malnutrisi Anak Palestina

502
ACT bantu anak-anak Palestina (Foto: ACT)

Rafah, Muslim Obsession – Kasus ketahanan pangan Palestina dilaporkan PBB awal Februari lalu. Kepala Dewan Orang Tua di sekolah organisasi PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) Zaher Al-Banna mengatakan, banyak siswa di sekolah-sekolah Palestina yang melewatkan sarapan sebelum berangkat ke sekolah.

Hal ini dikarenakan keterbatasan finansial keluarga mereka, sebagai akibat dari blokade Israel yang berkepanjangan. Dampaknya, banyak siswa kekurangan gizi, anemia, pusing, dan pingsan saat di sekolah.

Sejalan dengan itu, Dapur Umum Indonesia Aksi Cepat Tanggap (ACT) untuk Palestina hadir di Gaza sejak awal Februari lalu. Lima ratus porsi makan siap santap dibagikan kepada pelajar di sekolah-sekolah.

Akhir pekan lalu, panganan siap santap diberikan pada siswa-siswi di Sekolah Dasar Ghassan Kanafani di Rafah. Ratusan porsi nasi, ayam, dan sayur menjadi santap siang para siswa.

“Bantuan makanan ini diberikan bagi murid sekolah di seluruh Jalur Gaza. Sekolah yang menjadi tujuan utama adalah mereka yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga prasejahtera di Jalur Gaza. Bulan Februari ini, makanan siap santap dari Dapur Umum Indonesia diterima 7.000 penerima manfaat yang sebagian besar adalah pelajar,” lapor Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Respons (GHR) – ACT. Ia juga menjelaskan, implementasi makanan bergizi tersebut juga sebagai respons terhadap maraknya kasus malnutrisi di kalangan siswa di Gaza.

Hal itu sejalan dengan fakta yang dipaparkan Direktur Hubungan Internasional-Kementerian Pendidikan Gaza Ahmad An-Najjar. Ahmad mengatakan, pengepungan yang dilakukan Israel atas Gaza menjerat kehidupan para penduduk Gaza. Akibat itu, hampir semua kebutuhan tak lagi tersedia di Jalur Gaza. Sangat sulit memperoleh komoditas dari luar Jalur Gaza.

Di sektor pendidikan, kelumpuhan ekonomi yang melanda Gaza berdampak bagi kehidupan siswa.

“Hampir di setiap keluarga di Jalur Gaza anak-anaknya tidak mendapatkan cukup makan. Mereka pergi ke sekolah tanpa sarapan. Mereka juga pergi ke sekolah tanpa sepeser pun uang saku untuk membeli makanan di kantin pada jam-jam istirahat sekolah,” jelas Ahmad saat berkunjung ke Kantor ACT, seperti dikutip melalui siaran pers ACT, Rabu (27/2/2019).

Menurut Ahmad, situasi di Gaza benar-benar sulit. Seorang anak pergi ke sekolah tanpa makanan yang cukup maupun uang saku. Belum lagi, penghasilan orang tua yang tidak memadai.

“Bayangkan jika sang istri meminta uang kepada suaminya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan anak-anaknya, sementara sang suami sendiri tidak menerima penghasilan yang cukup,” terang Ahmad. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here