Pandemi Datang dan Pergi, Apa yang Bisa Dipelajari?

121
Suasana Kota Milan usai lockdown. (Foto: AP)

Oleh: M. Barka Anantadira (Strategic Partnership, Rumah Perubahan)

Dari Flu Spanyol di Amerika Utara, ke Ebola di Afrika, lalu ke MERS di Timur Tengah, hingga Zika di Amerika Latin. Pandemi datang silih berganti.

Sebagian dari kita mungkin tidak menyadari. Tercatat lebih dari 12.000 yang akhirnya outbreak (12.012) yang telah terjadi antara tahun 1980-2013. (WHO, 2019) Bahkan setiap bulannya terdapat potensi 7.000 outbreak yang dimonitor oleh World Health Organization.

Pandemi COVID-19 belum dilewati, sudah muncul virus baru yang mampu memicu pandemi berikutnya. Ya, inilah virus flu burung bernama H7N9. Sesuai namanya, sebagian besar flu ini menginfeksi unggas. Namun akhir-akhir ini, virus itu mulai melompat dari ayam ke manusia lebih cepat. Virus ini sudah memakan ratusan korban jiwa dan sekarang dilaporkan sudah mulai tersebar ke beberapa negara seperti Amerika Serikat, Taiwan, dan Malaysia.

Tahan dahulu rasa takut anda. Tentu ini bukanlah cerita fiksi ilmiah Hollywood. Pandemi adalah kenyataan serius yang harus kita hadapi.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari?

Pertama, interkonektivitas dan globalisasi menyebabkan virus menyebar semakin cepat.

Apakah Anda pernah mendengar kisah Black Death atau wabah Bubonik? Mari kita bahas secara singkat. Beberapa abad yang lalu, tepatnya pada tahun 1720, sebuah kapal kargo bernama Grand Saint Antoine berlayar dari perairan Lebanon menuju pelabuhan Kota Marseille, Perancis.

Pada saat itu, komisi kesehatan setempat sempat ragu-ragu untuk mengizinkan kapal tersebut menurunkan barang-barang angkutan berupa produk tekstil yang mahal. Hal ini wajar karena saat itu wabah Bubonik sedang menyebar di wilayah Mediterania Timur.

Biasanya, kru dan barang-barang angkutannya harus dikarantina di kapal selama empat puluh hari sebelum diperbolehkan turun oleh komisi kesehatan. Namun, karena tekanan dan sogokan dari para pebisnis tekstil yang ingin melakukan pameran, komisi kesehatan pun berubah pikiran. Kapal tersebut diperbolehkan untuk menurunkan angkutannya.

Kisah selanjutnya pasti dapat Anda prediksi. Hanya selang berapa hari, ratusan ribu korban jiwa pun berjatuhan karena wabah Bubonik di Kota Marseille.

Kita bisa melihat kesamaan antara Wabah di kota Marseille dengan COVID-19 saat ini. Reaksi pemerintah Tiongkok yang lambat dan tidak transparan dalam penanganan COVID-19 mengulangi kesalahan komisi kesehatan di Marseille berabad-abad yang lalu. Dalam waktu satu bulan semenjak kasus pertama COVID-19, tidak terhitung berapa orang yang pergi dari Tiongkok menuju negara lain. Kita pun melihat dampaknya saat ini, COVID-19 menjadi pandemi hampir di seluruh belahan dunia.

Kedua, sebagian besar negara di dunia tidak siap menghadapi pandemi. Sudah sejak bulan September 2019, WHO memberikan peringatan bahwa banyak negara-negara di dunia tidak siap menghadapi pandemi selanjutnya.

“Dunia tidak siap. Sudah terlalu lama, kita membiarkan siklus kepanikan dan kelalaian dalam hal pandemi: kita meningkatkan upaya ketika ada ancaman serius, lalu dengan cepat melupakannya ketika ancaman itu mereda. Sudah waktunya untuk bertindak.” (WHO Report, 2019)

Kelalaian dan ketidaksiapan dapat kita amati. Dari pandemi sebelumnya seperti Ebola, Zika, dan Flu Burung kita telah belajar bahwa patogen dapat tersebar dari spesies yang berbeda. Baik dari binatang ke binatang lainnya, hingga dari binatang ke manusia. Maka, pemeriksaan medis dan karantina seharusnya dilakukan bagi orang-orang yang melakukan perjalanan dari negara-negara yang menjual dan mengkonsumsi hewan liar (seperti Tiongkok). Ini diharapkan akan menjadi sebuah tindakan pencegahan dari pandemi yang mungkin muncul selanjutnya. (Voth, 2019)

Tentunya kita masih bisa menggali lebih pelajaran lainnya dari pandemi yang telah terjadi sampai saat ini. Anda dapat menemukan lebih lengkap dalam sesi webinar gratis oleh Mahir Academy “100 Tahun Pandemi: Apa pelajaran dari COVID-19?” pada hari Senin, 30 Maret 2020. Mari bersama-sama tetap produktif di tengah kondisi ini.

Salam perubahan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here