Pandemi Covid-19 dan Kesiapan Inovasi Teknologi

92

Oleh: Endah Cahya Immawati, Tenaga Substansi Bidang Iptek Pada Kementerian PPN/Bappenas

Kasus Positif Covid-19 di Indonec 4 sia masih terus bertambah. Dari Data satuan Tugas Penanganan Covid-19 pada Senin 9 Agustus 202 1, tercatat adanya penambahan sebesar 20.709. Dari jumlah tersebut, tercatat sejak awal Maret 2020 saat ditemukannya Covid-19 di Indonesia mencapai 3.686.740 kasus.

Untuk kasus sembuh mencapai 44.959 orang. Oleh karena itu, kasus sembuh saat ini sudah sekitar 3.129.611 orang. Untuk kasus kematian, pada periode 8-9 Agustus bertambah sebanyak 1.475 orang, sehingga total meninggal di Indonesia berjumlah 108.571 orang.

Pandemi ini memunculkan persoalan di semua lini kehidupan, tidak hanya faktor Kesehatan, tapi juga Pendidikan, Sosial, Ekonomi, Politik dan lain sebagainya. Tak pelak, pemerintah pun sejak pertengahan 2020 telah melakukan refocusing anggaran, termasuk bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Inovasi dimasa Pandemi

Di masa Pandemi, para peneliti yang berasal dari Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) Iptek, Lemlitbang Kementerian, dan Kampus berlomba turut memberikan solusi melalui berbagai skema penelitian. Berdasarkan data katalog inovasi Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)/Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2020, terdapat 18 kegiatan litbang-inovasi utama dan 39 kegiatan litbang-inovasi pendukung.

Beberapa inovasi yang dihasilkan diantaranya ventilator medis, Sistem AI untuk Deteksi Covid-19, Mobile Lab BSL-2 (Container) Kendaraan dengan perangkat Lab BSL-2, Powered Air, Purifying Respirator, PCR Test Kit, Rapid Test, Immunomodulator, Autonomous UVC Mobile Robot, Alat Deteksi Covid 19 GeNose dll (LAKIN Kemenristek/BRIN 2020).

Iptek sebagai penghela

Merujuk pengalaman negara maju, Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dijadikan sebagai penghela/pendorong untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing serta peningkatan ekonomi nasional. Iptek sebagai penghela merupakan pergeseran paradigma pembangunan yang semula berbasis pada sumber daya alam, menjadi pembangunan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Pergeseran paradigma ini mensyaratkan adanya ekosistem inovasi.

Terdapat beberapa komponen di dalam pembentukan ekosistem inovasi nasional, yaitu : adanya kebijakan yang mendukung, sarana dan prasarana pendorong inovasi, pengembangan produk prioritas unggulan, SDM litbang yang berkualitas, infrastruktur Inovasi yang memadai, sinergi dan kolaborasi pelaku riset dan industri; dan adanya evaluasi dan pengembangan proses inovasi yang berkelanjutan.

Profesor bidang inovasi teknologi Massachusetts Institute of Technology (MIT) Edward Roberts mengatakan, bahwa inovasi dapat diformulasikan secara sederhana, yaitu invensi dikalikan komersialisasi. Artinya, suatu invensi baru dapat dianggap sebagai inovasi apabila ia dapat dikomersialisasikan.

Sehingga, secara ringkas ekosistem Inovasi dapat didefinisikan sebagai sistem yang mendorong terbentuknya invensi yang dikomersialisasikan. Lalu bagaimana dengan Indonesia?

Masih terdapat beberapa persoalan terkait dengan Iptek dan inovasi di Indonesia. Hal ini antara lain disebabkan karena masih rendahnya kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi/TFP sebesar 0,9 persen dari total pertumbuhan ekonomi, infrastruktur Iptek yang diperlukan juga masih belum memadai.

Tak hanya itu. Sumber daya manusia Iptek yang bergelar S3 juga masih sedikit yaitu 18.53 persen (Lakin Kemenristek/Brin) serta hasil riset inovasi yang masih rendah termasuk produk hasil riset yang siap dikomersialisasikan. Hal ini juga diperlemah dengan anggaran litbang yang masih 0.28 persen dimana 80 persen anggarannya bersumber dari pemerintah dan 20 persen bersumber dari swasta, dan berbagai persoalan lainnya.

Kondisi ekosistem riset dan inovasi Indonesia saat ini diuji oleh situasi pandemi Covid-19. Dari hasil kaji cepat Bappenas tentang penanganan Covid-19 di Indonesia, dihasilkan kesimpulan bahwa kebutuhan pengembangan inovasi teknologi untuk menghadapi pandemi Covid-19 berkembang sangat cepat. Tetapi kenyataannya, masa pandemi, inovasi teknologi hasil dari kegiatan litbang dalam negeri masih banyak yang belum digunakan.

Oleh karena itu, terdapat beberapa catatan dalam kaji cepat tersebut, yakni diperlukannya konteks penelitian yang memiliki:(1)horizon/rentang waktu didalam proses riset dan komersialisasi; (2)perlu adanya needs assessment dan resources mapping yang lengkap sebagai dasar penyusunan kegiatan penelitian, selian itu diperlukan (3)proses bisnis/alur proses yang tepat, sehingga penelitian yang dilakukan terkoordinir dan terarah serta dapat dimanfaatkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat (faisal, 2020).

Optimalisasi kegiatan litbang dan Inovasi
Agenda pembangunan dirancang di dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) yang dibreakdown ke dalam agenda pembangunan setiap lima tahunan yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan dituangkan didalam agenda tahunan yaitu Rencana Kerja Pemerintah (RKP).
Tahun 2021, tema yang diusung yaitu “Mempercepat Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Sosial”.

Agenda pembangunan bidang Kesehatan dan Iptek, terdapat dalam Prioritas Nasional ketiga, yaitu Meningkatkan Sumber Daya Manusia Berkualitas dan Berdaya Saing, yang diarahkan melalui reformasi sistem kesehatan nasional dan perlindungan sosial sebagai percepatan pemulihan pembangunan pasca pandemi Covid-19 dan upaya mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.

Upaya pembangunan tahun 2021, dilanjutkan didalam RKP tahun 2022 dengan tema “Pemulihan Ekonomi dan Reformasi Struktural”. Tema tersebut bertujuan untuk pemulihan dampak Covid-19 yang berorientasi pada pembangunan ke depan dengan lebih baik. Kebijakan ini didasarkan pada evaluasi pelaksanaan pembangunan tahun 2020, kebijakan pembangunan 2021, kondisi pandemi Covid-19, dan konsistensi arahan didalam RPJMN 2020-2024.

Secara umum, ada beberapa hal yang diperlukan dalam memaksimalkan litbang dan inovasi. Pertama perlunya dana penelitian yang memadai. Peningkatan dana penelitian ini dapat bersumber dari anggaran negara, dana kerjasama industri atau masyarakat, Pemerintah Daerah, termasuk Dana Abadi penelitian.

Kedua, meningkatkan hasil inovasi untuk peningkatan ekonomi dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Hal ini dapat dilakukan dengan memaksimalkan lembaga/perusahaan yang dapat menampung dan menjual produk inovasi; Ketiga, perlu terus menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk menopang kualitas riset. Keempat, Menciptakan iklim inovasi yang baik, seperti meningkatkan kerjasama antara para peneliti/akademisi, pemeritah dan masyarakat/industri.

Harteknas

Sesuai dengan spirit adanya Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Agustus, merupakan tonggak penghargaan terhadap insan inovasi atas keberhasilannya dalam memanfaatkan, menguasai, dan mengembangkan iptek. Semangat Harteknas ini mendorong untuk terus optimis dan menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai ruh didalam mewujudkan Indonesia maju.

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here