Palestina di Tengah Krisis Ekonomi

580
Seorang wanita mengemis saat penduduk Gaza berbaris untuk menarik uang mereka dari ATM di Bank Palestina di Kota Gaza (Photo: The New York Times)

Gaza, Muslim Obsession – Puluhan warga Plaestina berbaris di ATM (Automatic Teller Machine) pusat kota Gaza. Di antaranya para pegawai pemerintah dan pensiunan.

Salah satunya ialah Muhammad Abu Shaaban. Laki-laki berusia 45 tahun tersebut dipaksa pensiun dua bulan lalu. Shaaban adalah anggota penjaga kepresidenan Otoritas Palestina.

Ia telah berdiri mengantri selama enam jam untuk menarik cek bulanan $ 285. Jumlah tersebut merupakan sebuah penurunan drastis dari gaji sebelumnya $ 1.320.

“Hidup telah menjadi sangat berbeda,” kata Abu Shaaban, dengan mata yang terlihat sayu.

Shaaban telah berhenti membayar uang kuliah anak laki-lakinya. Dia mengaku hanya mampu membeli sayuran untuk istri dan enam anak mereka. “Bukan daging,” tandasnya.

Gaji yang baru dia kumpulkan, hampir seluruhnya digunakan untuk melunasi tagihan belanja bulan lalu.

“Paling tidak, saya tidak punya sisa uang dalam lima hari,” katanya.

Di seberang Gaza, ada dua juta warga Palestina yang terjepit di antara Israel dan Mesir. Dengan kehidupan sehari-hari yang penuh perjuangan.

Krisis ekonomi tengah menyerang Palestina. Di toko kelontong, pengemis berdesak-desakan dengan pembeli kelas menengah yang dengan malu-malu berhutang.

“Kami (sebenarnya) sudah mati,” kata Zakia Abu Ajwa, laki-laki berusia 57 tahun yang menghidupi tiga cucunya.

Dilaporkan New York Times Senin (12/2/2018), penjara dipenuhi pemilik toko yang ditangkap karena hutang yang belum dibayar. Pencurian telah menjadi pembicaraan sehari-hari. Anak laki-laki yang bolos sekolah menjajakan permen atau menyeka kaca mobil demi upah.

Sebaliknya, di toko-toko terbuka, rak-raknya sebagian besar masih penuh. Sang penjaga toko hanya berjaga sambil membaca Al-Quran.

“Tidak ada pembeli, tidak ada uang,” ungkapnya.

Pejabat PBB telah memperingatkan kondisi Gaza hampir runtuh total. Di mana persediaan obat berkurang, penutupan klinik dan kegagalan listrik 12 jam mengancam rumah sakit. Air hampir seluruhnya tidak bisa diminum karena kotor. Hal ini menyebabkan siapapun dan kapanpun harus siap menghadapi wabah kolera. (Vina)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here