Pakar Kaligrafi Islam Komentari Simbol Illuminati Masjid Al-Safar

3980

Jakarta, Muslim Obsession – Pakar kaligrafi Islam Dr. KH. Didin Siroduddin AR menegaskan, arsitektur Masjid As-Safar berbentuk segitiga tak mesti diributkan. Sebab sebuah bangunan dinilai islami, menurutnya, bukan karena bentuk melainkan tujuannya.

“Bentuk triangular atau piramida hanyalah pilihan, sama dengan diagonal, oxtagonal, hexagonal. Arsitektur masjid tidak menentukan bentuk. Karena, yang membuat monumen itu dianggap ‘bangunan Islam’ bukan bentuknya, melainkan tujuannya,” tulis Din di laman Facebooknya, Ahad (2/6/2019).

Tulisan Din menanggapi isu bahwa desain masjid Al-Safar yang terletak di Rest Area KM 88 B Tol Cipularang dianggap menyerupai simbol illuminati. Masjid seluas 1.200 meter persegi itu cetak birunya dirancang khusus oleh Ridwan Kamil bersama Tim Urbane.

Isu ini viral di media sosial menyusul pernyataan salah seorang pendakwah yang menyebut masjid itu memuat bentuk segitiga seperti simbol illuminati yang menjadi ciri organisasi rahasia.

Bentuk segitiga di dalam ruangan shalat Masjid Al-Safar yang dipersoalkan.

Penidiri Lembaga Kaligrafi Al-Quran (LEMKA) ini menjelaskan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam juga tidak melarang atau menyuruh membuat bentuk tertentu. Itu artinya dihukumi “boleh” atau mubah (مباح).

Bahkan jika yang dipersoalkan adalah angka atau kata “TIGA”nya, menurut kaligrafer internasional ini, malah justru lebih tidak logis lagi.

“Hadits-hadits Nabi bahkan menyebut berkali-kali kata TIGA sebagai angka favorit. Saya sendiri mencatat lebih 20 hadits Nabi yang diawali kata ثلاث (tsalas) yang bermakna TIGA. Belum lagi kata ثلاث yang berada di tengah-tengah,” tambahnya.

Oleh karenanya, kata Pengasuh Ponpes Kaligrafi tersebut, mempertanyakan sebetulnya menghadap siapa saat shalat, menghadap Allah atau “SEGITIGA” tersebut sama dengan menuduh, meragukan atau mencurigai pelaku shalat.

Pasalnya, tidak pernah terlintas dalam pikiran muslim untuk menyembah benda apapun selain Allah, meskipun terhalang batu besar, meja, mobil, tembok atau simbol “SEGITIGA”, konsentrasi shalat pastilah hanya kepada Allah.

“Menghadap Kabah pun tidak berarti menyembah benda kubus tersebut seperti disangkakan beberapa kalangan yang tidak paham. Jadi, simbol SEGITIGA atau apapun, tidak ada urusan, tepatnya tidak akan mengganggu arah kiblat,” tandasnya.

Masjid Al-Safar tampak dari atas.

Din mengajak setiap muslim untuk memahami seni Islam, khususnya berkaitan dengan arsitektur masjid agar ibadah menjadi terasa lebih indah dan tidak mudah menyalahkan.

Menurutnya, masjid dianggap wakil paling menonjol dari arsitektur Islam yang lain seperti istana, benteng, pasar, makam, madrasah. Di dalam lingkup masjid terdapat mihrab, mimbar, kubah, menara, dikkah, kursi, sampai pintu dan jendela yang juga tidak ditentukan bentuknya.

Sebaliknya Din merasa umat Islam Indonesia justru ditantang untuk mengembangkannya atau menemukan bentuk-bentuk baru. Berbeda dengan gaya arsitektur masjid Arab, Moor, Turki, Persia atau India yang ruang tengahnya sering ditutup kubah besar lengkap dengan penyangga-penyangga sisinya.

“Masjid gaya Indonesia dominan beratap puncak piramida yang khas. Saya lihat hasil karya Kang Emil ini adalah perpaduan atau ramuan yang disesuaikan bentuknya dengan selera daerah. Lebih baik kita sambut ragam variasi hias ini, supaya kita menjadi kaya dan tambah luas wawasan,” pungkasnya. (Fath)

1 KOMENTAR

  1. Yah..umum dan lazim.. orang yg suka menuduh orang lain musryik ataupun kafir.. tapi tanpa dia sadari malah dia sendiri yang dalam menjalankan dan pemahaman keimanannya cenderung menjurus kemusryikan dan ke kafiran…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here