Pak Nas Milik Dunia, Legacy Sang Jenderal Besar

472
Jenderal Besar AH Nasution saat berdiplomasi di Jerman.

Muslim Obsession – Nama besar Pak Nas tak hanya diakui di Indonesia. Dunia, pun menempatkan sang jenderal besar ini dalam jajaran tokoh terhormat yang telah memberikan legacy atau warisan berharga. Melalui buku karyanya yang berjudul “Pokok-pokok Gerilya” (Fundamentals of Guerrilla Warfare) itulah namanya melegenda di pentas internasional.

Buku yang ditulis tahun 1953 dan didasarkan pengalaman Pak Nas saat berperang dengan taktik gerilya melawan Belanda ternyata berdampak amat luas dalam taktik militer pada negara-negara lainnya.

Konon, seorang jenderal kenamaan Vietnam, Vo Nguyen Giap menggunakan buku ini sebagai acuan untuk mengalahkan Prancis dan Amerika Serikat yang pernah bercokol di negaranya. Sejak saat itu buku ini menjadi terkenal dan banyak negara di dunia mencontek taktik perang gerilya karangan Nasution. Bahkan di West Point, Akademi Militer Amerika Serikat yang cukup terkenal, buku “Pokok-Pokok Gerilya” ini menjadi pegangan wajib bagi para taruna-taruninya dalam mempelajari peperangan intensitas rendah.

Seorang dosen Universitas Padjadjaran (Unpad), Muradi pada tahun 2012 mengaku bangga ketika berkunjung ke West Point dan mendapati fakta bahwa buku karya Pak Nas menjadi pegangan para taruna disana.

Seperti dikutip Okezone, Muradi yang ketika itu juga Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan Unpad mengatakan, “Buku Pak Nasution itu menjadi buku wajib di banyak sekolah akademi militer. Misalnya pada 2012, saya ke Amerika Serikat, saya mengunjungi akademi militer mereka, di sana mereka menggunakan buku itu,” kata Muradi, Kamis (5/10/2017).

Dikatakannya, tak hanya di Amerika Serikat. Turki dan sebagian negara Eropa juga menjadikan buku A.H. Nasution ini ke dalam kurikulum pendidikan militer mereka.

“Nah, itu jadi materi di sana. Kemudian, akademi militer Turki juga pakai. Di banyak negara di Eropa misalnya, menggunakan buku Nasution sebagai materi pembelajaran perang gerilya. Dan itu menjadi kebanggaan,” katanya.

Muradi yang telah membaca buku tersebut mengungkap sejumlah keistimewaan dari buku yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1953 itu. Menurut Muradi, A.H. Nasution memadukan pengalamannya dalam perang gerilya dengan sejumlah teori yang ia dapatkan semasa menjalani pendidikan militer dengan cara yang sangat apik.

“Banyak ya (keistimewaan). Karena ia mencampurkan antara pengalaman dengan teori yang ia dapatkan selama ia bersekolah militer Belanda waktu itu kan. Dan ia meramu itu,” tutur Muradi.

Selain itu, Muradi mengagumi bagaimana A.H. Nasution menerjemahkan dan menceritakan kembali sudut pandang Jenderal Sudirman dalam buku itu.

“Kemudian dia mendengar apa yang dilakukan oleh Sudirman. Sebenarnya praktiknya perang gerilya banyak dipraktikkan oleh Sudirman kan. Karena Pak Sudirman tidak keburu nulis, maka Pak Nasution meramu dalam bentuk tulisan. Dan itu menjadi buku ‘babon’ untuk pendidikan kontra perang gerilya. Jadi perang gerilya dan perang kontra gerilya,” paparnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here