Orang-Orang Berjenggot dalam Perjuangan Kemerdekaan

480

Cerita Sutan Sjahrir

SEKITAR tahun 1923, Haji A. Salim mulai melakukan pembersihan terhadap anasir-anasir komunis di tubuh Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Tentu saja langkah Salim itu mendapat tantangan dari koran-koran komunis seperti Soeara Rakjat dan Api. Tidak jarang kedua koran itu mengejek dan melancarkan serangan bersifat pribadi kepada Salim.

Dalam suasana seperti itu, ketika Salim menghadiri rapat umum, Sutan Sjahrir dan kawan-kawan mudanya mendatangi tempat Salim berpidato. Bukan untuk mendengarkan, tetapi untuk mengganggu.

Ketika Salim sedang berpidato, Sjahrir dan kawan-kawan secara bersama-sama berteriak: “Mbeek…. Mbeek…”

Salim yang berjanggut segera menghentikan pidatonya dan berbicara kepada para “pengembik”.

“Tunggu sebentar,” kata Salim. “Saya senang, para kambing pun tertarik mengikuti pidato saya. Sayang mereka kurang mengerti bahasa manusia, sehingga menyela tidak pada tempatnya. Sekarang saya persilakan kambing-kambing itu untuk keluar ruangan, untuk merumput dulu. Sesudah ini, saya segera akan menyampaikan pidato khusus untuk para kambing dengan bahasa yang mereka pahami.”

Merah padam wajah Sjahrir dan kawan-kawan menahan malu, tetapi mereka tetap di dalam ruangan, mendengarkan kelanjutan pidato Salim tanpa berani lagi mengganggu.

Kendatipun Sjahrir dan kawan-kawan tidak dapat diyakinkan oleh pidato Salim, tetapi makin lama mereka makin tertarik mendengarkan pidato Salim.

Siapa suruh mengganggu lelaki berjanggut?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here