Orang-Orang Berjenggot dalam Perjuangan Kemerdekaan

480
Haji Agus Salim.

Janggut di Antara Para Pemimpin Kita

OLEH karena janggut telah hadir baik di dalam cerita maupun dalam kehidupan nyata, masyarakat pun tidak pernah memperdebatkan, apalagi seraya menarik urat leher, perkara janggut.

Mau berjanggut silakan. Tidak berjanggut pun tidak apa-apa. Yang tidak berjanggut, mungkin saja lantaran rambut di bawah bibirnya cuma tumbuh satu-dua.

Janggut yang cuma tumbuh satu-dua, alangkah astaga tidak menariknya jika dibiarkan tumbuh. Mencukurnya adalah pilihan cerdas.

Boleh jadi juga, seseorang ingin memelihara janggut, akan tetapi lantaran istri atau pacarnya tidak suka janggut, maka demi keserasian hidup sang lelaki memilih untuk berklimis ria.

Di kalangan para pemimpin pendahulu kita, janggut juga tidak pernah dipersoalkan benar. Siapa suka boleh berjanggut, siapa tidak suka boleh mencukur habis janggutnya.

Pendiri Persyarikatan Muhammadiyah, K.H.A. Dahlan (1868-1923) berjanggut. Demikian juga pendiri Nahdlatul Ulama, K.H.M. Hasjim Asj’ari (1871-1947).

Tidak pernah kita membaca riwayat pemerintah kolonial Belanda memerintahkan Kiai Dahlan dan atau Mbah Hasjim supaya mencukur janggutnya.

Tidak pernah juga kita mendapat cerita Hadratus Syaikh Hasjim Asj’ari dipaksa oleh balatentara pendudukan Jepang untuk membabat beliau punya janggut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here