Oetari Tjokroaminoto Istri Pertama Soekarno

280

Muslim Obsession – Siti Oetari Tjokroaminoto, siapakah beliau? Mungkin belum banyak yang tahu bahwa putri sulung Haji Oemar Said Tjokroaminoto ini adalah istri pertama Soekarno. Presiden RI pertama ini memang diketahui memiliki sembilan istri. Tapi mungkin tak banyak yang tahu sosok istri pertama dan kisah romansa beliau yang dimulai saat masih remaja.

Dikisahkan awal perkenalan Soekarno dengan Oetari bermula ketika Soekarno masih berguru serta tinggal di rumah kos milik Tjokroaminoto yang berlokasi di Gang 7 Paneleh, Surabaya. Saat itu usia Soekarno masih 20 tahun dan Oetari 16 tahun. Di usia yang masih belia tersebut, Soekarno sudah memperlihatkan ketertarikannya pada Oetari.

Dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang disusun Cindy Adams, Bung Karno bercerita dia menikahi Oetari saat gadis tersebut masih 16 tahun pada 1921 di Surabaya.

Waktu itu, Soekarno ngekos di rumah HOS Tjokroaminoto, yakni ketika sedang menempuh pendidikan di sekolah lanjutan atas. Tjokroaminoto juga merupakan guru politik pertama Soekarno.

Bung Karno mengatakan pernikahan dengan Oetari dilakukan karena rasa hormatnya kepada Tjokroaminoto. Selepas istrinya meninggal, Tjokroaminoto merasa cemas karena Oetari belum menemukan jodoh.

Atas usulan adik Tjokroaminoto, Soekarno diminta menikahi Oetari. Jika dipenuhi, usul itu dianggap mampu meringankan Tjokroaminoto. Permintaan menikah dengan Oetari pun diterima.

Baca Juga:

Tjokroaminoto, Melahirkan Pemimpin-Pemimpin Besar

Soekarno berharap pernikahannya dengan Oetari dapat meringankan beban Tjokroaminoto yang ia anggap sebagai guru dan orangtua.

“Aku berutang budi pada Pak Tjokro. Dan aku mencintai Oetari, walau hanya sedikit. Bagaimana pun, bila aku perlu menikahi Oetari guna meringankan beban orang yang aku puja, itu akan kulakukan,” ucap Soekarno dalam buku tersebut.

Beberapa saat sesudah menikah, Bung Karno meninggalkan Surabaya, pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi di THS (sekarang ITB). Namun, selama menyandang status suami dan istri, hubungan Soekarno dan Oetari tidak terjalin seperti layaknya suami dan istri.

Soekarno justru lebih banyak menghabiskan waktu dengan aktivitas politiknya, termasuk mengikuti ayah mertuanya, Tjokroaminoto. Soekarno menganggap Oetari masih terlalu muda.

“Kami masing-masing berjalan sendiri-sendiri. Dia masih hijau sekali. Sifat pemalunya terlalu berlebihan. Kami tidur berdampingan, tapi secara jasmaniah kami sebatas kakak dan adik,” ucap Soekarno.

Merasa hubungannya dengan Oetari tidak semakin baik dan mesra, Soekarno kemudian menceraikan Oetari secara baik-baik. Dalam pengakuan kepada Cindy Adams, Soekarno menceraikan istrinya itu dalam kondisi perawan. Soekarno pun bercerita, dia langsung mengantarkan Oetari kembali ke ayahnya.

Kendati merasa berat dengan perceraian tersebut, keluarga Tjokroaminoto dapat menerimanya. Soekarno mengatakan, Tjokro tetap dapat menerima keputusan tersebut.

“Di tahun 1922, aku menyerahkan istriku yang masih anak-anak itu kepada ayahnya,” kata Soekarno.

Tak lama setelah bercerai, Soekarno menikahi Inggit Ganarsih, perempuan yang usianya lebih tua 13 tahun dari dirinya. Oetari, lalu disebut Soekarno, juga telah menikah dengan seorang pria bernama Bachrun Salam, pria yang disebut oleh Soekarno sebagai teman kosnya di rumah Tjokroaminoto.

Dari pernikahan dengan Bachrun Salam, Oetari mempunyai delapan anak. Soekarno pun menyebut hubungannya dengan Oetari tetap baik.

“Rumah tangga mereka tetap rukun, jadi tidak ada yang terluka pada pihak mana pun,” tandas Soekarno. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here