Nyai Khoiriyah, Pejuang Emansipasi Perempuan di Kalangan Pesantren

104
Nyai Khoiriyah (Foto: Istimewa)

Muslim Obsession – Pesantren Tebuireng sebagai salah satu lembaga pendidikan keagamaan memiliki beberapa tokoh besar. Di antaranya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari yang juga merupakan pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan KH. Wahid Hasyim.

Dari kalangan perempuan juga tak kalah hebatnya dan layak dijadikan inspirasi, yakni Nyai Khoiriyah Hasyim.

Beliau adalah sosok ulama perempuan yang menjadi inspirasi dan teladan sampai sekarang, khususnya bagi kalangan santriwati. Nyai Khoriyah membuktikan bahwa menjadi manusia pintar, berkarakter dan berkepribadian mulia membutuhkan proses yang tidak instan.

Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim dilahirkan pada tahun 1908 M (1326 H) di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Beliau adalah puteri pertama dari Hadratus Syaikh KH. M Hasyim Asy’ari dan Nyai Hj. Nafiqoh. Dengan demikian, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim adalah kakak kandung dari KH. A. Wahid Hasyim, Menteri Agama RI pertama.

Setelah menikah dengan KH. Ma’shum ‘Ali, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim kemudian diutus Hadratus Syaikh KH. M. Hasyim Asy’ari untuk mendirikan pesantren di Seblak yang khusus mendidik santri puteri. Bersama suami, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim merintis pendirian pesantren tersebut. Namun, beberapa tahun setelah Pesantren Puteri Seblak berdiri, KH. Ma’shum ‘Ali meninggal dunia pada tahun 1933 dan dimakamkan di kompleks pemakaman Pesantren Tebuireng.

Tidak begitu lama menjadi janda, Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim menikah lagi dengan KH. Muhaimin dari Lasem, Jawa Tengah, dan kemudian bermukim di Makkah selama kurang lebih 20 tahun. Pada periode ini, di samping masih menuntut ilmu kepada beberapa guru besar (syaikh), Nyai Hj. Khoiriyah Hasyim juga mendirikan Madrasah Lil Banat, yaitu sebuah madrasah pertama di Arab Saudi yang dikhususkan bagi kaum perempuan. Bangunan madrasah ini berdiri tidak jauh dari Kompleks Masjidil Haram yang terkenal itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here