Nyai Ahmad Dahlan Berkuda Ratusan Kilometer untuk Berdakwah

991

Terlebih waktu itu Nyai Ahmad Dahlan sudah terlihat renta karena memang sudah berumur, dan sebagai seorang perempuan yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah formal. Pidato yang disampaikan oleh Nyai Ahmad Dahlan berhasil membius dan memukau banyak pihak.

Aktivitas Nyai Ahmad Dahlan lebih padat setelah ‘Aisyiyah yang sebelumnya sebagai bidang di Muhammadiyah, kemudian pada 1927 telah menjadi Majelis (Hoofbestuur ‘Aisyiyah). Beliau sering diundang menghadiri acara-acara di luar Yogyakarta. Diantaranya adalah di Boyolali, Solo, Kutoharjo, Kudus, Semarang, Pekalongan, Pekajangan, Surabaya, Pasuruan, Malang, Kepanjen, Ponorogo, Madiun dan lain-lain.

Nyai Ahmad Dahlan juga sebagai tempat tujuan para pejuang kemerdekaan sebelum turun aksi, seperti Jendral Besar Sudirman, Presiden Soekarno, dan Bung Tomo tercatat pernah ‘Sowan’ ke kediaman Nyai Walidah. Mereka datang untuk meminta nasehat dan meminta do’a restu atas perjuangan yang mereka lakukan.

Dalam buku terbitan Kementrian Peneragan yang berjudul Lukisan Revolusi Rakjat Indonesia 1945-1949, nama Nyai Ahmad Dahlan disejajarkan dengan H Agus Salim, R Dewi Sartika, MH Tamrin, KH Mas Mansur dan tokoh-tokoh pelopor pergerakan Indonesia lainnya.

Nyai Ahmad Dahlan pada 31 Mei 1946 jam 13.00 wib di kediamannya, Kauman, Yogyakarta, menghembuskan nafas terakhirnya. Hal tersebut menjadi kabar haru bukan hanya kepada keluarga besar Muhammadiyah, tetapi juga bagi rakyat Indonesia.

Beliau dimakamkan pada sore hari pukul 17.00 di Pemakaman Kauman belakang Masjid Gedhe Kauman, setelah disholatkan di Masjid Gedhe Kauman. (Vina)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here