Nyai Ahmad Dahlan Berkuda Ratusan Kilometer untuk Berdakwah

991

Namun ancaman tersebut tidak berhasil ‘menciutkan’ nyali KH Dahlan dan Nyai Dahlan, keduanya tetap meneruskan perjalanan untuk berdakwah di Banyuwangi.

Nyai Dahlan turut serta dalam perjalanan tersebut selain untuk mendampingi dan menyiapkan keperluan Kiai, juga sebagai motivator yang membesarkan hati Kiai dalam menghadapi setiap rintangan dan ujian yang dilaluinya.

Nyai Ahmad Dahlan banyak memegang peran penting, terlebih sepeninggal sang suami. Catatan menarik lainnya adalah ketika Nyai Dahlan berorasi di depan hadirin dalam Kongres (Muktamar) Muhammadiyah ke 15 di Surabaya tahun 1926, tiga tahun pasca meninggalnya KH Ahmad Dahlan.

Baca juga: Perjuangan dan Kesetiaan Nyai Ahmad Dahlan

“Betapa mentertjengang-tjengankan orang banjak jang menghadiri Kongres (Mu’tamar) Muhammadijah ke 15 di Surabaja, kota kebangsaan Indonesia pada tahun 1926 dengan nampaknja seorang wanita jang sudah setengah tua, dapat memimpin Kongres itu” (Dikutip dari catatan Yunus Anis tahun 1968).

Pidato tersebut mendapat banyak apresiasi, surat kabar Pewarta Surabaja dan Surat kabar Sin Tit Po, Harian T.H (Cina) pada waktu itu memuat pidato Nyai Dahlan.

Mereka menuliskan, ‘Aisyiyah sebagai organisasi perempuan yang luar biasa, mereka juga menuliskan agar organisasi perempuan lain untuk mencontoh ‘Aisyiyah yang berhasil meroketkan tokoh sebesar Nyai Dahlan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here