Nursiah Jalani Hari Senja Seorang Diri di Pengungsian

391

Sigi, Muslim Obsession – Pilu belum benar-benar meninggalkan Palu. Sebagaimana ketika Tim Pendampingan Psikososial dan Medis Posko ACT Wilayah Sigi mengunjungi kamp pengungsian Dusun 1, Desa Sibera, Kecamatan Biromaru, Kabupaten Sigi beberapa hari lalu.

Kisah pilu itu datang dari seorang nenek berusia 90 tahun bernama Nursiah. Di antara 38 kamp dengan jumlah 130 pengungsi, Nursiah tinggal seorang diri di salah satu kamp tersebut.

Awalnya tim mendengar kisah Nursiah dari salah seorang perangkat desa bernama Muhammad Azir. Dia juga lah yang mempertemukan dan membantu tim bercakap-cakap dengan Nursiah.
Sampai di tenda milik Nursiah, tidak banyak isi yang terlihat.

Hanya sebuah kasur tipis, selimut, bantal, dan beberapa helai pakaian ganti yang tersusun rapi. Di dekat pintu masuk, bersandar sebatang tongkat kayu menantang rayap.

Tatapan Nursiah tampak tidak fokus, menyiratkan bahwa dirinya juga menderita kerabunan tingkat tinggi.

Menurut cerita Nursiah, rasa pilu kerap ia rasakan sejak usia dini. Ketika usianya masih 40 hari, Nursiah kehilangan kedua orang tuanya yang meninggal dunia.

Di usia senja pun, Nursiah juga harus kehilangan satu dari dua anaknya. Anak tertuanya juga telah mendahuluinya menghadap sang Ilahi.

“Jadi tinggal satu anak, dia hidup bersama saya dan masih bujang, namanya Amuli,” ujar Nursiah mengawali kisahnya.

Sebelum bencana melanda sebagian besar kota dan kabupaten di Sulawesi Tengah, Nursiah tinggal di sebuah rumah panggung bersama anaknya, Amuli.

Hidup mereka dalam lingkaran kemiskinan. Bahkan Nursiah mengaku, dua hari sebelum bencana dia hanya bisa memakan rebusan pisang lantaran tidak memiliki beras sama sekali.

Nursiah hadapi gempa seorang diri
Detik-detik gempa datang mengguncang, Nursiah tengah berada di dalam rumah bersama anaknya.

Sayangnya sang anak meninggalkan Nursiah seorang diri, dia berlari tanpa memperdulikan ibunya. Nursiah pun berusaha menyelamatkan diri dengan kemampuan seadanya, namun keterbatasan tenaga membuat ia terjatuh di depan pintu.

Kala itu, kata Nursiah, dirinya melihat tanah-tanah tampak terbelah, Nursiah pun hanya bisa menangis. Hingga pertolongan datang dari seorang warga yang melihat Nursiah dan berbaik hati menggendongnya berlari ke Desa Pombowe. Di sana Nursiah dan ratusan warga lainnya memilih bermalam.

Keesokan harinya, isu air pasang membuat warga semakin ketakutan, Nursiah kembali dibawa ke daerah dataran tinggi. Hingga saat suasana mulai kondusif, Nursiah dibawa balik ke pos pengungsian di Desa Pombowe. Situasi pun tidak terlalu baik bagi Nursiah. Dirinya mengaku sama sekali tidak menyentuh air untuk mandi selama 4 hari.

Akhirnya salah satu kerabat Nursiah menjemput dan membawanya pindah pengungsian ke Desa Sibera.

“Setelah di sini baru saya dikasih mandi, saya dapat sikat dan sabun dari mereka (warga). Tapi saya mandi tidak mau lagi di dalam rumah, trauma. Jadi sekarang ditimbakan dulu air baru dikasih mandi di luar,” paparnya dengan nada khas Sulawesi.

Lantas bagaimana kabar anaknya?

Satu bulan lamanya pasca gempa melanda, Nursiah tidak berjumpa lagi dengan Amuli, anaknya. Meninggal atau tidak, Nursiah pun mengaku tidak yakin.

Hingga beberapa warga mengabarkan telah berjumpa dengan Amuli, lalu memberitahukan keberadaan Nursiah. Namun, Amuli tidak memberikan respon, ia hanya mengiyakan tanpa menjenguk Nursiah sama sekali.

“Kalaupun saya rindu, dia tidak mau bertemu mamaknya. Sabar saja, bersyukur dia masih hidup,” jawab Nursiah dengan bibir yang bergetar dan mata berkaca-kaca.

Kini Nursiah sebatang kara di tenda pengungsian. Apabila pulang pun sudah tidak bisa karena rumahnya telah rata dengan tanah. Juga tidak ada barang yang bisa diambil lagi dari rumahnya, termasuk benda seperti belanga yang sudah penyok.

Kisah Nursiah membuat tim tidak banyak bicara menjelang kepulangan mereka. Sebab, wajah seorang ibu yang kini tengah jauh, juga air mata seorang ibu yang kerap jatuh di malam-malam penuh doa, terus bergelayutan di pikiran mereka. Tim hanya bisa berharap semoga Nursiah mendapat kekuatan yang besar dari Allah untuk menjalani hari-hari selanjutnya.

(Vinasumber: siaran pers ACT)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here