“Noh, Kuburan. Kapokmu Kapan?”

464

Muslim Obsession – Hari ini banyak yang mengabarkan, postingan saya soal Mark Westlife kemarin katanya rame juga di grup Whatsapp. Banyak yang share tanpa nulis sumber. Gak masalah sih bagi saya, yang penting pesannya sudah sampai, alhamdulillah.

Saya malah bersyukur, karena di akun sendiri postingan itu gak sampe satu jam sudah kena sleding, dianggap gak sesuai standar komunitas. Entah komunitas gimana maksudnya. Baperan juga nih adminnya. Wkwk..

Baiklah..

Kita tinggalkan si Mark. Kali ini saya mau cerita sedikit tentang teman sekolah saya dengan perubahan orientasi mirip kasus si Mark. Fotonya sengaja saya mozaik untuk menjaga privacy. Bagi yang mengikuti akun saya sejak lama, pasti tau, karena sudah sering saya bahas.

Kami bersahabat sejak SMA. Dulu dia laki abis. Tapi pas tamat SMA, tiba-tiba abis lakinya.

Ya, dia memutuskan mengubah diri dan bergabung bersama kaum ‘tulang lunak’. Sorry, gak nemu perumpamaan kata yang lebih pas yang kira-kira gak terdeteksi oleh algoritma fesbuk yang sensi.

Kami teman-temannya sempat dibuat kaget atas keputusannya, mengingat dulu dia jago manjat pohon kelapa. Entah karena pengaruh pergaulan atau karena kerja di salon kecantikan, wallahu a’lam.

Tapi bagaiamanapun namanya teman, kami tetap menerimanya. Sepuluh tahun lalu saya bahkan percayakan dia menjadi “indobotting” saat saya menikah, dengan job desk mendekorasi tempat pelaminan.

Dia kami rangkul, terus kami support hingga berkarir jadi penyanyi organ tunggal, kami cuma tertawa-tawa saat dia lenggak-lenggok. Dia memang playmaker, penghibur di grup WA sekolah.

Belakangan kami sadari, di situlah letak kesalahan kami. Harusnya kami lebih keras padanya jika memang peduli, meskipun pada dasarnya orangnya memang susah dinasehati.

Beberapa bulan yang lalu dia akhirnya jatuh sakit. Tubuhnya ringkih, seperti puluhan tahun lebih tua dari usianya. Katanya komplikasi, ada yang bilang sakit paru-paru, ada yang ngomong TBC, entahlah.

Pada teman-teman yang menjenguk dia hanya berjanji jika sembuh nanti akan memulai hidup baru, hidup normal dengan kodrat pria, dan rutin shalat berjamaah.

Siang tadi qadarullah kami akhirnya shalat berjamaah di rumahnya seperti yang ia harapkan. Dia di depan shaf, tapi sayangnya bukan sebagai imam, melainkan sebagai jenazah. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.

Subuh sebelumnya dia meregang nyawa sendirian di dalam kamar, dengan posisi tertelungkup di lantai tanpa ada yang melihat. Kondisinya saat ini tinggal bersama kakaknya. Kedua orangtuanya sudah lama berpulang duluan.

Simpang siur penyakitnya terjawab. Kerabat mengaku, ia positif HIV. Gak ada yang perlu disembunyikan, biar jadi pelajaran.

Tapi mereka memberi udzur, katanya saat sakit dia mulai membakar satu persatu gaun-gaunnya, kostum panggung, hingga koleksi high heels.

Kita gak tau apa yang kemudian terjadi dan apa yang sudah dia lalui, bisa saja dia sudah insyaf sebelum nyawa sampai kerongkongan. Wallahu a’lam. Semoga saja Allah mengampuni dosa-dosanya.

Di pemakaman tadi lebih dari setengah pelayat adalah kaum dengan orientasi sepertinya. Dengan bulu mata palsu dan celana ketat yang nyemplak menonjolkan eksistensi dikotil. Ada yang matanya sembab, tapi ada juga yang ngobrol sembari cekikian manja.

Seorang di antaranya mengenal dan menyapa saya. Saya hanya balas dengan senyuman, walau sebenarnya sempat terbersit hasrat ingin merangkul, lalu berbisik perlahan di kupingnya: “Noh, kuburan. Kapokmu kapan?”

 

(Sumber: Akun Facebook Arham Rasyid tanpa judul)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here