Ngeri! Korban Tewas dalam Kerusuhan Myanmar Sudah 700 Orang

61

Yangon, Muslim Obsession – Jumlah korban kebrutalan junta militer Myanmar terhadap warga sipil yang menolak kudeta terus bertambah. Terakhir korban kerusahan kudeta Myanmar sudah mencapai lebih dari 700 orang.

Myanmar saat ini tengah dalam krisis sejak militer menggulingkan pemimpin sipil Aung San Suu Kyi pada 1 Februari lalu.

Mahasiswa dan rakyat Myanmar turun ke jalan menentang aksi kudeta yang dilakukan oleh junta. Telah terjadi pertumpahan darah dalam beberapa hari terakhir.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik telah memverifikasi 701 kematian warga sipil sejak kudeta tersebut. Sedangkan, Junta melaporkan jumlah yang jauh lebih rendah yakni 248 orang, menurut juru bicara militer.

Pada Ahad, 11 April 2021, dilaporkan seorang penjaga keamanan terluka dalam ledakan bom di luar bank Myawaddy milik militer, menurut media lokal seperti dilansir dari Channel News Asia, Senin (12/4).

Bank tersebut adalah salah satu dari sejumlah bisnis militer yang menghadapi tekanan boikot sejak kudeta dilakukan. Banyak pelanggan menuntut menarik tabungan mereka.

Kelompok pemantau lokal mengatakan pasukan keamanan menembak mati dan menewaskan 82 pengunjuk rasa anti-kudeta pada hari sebelumnya di kota Bago, 65 km timur laut Yangon.

Rekaman yang diverifikasi AFP pada Jumat pagi menunjukkan pengunjuk rasa bersembunyi di balik barikade karung pasir dengan senapan rakitan, ketika ledakan terdengar.

Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa di Myanmar men-tweet, Sabtu malam, bahwa mereka mengikuti pertumpahan darah di Bago, dan bahwa tidak ada perawatan medis untuk yang terluka.

Meskipun terjadi pertumpahan darah, pengunjuk rasa terus melakukan unjuk rasa di beberapa bagian negara. Mahasiswa universitas dan profesor turun ke jalan-jalan di Mandalay dan kota Meiktila, Minggu pagi. Beberapa membawa tangkai bunga Eugenia, simbol kemenangan.

Di Yangon, pengunjuk rasa membawa spanduk yang bertuliskan: “Kami akan mendapatkan kemenangan, kami akan menang.”

Para pengunjuk rasa di sana, serta di kota Monywa, menulis pesan politik di daun, “kita harus menang”, dan menyerukan intervensi PBB untuk mencegah pertumpahan darah lebih lanjut.

Di seluruh negeri, masyarakat diminta untuk berpartisipasi dalam penyalaan obor di lingkungan mereka setelah matahari terbenam pada Ahad malam.

Sementara itu, kantor berita Myanmar, melaporkan 19 orang telah dijatuhi hukuman mati atas pembunuhan dan perampokan oleh pengadilan militer. Sebanyak 17 dari mereka diadili secara in absensia. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here