Ngaji Online Bagaimana Sanadnya? Berikut Penjelasan Gus Baha

81

Jakarta, Muslim Obsession – Di era kemajuan teknologi informasi yang begitu cepat, saat ini orang sangat mudah mendapat konten informasi yang beragam. Semua bisa diakses dengan mudah dan cepat, karenanya sekarang banyak orang memanfaatkan teknologi informasi untuk kepentingan dakwah.

Masyarakat dengan mudahnya mendengarkan konten-konten dakwah dari ulama-ulama besar negeri ini. Mereka bahkan bisa menyaksikan ngaji bareng secara live melalui sistem virtual atau daring. Tanpa bertatap muka, ngaji bareng, dialog atau diskusi bisa tetap terlaksana.

Namun ada yang mengatakan bagaimana jika ada yang orang setiap hari ngaji online tanpa pernah bertemu langsung, apakah sanadnya bisa nyambung? Ulama kharismatik, KH Bahauddin Nursalim atau Gus Baha menyatakan tidak masalah.

Baca juga: Gus Baha: Vatikan Selalu Iri dengan Ibadah Haji

Hukum ngaji online secara sanad kata Gus Baha tidak masalah, karena menurutnya, kebenaran yang bersifat umum tidak memerlukan sanad.Hal itu ia katakan ketika berbicara dalam peringatan Tahun Baru Hijriah di Universitas Islam Sultan Agung Semarang, belum lama ini.

Hampir rata-rata sekarang menikmati konten dakwah di media sosial, Youtube, Facebook, dan Instagram. Termasuk pengajian Gus Baha yang hampir ada di semua konten media sosial. Jumlah peminatnya sangat tinggi. Jutaan.

Mengenai hal itu, Gus Baha menjelaskan bahwa tidak masalah untuk ngaji secara virtual. “Kebaikan itu pasti sudah benar. Jadi mau ketemu langsung maupun tidak secara sanad itu sudah cukup,” kata Gus Baha, seperti dikutip dari kanal YouTube Ngaji Online, Jumat (2/10).

Baca juga: Gus Baha: Indonesia Milik Bersama, Bukan Cuma PDI-P

Namun kata Gus Baha tidak bisa memuaskan semua netizen. Terkadang ada persoalan krusial yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan ngaji online. Ini karena persoalannya rumit, butuh pemikiran dan diskusi yang mendalam.

“Nah, itu yang harus ketemu langsung,” imbuhnya. Tapi kalau yang kebenaran-kebenaran umum itu tidak perlu karena kebenaran itu bahasa lainnya al-ma’ruf, sesuatu yang mudah dikenali oleh akal, oleh nurani, oleh komunitas, oleh sistem sosial,” tutur Gus Baha.

“Sementara mungkar itu sesuatu yang aneh. Andaikan tidak ada agama pun, orang akan bilang, selingkuh itu mungkar.”

Oleh karena itu, Gus Baha melanjutkan, kebaikan-kebaikan seperti itu tidak membutuhkan sanad karena setiap orang pasti sudah tahu.

Baca juga: Gus Baha: Ada Adzab yang Lebih Mengerikan daripada Neraka

“Kan nggak mungkin kalau orang waras bilang, ‘ini ada minuman, kalau kamu minum hilang kesadaran. Minuman ini halal,'” Gus Baha mencontohkan.

“Itu aneh nggak? Aneh, kan?”

Kemudian ada kebenaran-kebenaran yang butuh detail. Gus Baha menocotohkan tentang wali nikah.

“Wali nikah itu bapaknya dan mbahnya, misalnya,” kata Gus Baha.

“Nah, kalimat ‘dan mbahnya’ ini salah kalau dalam fiih Islam, karena mbah dalam bahasa Jawa itu bisa mbah dari ibu. Sementara, otoritas dalam Islam tidak memberikan hak ke mbah dari ibu.”

Lebih lanjut Gus Baha menjelaskan bahwa wali adalah kakek dari pihak ayah, bukan sekadar mbah. Untuk hal-hal yang membutuhkan penjelasan lebih rinci, Gus Baha menyarankan untuk tidak mengambil kesimpulan dari pernyataan ulama secara terburu-buru. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here