Natsir adalah Sejarah Besar, Teladan Ideal

757
Lukman Hakiem Parmusi OK
Lukman Hakiem saat menjadi pemateri dalam Seminar Mosi Integral Mohammad Natsir di Aula Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Hal menarik lainnya adalah buku ini memberikan tempat kepada intelektual muda muslim seperti Beggy Rizkiyansyah, pegiat Jejak Islam untuk bangsa untuk memberikan testimoni. Tentu bukan hanya karena baiknya si penulis semata tapi karena Beggy memang layak untuk masuk menjadi bagian dari sejarah buku ini.

Tampak jelas betapa salah satu dari jiwa yang menonjol dari penulisan buku ini adalah semacam yang diistilahkan Natsir “timbang terima dakwah”. Seolah seruan “Anak muda lanjutkan kerja-kerja dakwah seperti ini!”

Natsir adalah sejarah besar. Berbicara tentang Natsir adalah bicara bangsa. Membaca bangsa tanpa membaca Natsir merupakan sebentuk pengkhianatan kepada sejarah itu sendiri. Jujur terhadap sejarah bukan hanya berdamai dengan sejarah tapi juga berdamai dengan kehormatan diri.

Sama halnya dengan harus jujur mengakui bahwa salah seorang guru Natsir yang sangat mempengaruhi pemikirannya adalah A. Hassan. Natsir sendiri yang mengakuinya. Pernah dulu sekali ada kesan dan upaya yang mencoba menihilkan fakta ini. Bahwa Natsir hanya milik Dewan Dakwah tak terkait dengan tokoh dan ormas mana pun.

Tentu saja pemikiran kerdil ini menggelikan. Membonsai Natsir yang besar menjadi Natsir yang hanya pernah mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia semata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here