Nasihat Quraish Shihab: Jodoh Itu Dijemput Jangan Ditunggu

95
Prof. Quraish Shihab dan Najwa Shihab dalam Shihab & Shihab.

Jakarta, Muslim Obsession – Profesor HM Quraish Shihab kembali membahas persoalan jodoh. Meskipun jodoh itu takdir, tapi manusia punya kewajiban untuk mencarinya, bukan hanya diam menunggu atau bersikap pasif.

Prof. Quraish mengibaratkan individu yang mencari jalan keluar dalam sebuah ruangan labirin. Jika yang dicari tak kunjung ketemu, maka mau tak mau individu itu harus mencari ke bagian lain sampai yang ia tuju ketemu.

“Jadi, jangan menunggu jodoh. Tapi jemputlah. Itu penting,” kata Pendiri Pusat Studi Al Qur’an (PSQ) dalam YouTube Najwa Shihab belum lama ini.

Dalam hal ini, profesor yang pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini mengingatkan kalau jodoh tetap harus dijemput dengan ikhtiar lantaran keberadaannya sudah Allah swt siapkan.

“Namun, jika masih didapati kesulitan dalam menemukannya, ada tiga hal yang perlu dipersiapkan untuk menjemputnya,” ujar Prof Quraish.

“Pertama, penampilan yang menarik dan berwibawa. Tidak hanya sebatas wajah, karena ada yang menarik, tapi tidak berwibawa. Ada (juga) yang biasa saja, tapi menarik karena ia bersahaja, egaliter, dan murah senyum,” terangnya.

Kedua, lanjut dia, memiliki keilmuan yang mapan. Menurut Prof Quraish, ini sebuah keniscayaan dan tak bisa ditawar. Ilmu harus tetap mengalir dan otak harus terus diisi untuk bisa sampai ke hati.

“Itu sudah Allah tuangkan dalam firman-Nya. Ada banyak orang diangkat derajatnya karena ilmunya tinggi. Dalam konteks ini, ilmu adalah salah satu penarik (jodoh) itu,” terang alumni Pesantren Darul Hadis al-Faqihiyah Malang, Jawa Timur, ini.

Ketiga, ekonomi yang mapan. Prof Quraish menjelaskan bahwa selain kesiapan lahir dan batin, faktor ekonomi juga harus benar-benar disadari dan diperhatikan dengan betul. Karena tidak sedikit perceraian yang akar masalahnya timbul dari faktor tersebut.

Menurut pengarang Tafsir Al-Misbah ini, jodoh dapat diketahui sudah dekat jika hati bergetar. Misalnya, jika melihat seorang perempuan/laki-laki, akal dan hati sama-sama bekerja. Tetapi, kadang kala akal mempunyai pertimbangan berbeda dengan hati.

Karenanya, lanjut Prof Quraish, jika sudah menemukan pilihan yang sesuai dengan hati tidak perlu lagi menanyakan itu kepada akal.

“Tanyalah kepada hati Anda. Jika hati bergerak, ketika itu carikan pembenaran untuk akal Anda. Apalagi pernikahan diharapkan ada sakinah, mawaddah, dan rahmah yang semua itu berkaitan dengan hati,” ungkapnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here