Nahdlatoel Oelama Diterjang Hoax

208
Logo Nahdlatul Ulama (NU)

Oleh: Lukman Hakiem (Peminat Sejarah)

HOAX, kabar bohong, desas-desus, gosip, dan yang sejenisnya ternyata bukan barang baru. Dia sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Pada tahun 1938, Nahdlatul Oelama (NO, sekarang Nahdlatul Ulama, NU) diterjang berita yang menggemparkan kaum Nahdhiyyin. Bagaimana tidak menggemparkan jika menurut kabar yang tersiar itu, Rois Besar NU Hadratusy Syaikh K. H. Muhammad Hasjim Asj’ari keluar dari kepengurusan NU.

 

Surat H. Hasboellah

Seorang Nahdhiyyin dari Jatiragas, Cikampek, (sekarang masuk wilayah kabupaten Karawang, Jawa Barat), H. Hasboellah, yang mendengar kabar itu, pada tanggal 11 Agustus 1938 berkirim surat kepada Hadratusy Syaikh yang dia sebut Tuan Guru, menanyakan kebenaran berita tersebut.

Bunyi lengkap surat H. Hasboellah tersebut sebagai berikut:

“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

“Kepada Tuan Guru yang sangat alim yang terhormat di Tebuireng, Jombang.

“Hamba menyurat ini tiada ada keperluan, melainkan salam ta’zim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh kepada Tuan Guru, dan hamba minta tolong kepada Tuan Guru, yaitu minta dikirim surat, khabar dari Tuan Guru, apakah betul Tuan Guru sudah keluar dari kepresidenan Nahdlatul Ulama atau tidak. Hamba sangat menunggu khabar dari Tuan Guru, sebab sudah ada beberapa orang menceritakan Tuan Guru sudah keluar.

“Hamba yang sangat menunggu khabar dari Tuan Guru.

“H. Hasboellah, Jatiragas, Cikampek.”

 

Jawaban Hasjim Asj’ari

Segera sesudah menerima surat dari H. Hasboellah, K. H. M. Hasjim Asj’ari, membalas ringkas dan jelas.

Berikut ini surat balasan Hadratusy Syaikh, selengkapnya.

“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

“Kepada Tuan H. Hasboellah yang bertempat di Jatiragas, Cikampek.

“Membalas surat yang tertulis pada tanggal 11/8/’38, bahwa khabar yang menerangkan keluar saya dari Jam’iyah Nahdhatul Ulama itu tiada betul, karena saya tiada pernah menceritakan hal sebagai khabar yang terjadi itu, maka dari itu jangan ragu-ragu lagi bahwa diri saya masih tetap dalam kalangan Jam’iyah Nahdhatul Ulama.

“Dan agar supaya menjadi tahu Tuan adanya.

“Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

“Alfaqir ilaihi ta’ala.

Mochammad Hasjim Asj’ari.

“Khadimu Jam’iyati Nahdhatul Ulama wa thalabatil ‘ilmi bi Tebuireng.”

 

Penjelasan Berita Nahdlatoel Oelama

Kedua surat itu dimuat di bawah judul “Soerat Terboeka” dalam majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) Nomor 22 Tahun ke-7, 20 Rejeb 1357/15 September 1938, halaman 8.

Tidak berhenti sekadar memuat kedua surat itu, BNO juga memberi penjelasan mengenai mengapa muncul sangkaan mengenai mundurnya Hadratusy Syaikh dari NU. Menurut BNO, sangkaan itu boleh jadi timbul karena salah paham tentang organisasi Nahdlatul Ulama.

BNO menjelaskan bahwa perhimpunan NU adalah perhimpunan Islam, untuk Islam, dan dalam Islam. Maka pengemudinya harus orang-orang yang sungguh-sungguh paham dan alim tentang seluk-beluknya Islam, agar supaya tiada kejadian seperti lain-lain perhimpunan Islam yang dipersebabkan karena pemimpinnya kurang paham tentang seluk-beluknya Islam, perhimpunan itu lalu “pesiar” ke mana-mana.

Akan tetapi karena pada umumnya para ulama itu kurang ahlinya tentang hal ihwal dunia, masyarakat, organisasi, taktik, dan sebagainya, maka buat melangkahkan perhimpunan NU tadi, di samping para ulama tadi, ada satu badan Tanfidziyah.

Dalam susunan NU adalah dikemudikan oleh: 1. Syuriah (para ulama atau kurang lebih wetgenende lichaam) Majelis Pengurus yang tinggi, dan 2. Tanfidziyah (pekerja atau kluitvoerinde lichaam).

Susunan Syuriah: Rois, Wakil Rois, Katib, beberapa A’wan, dan Musytasyar.

Susunan Tanfidziyah: Presiden, Sekretaris, Kasir, beberapa Comissarissen dan Adviseur.

Dalam kalangan Hoofdbestuur NU, Hadratusy Syaikh Hasjim Asj’ari tentu saja ada dalam kalangan Syuriah, dan kedudukan beliau memang bukan presiden, tetapi Rois Besar.

Lebih lanjut BNO menjelaskan, oleh karena pekerjaan harian dilakukan oleh Tanfidziyah, maka surat-surat, instruksi-instruksi, ditandatangani oleh Presiden HB Tanfidziyah. Mendengar Presiden HB itu orang lain, bukan Hadratusy Syaikh, barangkali lantas direka-reka sendiri, disusun dan diatur, jebul: Kiai Hasjim Asj’ari keluar dari NU. Fattaqullah!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here