Nabi di Jakarta

1711

Oleh: Emha Ainun Nadjib, Budayawan

 

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kalau Tuhan menyuruh kita pergi Haji, Tuhan sendiri tidak lantas mencontohi pergi Haji. Kalau Tuhan memerintahkan kita bayar zakat dan suka bersedekah, Tuhan sendiri jelas Maha Pemurah dan sangat nyah-nyoh. Kalau Tuhan menyuruh kita berpuasa, dalam makna tertentu Tuhan sendiri selalu sangat berpuasa, menahan diri, menunda hukuman. Kalau tidak, layaklah Pulau Jawa ini longsor seluruhnya ditelan bumi.

Kalau Tuhan memerintahkan manusia bersyahadat, meneguhkan kesaksian atas diri-Nya beserta kekasih-Nya, Ia sendiri bersaksi atas diri-Nya. “Kullama nadaita ya Hu, qala ya ‘abdii ana-Llah”. Setiap kali hatimu memanggil-manggil-Ku dengan cintamu, aku menjawab: “Ya, kekasih-Ku, ini Aku Allah kekasihmu…”. Dan kalau Allah memerintahkan agar manusia bershalawat kepada Muhammad kinasih-Nya, Allah sendiri memeloporinya, memberi teladan dan memulainya: “Innallaha wa malaikata-Hu yusholluna ‘alan-Nabi. Ya ayyuhalladziina amanu shollu ‘alaihi wa sallimu tasliima…”

Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya ber-“Shalat” kepada Nabi. Maka wahai orang-orang yang mengimaninya, “shalatlah kepadanya, sampaikan janji keselamatan kepadanya seselamat-selamatnya”. Shalawat itu plural dari shalat. Allah shalat kepada Nabi dan kita semua, dalam konteks bukan menyembah Nabi dan kita, melainkan mencintai dan memfasilitasi. Nabi shalat kepada Allah dalam posisi menyembah, mengabdi dan bersetia. Nabi “shalat” kepada kita dalam posisi menyayangi, mengasuh dan menyiapkan syafa’at, hak prerogatif dari Allah untuk memperoleh kemurahan ampunan-Nya kepada kita, melapangkan rezeki-Nya kepada kita.

Kita semua “bebekti” kepada Allah dengan shalat lima waktu tiap hari, serta shalat-shalat atau shalawat dalam konteks dan nuansa yang lebih luas dan aplikatif secara budaya sampai politik. Di Komunitas Maiyah dikenal terminologi “Cinta Segitiga”. Yakni saling cinta antara Allah, Muhammad dan kita.

Ada yang tidak paham: Kok mendoakan Nabimu? Apa nasibnya belum beres di depan Allah? Sangat logis dan wajar pertanyaan itu. Karena belum memahami dialektika kolusial segitiga itu. Kalau kita minta kepada Allah membawa hanya diri kita sendiri, kita tak punya cukup bargaining power untuk mendapatkan akses ampunan atau rezeki dari Allah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here