Nabi Adam Bertanya, Kenapa Allah Tak Membuat Sama Keturunannya?

930

Dengan demikian, maka bisa dipahami alasan di balik perbedaan derajat kemuliaan atau keutamaan anak-cucu Adam. Karena sebagian dari mereka gemar mensyukuri nikmat Allah sehingga Allah terus menambah kemuliannya, dan sebagian lainnya malas mensyukuri nikmat Allah bahkan tidak sedikit yang mengkufurinya. Di sinilah awal mula terjadinya ketidak-samaan antar satu sama lainnya.

Karena itu Allah menjawab pertanyaan Adam dengan kalimat, “Wahai Adam, sesungguhnya Aku sangat senang jika Aku disyukuri.” Itu artinya, syukur kita kepada Allah bisa menjadi pembeda kedudukan kita di sisi-Nya, bahkan dengan cara yang paling sederhana sekalipun. Imam Ibrahim al-Nakha’i (47-96 H) mengatakan:

شُكْرُهُ أَنْ يُسَمِّيَ إِذَا أَكَلَ، وَيَحْمَدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا فَرِغَ

“Syukur adalah menyebut nama-(Nya) ketika makan, dan memuji Allah ‘Azza wa Jalla ketika selesai (makan).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, 1992, h. 61)

Dengan mengamalkan “menyebut nama-Nya ketika makan dan memuji-Nya ketika selesai”, kita sedang melatih diri kita sendiri untuk memahami dan mengenali nikmat-nikmat Allah di sekitar kita. Kita harus akui bahwa makanan termasuk nikmat Allah yang sering kita lalaikan kedudukannya. Kita hanya memakannya tanpa merasakan atau mengenalinya sebagai nikmat.

Persoalannya adalah, jika hal yang setiap hari kita lakukan (makan), dan makanan yang merupakan kebutuhan sehari-hari tidak menyadarkan kita untuk bersyukur, lalu bagaimana dengan hal-hal yang jarang kita lakukan dan tidak termasuk kebutuhan sehari-hari. Tentu saja kita akan lebih melalaikannya.

Karena itu, “menyebut nama Allah ketika makan dan memuji-Nya setelah makan” bisa menjadi awal dari pelatihan diri kita. Agar kita lebih terdidik dalam memahami setiap nikmat Allah.

Kemudian perlahan-lahan kita akan mulai mengenali nikmat-nikmat-Nya yang lain dan merasakannya, sehingga kita akan bersungguh-sungguh dalam bersyukur dan menjadi orang yang dilebihkan Allah karena syukur kita kepada-Nya.

Pertanyaanya, sudahkah kita memulainya? Wallahu a’alm bish shawwab…

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here