Muslim Austria Kecam Larangan Hijab di Sekolah

615
Ilustrasi Pelarangan Hijab  (Foto: Istimewa)

Austria, Muslim Obsession – Komunitas Muslim Austria mengecam larangan hijab yang diumumkan oleh Kanselir Austria Sebastian Kurz pada 4 April 2018 lalu. Menurut Kurz, langkah tersebut dalam upaya perlindungan anak.

“Tujuan kami adalah untuk menghadapi perkembangan masyarakat paralel di Austria,” ujarnya, sebagaimana dilansir Muslim News, Jumat (4/5/2018).

Sementara itu, Otoritas Agama Islam Austria (IGGO) mengatakan pengumuman semacam itu tidak bisa diterima.

“Larangan tersebut hanya bertujuan menciptakan agenda di mana anak-anak akan digunakan sebagai alat politik dan hijab akan digambarkan sebagai simbol politik Islam,” ujar Kepala IGGO, Ibrahim Olgun.

Olgun menilai jika politik tidak menyentuh kippah Yahudi atau salib Kristen, maka tidak ada politik yang bisa mengusik simbol Islam yakni hijab.

Dia menambahkan, bahwa usulan seperti itu merupakan pelanggaran hak asasi manusia. Olgun juga menekankan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kebebasan orangtua dalam upaya mendisiplinkan anak-anak mereka.

Selain itu, Dr Farid Hafez, seorang ilmuwan politik, mengatakan pengumuman kontroversial semacam itu berasal dari pola pikir otoriter negara.

“Kami sangat mengutuk pengumuman ini,” kata Dr Farid Hafez.

Kelompok muslim lainnya mengatakan bahwa pendidikan harus bebas dari tindakan diskriminasi.

Selain itu, larangan tersebut dinilai bertentangan dengan konstitusi serta pasal kedua dari Konvensi Eropa tentang Hak Asasi Manusia, yang menyatakan bahwa negara harus bertindak sesuai dengan pandangan warga negara mereka tentang dunia dan keyakinan agama mereka.

Sekretaris Jenderal Federasi Islam Wina, Harun Erciyas, juga menyampaikan hal senada. Dia berpendapat bahwa pelarangan atas nama kesetaraan dan kebebasan tidak dapat diterima.

Menurut angka yang diperoleh dari Federasi Islam Wina, Islam menjadi salah satu agama yang diakui secara resmi di Austria sejak 1912. Ada lebih dari 600.000 Muslim di negara tersebut. Di mana angka tersebut setara dengan tujuh persen populasi negara. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here