Musibah, Ujian dan Azab Allah Ta’ala

174
Banjir (Foto: Edwin B/ Obsession Media Grup)

Oleh: Drs. H. Tb Syamsuri Halim, M.Ag (Pimpinan Majelis Dzikir Tb. Ibnu Halim dan Dosen Fakultas Muamalat STAI Azziyadah Klender)

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

“Tiada ada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,” (QS. Al-Hadid [57]: 22).

Sesuatu yang menimpa kehidupan manusia, terutama musibah, hakikatnya telah ditentukan Allah subhanahu wa ta’ala. Ini harus disikapi dengan sabar dan lapang dada. Jangan sampai ada UCAPAN yang menjerumuskan diri pada kehinaan dan kemurkaan Allah Ta’ala.

SIKAP yang baik adalah dengan sabar dan lapang dada.

Sayyidina Ali berkata: “Jika engkau bersabar, takdir akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan pahala. Jika engkau berkeluh kesah, takdir juga akan tetap berlaku bagimu, dan engkau akan mendapatkan dosa.”

Mislanya, banjir adalah musibah bila hal tersebut sudah merata, karena selain kiriman dari Bogor yang menimpa Jakarta, juga karena sudah takdir Allah untuk kita semua.

Bersabar dari itu musibah ada pahalanya. Ya..dengan mendapat musibah, dosa kita bisa terhapuskan jika sabar dalam menghadapinya.

من أعطي فشكر و ابتلي “فصبر” وظلم فاستغفر وظلم فغفر ثم سكت فقالوا يا رسول الله ماله ؟قال أولئك لهم الأمن و هم مهتدون ~رواه الطبراني

Sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Mereka yang diberi nikmat lalu bersyukur, yang diuji dengan musibah kemudian ia bersabar, yang mendzalimi orang kemudian beristighfar, yang didzalimi kemudian memaafkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terdiam hingga para sahabat bertanya: “Apa yang didapatkan mereka wahai Rasulullah?”, Beliau menjawab: “Mereka akan mendapat keamanan dan merekalah orang yang diberi petunjuk,” (HR. Thabrani).

إن العبد إذا سبقت له من الله منزلة فلم يبلغها بعمل إبتلاه الله في جسده أو ماله أو ولده “ثم صبر” على ذلك حتى يبلغه المنزلة التي سبقت له من الله عز و جل ~رواه أحمد

“Sesungguhnya hamba jika sudah ditaqdirkan memiliki tempat di sisi Allah dan ia tidak bisa mendapatkannya dengan amal maka Allah akan menberinya cobaan kepada jasadnya, hartanya, atau anak-anaknya, yang jika ia bersabar maka ia akan mendapatkan tempat di sisi Allah,” (HR. Ahmad).

Tentang Azab

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَنُذِيقَنَّهُمْ مِنَ الْعَذَابِ الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar).

Jumhur ulama berpendapat bahwa “azab yang dekat” yang dimaksudkan di atas adalah musibah. Sementara “azab yang lebih besar” merupakan azab yang sesungguhnya.

Jangankan di akhirat, andaikan azab yang lebih besar itu diturunkan di dunia setitik saja, maka niscaya hancurlah dunia dan seluruh isinya.

Oleh karenanya, jangan sekali-kali kita mengatakan bahwa banjir ini merupakan azab dari Allah, tapi katakanlah bahwa banjir ini adalah musibah dan ujian untuk kita.

Wallahu a’lam bish shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here