Museum Barqa Kumpulkan 5.000 Lebih Warisan Palestina 

487
Beberapa koleksi di Museum Barqa Palestina (Photo: Al Monitor)

Muslim Obsession – Museum Barqa awalnya adalah museum pribadi yang mengumpulkan lebih dari 5000 objek bersejarah negara Palestina. Museum itu terletak di Nablus Tepi Barat, yakni sekitar 18 kilometer dari Kota Nablus.

Museum sejarah Palestina tersebut mengoleksi barang-barang sehari-hari yang pernah digunakan orang-orang Palestina. Di antaranya, koin tua, tembikar dan manuskrip yang berasal dari zaman Kanaan, Romawi, Bizantium, Yunani, Islam, Mamluk dan Ottoman.

Di dalamnya juga terdapat perpustakaan yang mencakup lebih dari 1.200 buku tentang peradaban kuno Palestina. Muntasser Salah, pemilik Museum Barqa, mengatakan museum yang terdiri dari dua lantai itu, telah berdiri lebih dari 40 tahun lalu.

“Museum tersebut berisi 5.500 item, dari masa Kanaan sampai benda-benda yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari di Palestina pada abad silam. Benda-benda di museum dikumpulkan lebih dari 35 tahun lalu oleh ayah saya dan sebelumnya oleh kakek saya,” papar Salah.

Salah mengaku, dirinya terus mengumpulkan dan membeli potongan-potongan sejarah dari kolektor amatir lainnya. Dengan biaya dari pribadi itu kemudian ia ubah rumah koleksi tersebut menjadi sebuah museum.

Koleksi lainnya di Museum Barqa ialah uang kertas, koin-koin kuno Palestina dan kunci rumah-rumah tua yang secara paksa ditinggalkan oleh penghuni mereka setelah eksodus Palestina 1948.

“Museum Barqa merupakan objek wisata bagi penduduk Tepi Barat, Arab, Israel, turis mancanegara dan pelajar,” ungkapnya, sebagaimana dikutip Al Monitor, Rabu (21/2/2018).

Lebih lanjut, dia juga meminta dukungan finansial dari pihak berwenang pemerintah untuk melindungi barang langka dan rapuh seperti uang kertas, koin dan tembikar tanah liat.

“Semua barang-barang perlu disimpan dalam kaca pelindung. Sebagaimana yang biasa digunakan di museum internasional. Saya berharap sebuah museum sejarah yang besar akan dibangun dengan bantuan institusi internasional dan pemerintah,” tutur Salah.

Tidak hanya itu, ia juga ingin museum tersebut terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Youssef Tbaileh, seorang peneliti dan pakar arkeologi dan sejarah Islam, mengatakan, Museum Barqa menyimpan barang-barang logam serta tembikar tanah liat dan tembaga yang berasal dari abad keempat dan kelima.

Selain itu, ada beberapa item arkeologi yang berasal dari era yang berbeda yang pernah disaksikan Palestina di masa lalu. Seperti koin perunggu dan tembaga dari era Romawi, Bizantium dan Ottoman.

“Sebagian besar situs arkeologi dan warisan di Tepi Barat berada di bawah serangan Israel. Mereka tidak mengizinkan orang-orang Palestina melakukan pekerjaan restorasi atau rehabilitasi di tempat-tempat tersebut. Dengan dalih mereka berada di wilayah yang dikuasai Israel,” ujar Youssef.

Ia menambahkan, masalah pencurian barang-barang arkeologi tersebut, diklaim sebagai milik Otoritas Kepurbakalaan Israel. Mereka mengaku barang-barang tersebut bukan milik orang-orang Palestina.

Youssef menekankan perlunya Kementerian Pendidikan, berkoordinasi dengan Kementerian Pariwisata dan Benda-Benda Kuno, untuk mengatur kunjungan budaya bagi siswa sekolah menengah dan perguruan tinggi. Guna mendidik mereka tentang warisan dan museum Palestina.

Museum Barqa terletak di Area C, yang berada di bawah kendali Israel. Kawasan ini merupakan 61% dari tanah Tepi Barat. Anwar Oudeh, seorang mahasiswa Fakultas Pariwisata dan Arkeologi Universitas An-Najah di Nablus mengatakan, Museum Barqa merupakan pusat pendidikan dan pengetahuan penting.

Ia menilai museum tersebut, kaya akan barang-barang arkeologi dan sejarah langka. Di mana menunjukkan kehebatan era dan peradaban kuno yang disaksikan Palestina berabad-abad lalu.

“Museum ini menyimpan banyak barang dan alat arkeologi Palestina, seperti khabeya (wadah yang menyerupai amphora yang digunakan di masa lalu untuk melestarikan minyak zaitun, gandum dan barley) dan benda antik lainnya,” tutur Anwar.

Mohammed Jabber, pengunjung dari desa Bizzariya di Tepi Barat utara dekat Nablus mengatakan, museum itu adalah pencapaian budaya, peradaban dan sumber kebanggaan. Khususnya bagi Nablus dan umunya bagi Negara Palestina.

Dengan banyak koleksi yang dikumpulkan, Jaber menilai Museum Barqa telah mempromosikan budaya dan sejarah Palestina.

“Siapa pun yang mengunjungi museum ini, pasti akan teringat rumah tua nenek moyang mereka. Karena, konstruksi dan desain bangunan menciptakan atmosfer yang sangat otentik. Cerminan sejarah Palestina yang agung dan akan selalu menjadi warisan sampai saat ini,” tandasnya.

Ada 31 museum di Palestina, sebanyak 26 museum berada di Tepi Barat dan 5 museum lainnya di Jalur Gaza. Tercatat tahun 2016, jumlah pengunjung mencapai 206.046 orang. Sebanyak 159.261 orang merupakan pengunjung dari Palestina. Sedangkan 46.785 pengunjung dari luar negeri. (Vina) 

 

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here