Munajat Rasulullah di Masa Tersulit dalam Kehidupannya

342
Nabi Muhammad Saw (Ilustrasi)

Jakarta, Muslim Obsession – Sebagai seorang Nabi sekaligus Rasul, Nabi Muhammad Saw juga pernah merasakan mendapatkan ujian hidup yang luar biasa hebat. Nabi mulai mendapat cobaan ketika usianya masih kecil, bahkan sebelum Nabi dilahirkan, ayahnya meninggal, ketika ia berusia enam tahun, ibunya juga meninggal.

Demikan juga saat menjadi utusan Allah SWT, Nabi juga mendapat banyak cobaan. Mulai dari dibuang oleh kaumnya, hingga dijauhi orang yang dulu memuji dan mencintainya. Nabi terus dikucilkan, dakwahnya ditentang, bahkan tak sedikit Nabi mendapat kekerasan dengan dilempar batu, kotoran dll.

Bisa dikatakan cobaan yang paling keras yang Allah SWT turunkan adalah cobaan yang diterima para nabi. Dari sekian banyak cobaan yang diberikan Nabi, ada satu titik dimana Rasulullah sudah merasa mendapat ujian terberat. Nabi merasa sudah begitu besar penderitaan yang dialami sehingga ia harus mengadu kepada Allah SWT.

Baca juga: Penjelasan Quraish Shihab Mengapa Nabi Muhammad Diturunkan di Mekkah

Peritiwa itu terjadi ketika Nabi hijrah ke Thaif. Rasulullah Saw memilih Thaif sebagai kota kedua, setelah Makkah yang menjadi tujuan dakwah. Thaif sangat strategis karena merupakan salah satu basis permukiman warga padat penduduk dan pusat perdagangan.

Thaif sangat diperhitungkan Rasulullah karena Thaif adalah lokasi tempat tingal Bani Tsaqif, salah satu kabilah terhormat di Jazirah Arab. Namun, ternyata kedatangan Rasulullah dengan menempuh 100 km jalan kaki menunju Thaif dari Makkah, justru tidak disambut dengan baik, Rasul bahkan mengalami pengusiran yang tak terhormat.

Nabi dilempari batu, kotoran dan dicacimaki sedemikian rupa oleh kaum kafir. Dari situ Nabi merasa perjuangan dakwahnya untuk mengenalkan Islam sebagai agama Allah begitu berat. Sampai akhirnya Nabi keluar dari wilayah Thaif, dan berhenti di bawah sebuah pohon lalu shalat dua rakaat.

Baca juga: Perjuangan Nafisah Mempertemukan Cinta Khadijah dengan Nabi Muhammad

Setelah shalat dua rakaat di sebuah kebun kurma milik kedua anak Rabi’ah, di situ Nabi kemudian bermunajat, berdoa dengan tenang mohon petunjuk dan ampunan seraya mengadukan penderitaan yang begitu besar ia alami.

Sebagaimana dinukilkan Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Baghdadi dalam al-Jami’ li Akhlaq ar-Rawi, Nabi berdoa:

اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي ، وَقِلّةَ حِيلَتِي ، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ ! أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي ، إلَى مَنْ تَكِلُنِي ؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي ؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي ؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي ، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي ، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ، لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك

“Allahuma Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku di hadapan manusia. Wahai Tuhan Yang Maharahim, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Tuhan pelindungku. Kepada siapa hendak Engkau serahkan nasibku? Kepada orang jauhkah yang berwajah muram kepadaku atau kepada musuh yang akan menguasai diriku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli sebab sungguh luas kenikmatan yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung kepada nur wajah-Mu yang menyinari kegelapan dan karena itu yang membawa kebaikan di dunia dan akhirat dari kemurkaan-Mu dan yang akan Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha kepadaku. Dan, tiada daya upaya melainkan dengan kehendak-Mu.”

Baca juga: Subhanallah Begini Gambaran Keindahan Rupa dan Perangai Rasulullah

Poin dari doa Nabi itu kata Ustadz Fahrudin Faiz, yang juga dosen tasawuf dan filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini sebenarnya adalah, Nabi ingin mengatakan bahwa sebesar apapun cobaan dan penderitaan yang Allah berikan, Nabi tidak peduli. Asalkan satu, Allah tidak marah kepada Nabi.

إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي

“Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli”

“Di situ Nabi sebenarnya ingin mengatakan, sekuat dan sebesar apapun penderitaan yang dialami di dunia ini, Nabi tidak peduli. Nabi ikhlas dan ridho, asalkan satu, Allah tidak marah kepadanya,” kata Ustadz Fahrudin dalam sebuah kajiannya di akun youtube M Channel.

“Dalam hidupnya Nabi hanya takut satu, Allah marah, karena kalau sampai Allah marah berarti Nabi telah melukai cintaNya,” katanya.

“Itulah hubungan antara kekasih dengan yang dikasihi, takut kalau yang dicintainya itu marah, takut melukaiNya, takut membuatnya kecewa,” tambahnya.

Baca juga: Cerita Rasulullah Menegur Orang yang Menyebut ‘Anak Kulit Hitam’

“Kaya kamu itu kalau berhubungan dengan pacar atau pasanganmu. Kamu kalau sudah cinta kan takut kalau pasanganmu marah, kecewa, takut menyakiti, Nabi juga begitu takut jika sampai membuat Allah marah.”

“Bedanya dengan Nabi, kamu takut pasanganmu marah, tapi kalian nggak takut kalau Allah marah sama kalian. Allah itu cintamu yang paling kesekian, bukan yang pertama dan utama.”

Jadi usai Nabi berdoa, Malaikat Jibril kemudian datang diutus Allah untuk menemui Nabi. Menyaksikan Rasulullah itu terluka fisik dan hatinya, Jibril ikut bersedih dan menunggu perintah dari Nabi sambil berkata:

“Allah mengetahui apa yang terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.”

Para malaikat penjaga gunung itu berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung dan Rabb-Mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu, jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.”

Nabi dengan lembut berkata kepada Jibril dan malaikat penjaga gunung, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, aku berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.” Nabi bahkan berdoa yang artinya, “Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (Albar)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here