Mukjizat dan Futuhat: Hikmah Perang Khandaq

498
Ilustrasi perang.

Oleh: Abu Umar Abdullah ibnu Muharram (The Author of Tinta Emas Sejarah, Pengasuh GWA Minhaj Nubuwwah)

Setelah 13 tahun dakwah Islam terhambat di Makkah, hijrah ke Madinah membuat dakwah Islam semakin mudah menyebar. Pasca membangun Masjid Nabawi, mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar serta menetapkan perjanjian antara kaum beriman dengan Yahudi Madinah, maka dimulailah futuhat Islam selama 10 tahun di masa kenabian.

Pada tahun 2 H, terjadi perang Badar (Jum’at 17 Ramadhan 2 H). Kemenangan 313 pasukan Islam bersama 1.000 Malaikat dan kekalahan telak 950-1.000 pasukan Musyrikin Quraisy (70 terbunuh dan 70 ditawan) membuat mereka dendam hingga pecah perang Uhud (Sabtu, 7 Syawal 3 H).

Perseteruan kaum beriman melawan kaum kuffar berlanjut hingga pengepungan pasukan Ahzab (golongan musyrikin yang bersekutu) terhadap kota Madinah. Maka strategi difa’i (defensif) mempertahankan Kota Madinah dengan cara membuat Khandaq (parit).

Baca juga: Panglima Perang Termuda dan Terhebat dalam Sejarah Islam

Dalam proses penggalian parit yang memakan waktu berhari-hari itu, terjadi mukjizat (kejadian luar biasa), pada makanan dan juga ditampakkan nubuwwah, menyingkap rahasia masa depan saat memecah batu besar di Khandaq, tentang futuhat atas negeri Syam, Persia dan Yaman.

Berikut ini hadits shahih dalam kitab Al-Maghazi, Shahih al-Bukhari dan Syarah dalam kitab Fathul Bari.

Mukjizat Nabi pada gandum dan daging kambing Jabir

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ أَيْمَنَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ جَابِرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فَقَالَإِنَّا يَوْمَ الْخَنْدَقِ نَحْفِرُ فَعَرَضَتْ كُدْيَةٌ شَدِيدَةٌ فَجَاءُوا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا هَذِهِ كُدْيَةٌ عَرَضَتْ فِي الْخَنْدَقِ فَقَالَ أَنَا نَازِلٌ ثُمَّ قَامَ وَبَطْنُهُ مَعْصُوبٌ بِحَجَرٍ وَلَبِثْنَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ لَا نَذُوقُ ذَوَاقًا فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمِعْوَلَ فَضَرَبَ فَعَادَ كَثِيبًا أَهْيَلَ أَوْ أَهْيَمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي إِلَى الْبَيْتِ فَقُلْتُ لِامْرَأَتِي رَأَيْتُ بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا مَا كَانَ فِي ذَلِكَ صَبْرٌ فَعِنْدَكِ شَيْءٌ قَالَتْ عِنْدِي شَعِيرٌ وَعَنَاقٌ فَذَبَحَتْ الْعَنَاقَ وَطَحَنَتْ الشَّعِيرَ حَتَّى جَعَلْنَا اللَّحْمَ فِي الْبُرْمَةِ ثُمَّ جِئْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْعَجِينُ قَدْ انْكَسَرَ وَالْبُرْمَةُ بَيْنَ الْأَثَافِيِّ قَدْ كَادَتْ أَنْ تَنْضَجَ فَقُلْتُ طُعَيِّمٌ لِي فَقُمْ أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَرَجُلٌ أَوْ رَجُلَانِ قَالَ كَمْ هُوَ فَذَكَرْتُ لَهُ قَالَ كَثِيرٌ طَيِّبٌ قَالَ قُلْ لَهَا لَا تَنْزِعْ الْبُرْمَةَ وَلَا الْخُبْزَ مِنْ التَّنُّورِ حَتَّى آتِيَ فَقَالَ قُومُوا فَقَامَ الْمُهَاجِرُونَ وَالْأَنْصَارُ فَلَمَّا دَخَلَ عَلَى امْرَأَتِهِ قَالَ وَيْحَكِ جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَمَنْ مَعَهُمْ قَالَتْ هَلْ سَأَلَكَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ ادْخُلُوا وَلَا تَضَاغَطُوا فَجَعَلَ يَكْسِرُ الْخُبْزَ وَيَجْعَلُ عَلَيْهِ اللَّحْمَ وَيُخَمِّرُ الْبُرْمَةَ وَالتَّنُّورَ إِذَا أَخَذَ مِنْهُ وَيُقَرِّبُ إِلَى أَصْحَابِهِ ثُمَّ يَنْزِعُ فَلَمْ يَزَلْ يَكْسِرُ الْخُبْزَ وَيَغْرِفُ حَتَّى شَبِعُوا وَبَقِيَ بَقِيَّةٌ قَالَ كُلِي هَذَا وَأَهْدِي فَإِنَّ النَّاسَ أَصَابَتْهُمْ مَجَاعَةٌ

“Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid bin Aiman dari Ayahnya dia berkata, aku pernah menemui Jabir radhiyallahu ‘anhu, “Ketika kami menggali parit pada peristiwa khandaq, sebongkah batu yang sangat keras menghalangi kami, lalu para sahabat menemui Nabiﷺ , mereka berkata, “Batu yang sangat keras ini telah menghalangi kami dalam menggali parit, lalu beliau bersabda: “Aku sendiri yang akan turun.” Kemudian beliau berdiri (di dalam parit), sementara perut beliau tengah diganjal dengan batu (karena lapar). Semenjak 3 hari kami lalu tanpa ada makanan yang dapat kami rasakan, lalu Nabiﷺ mengambil kampak dan memukulkan pada batu tersebut hingga ia menjadi pecah berantakan -atau hancur-. Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, izinkanlah aku untuk ke rumah.” Setelah itu kukatakan kepada isteriku, “Aku melihat pada diri Nabiﷺ sesuatu yang aku sendiri tidak tega melihatnya, apakah kamu memiliki sesuatu (makanan)?” Isteriku menjawab, “Aku memiliki gandum dan anak kambing.” Kemudian ia meyembelih anak kambing tersebut dan membuat adonan gandum hngga menjadi makanan dalam tungku, setelah itu aku menemui Nabiﷺ , sementara adonan mulai matang, dan periuk berada diantara dua tungku api dan hampir masak, maka aku berkata, “Aku memiliki sedikit makanan,” maka berdirilah wahai Rasulullah ﷺ bersama dengan satu atau dua orang saja. Beliau bersabda: “Untuk berapa orang?” Lalu aku memberitahukan kepada beliau, beliau bersabda: “Tidak mengapa orang banyak untuk datang.” Beliau bersabda lagi: “Katakan kepada isterimu, jangan ia angkat periuknya dan adonan roti dari tungku api hingga aku datang.” Setelah itu beliau bersabda: “Bangunlah kalian semua.” Bergegas kaum Muhajirin dan Anshar berdiri berangkat, ketika Jabir menemui Isterinya, dia berkata, “Waduh, Nabiﷺ telah datang bersama kaum Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang bersama mereka.” Isteri Jabir berkata, “Memang beliau (Rasulullah) memintamu yang demikian?” Jabir menjawab, “Ya, begitu.” Lalu Rasulullah berkata: “Masuklah dan jangan berdesak-desakan.” Kemudian Rasulullah mencuil-cuil roti dan ia tambahkan dengan daging, dan ia tutup periuk dan tungku api. Selanjutnya beliau ambil dan beliau dekatkan kepada para sahabatnya. Lantas beliau ambil kembali periuk itu dan terus menerus beliau lakukan antara mencuili roti dan menciduknya hingga semua sahabat kenyang dan masih menyisakan sisa. Setelah itu beliau bersabda: “Sekarang makanlah engkau (maksudnya isteri Jabir) dan kalau bisa, hadiahkanlah kepada yang lain, sebab orang-orang, banyak yang masih kelaparan.”

Disebutkan pada riwayat al-Harits bin Abi Usamah melalui jalur Sulaiman At-Taimi, dari Abu Utsman, dia berkata: Nabi ﷺ memukul ke dalam parit tersebut kemudian mengucapkan: “Bismillah, dan dengannya kami memulai. Seandainya kami beribadah kepada selain-Nya, maka kami celaka. Dialah sebaik-baik Rabb dan sebaik-baik din.”

Nubuwah tentang Futuhat Syam, Persia dan Yaman

Mengenai kisah ini, terdapat tambahan pada riwayat Ahmad dan an-Nasa’i dengan sanad hasan dari hadits al-Bara’ bin Azib, dia berkata:

“Ketika Rasulullah ﷺ memerintahkan kami mengali parit, sebuah batu besar menghalangi kami di sebagian kedalaman parit. Beberapa cangkul tidak dapat menghancurkannya. Maka kami mengadukan hal itu kepada Nabi ﷺ. Beliau pun datang lalu mengambil cangkil sambil membaca: Bismillah!. Lalu beliau memukul sehingga pecah sepertiganya. Beliau bersabda: Allahu Akbar! Aku telah diberi kunci-kunci negeri Syam. Demi Allah, saat ini aku tengah melihat istana-istananya yang berwarna merah. Kemudia beliau memukul untuk kedua kalinya yang membuat putus (pecah) sepertiga lainnya. Beliau bersabda: Allahu Akbar! Aku telah diberi kunci-kunci Persia. Demi Allah, aku tengah meluhat istana Madain yang berwarna putih. Tak lama kemudian beliau memukul untuk ketiga kalinya seraya membaca: Bismillah! Maka putuslah (pecah) bagian yang masih tersisa dari batu tersebut. Beliau bersabda: Allahu Akbar!. Aku telah diberi kunci-kunci Yaman. Demi Allah, saat ini aku tengah melihat pintu-pintu Shan’a dari tempatku saat ini.”

Hadits serupa diriwayatkan oleh ath-Thabrani dari hadits Abdullah bin Amr. Hadits ini diriwayatkan secara panjang lebar oleh al-Baihaqi:

“Rasulullah ﷺ telah membuat garis pada parit tersebut. Setiap 10 orang mendapat bagian 10 hasta. Di dalamnya disebutkan: Tiba-tiba kami mendaatkan sebuah batu besar berwarna putih yang telah mematahkan cangkul-cangkul kami. Kami pun bermaksud berpaling darinya, namau kami katakana:’Hingga kita bremusyawarah dengan Rasulullah ﷺ.’Kami mengutus Salman untuk menemui beliau. Di dalamnya disebutkan: Beliau ﷺ memukul dengan pukulan yang membuat batu besar terebut pecah dan darinya berkilat satu cahaya. Spontan belia bertakbir dan kaum Muslimin pun ikut bertakbir. Di dalamnya disebutkan: “Kami melihat engkau bertakbir, maka kami pun mengikuti takbir engkau.” Maka beliau bersabda:” Kilatan yang pertama menerangi istana-istana Syam. Lalu Jibril memberitahuku bahwa umatku akan mengalahkan mereka.” Disebutkan di bagian akhir hadits:”Spontan kaum Muslimin bergembira ria.”

Karanganyar, 21 Jumadil Akhir 1442 (3-2-21)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here