MUI Prihatin Muslim Uighur Ditindas

587
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Profesor Amany Lubis
Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Profesor Amany Lubis (Foto: Edwin Budiarso/Muslim Obsession)

Jakarta, Muslim Obsession – Komisi Perempuan, Remaja, dan Keluarga Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengaku prihatin atas penindasan terhadap warga Muslim Uighur di Provinsi Xinjiang, China.

“MUI tentu prihatin dengan kondisi Muslim suku Uighur yang ada di Tiongkok, mereka kondisinya tentu menyedihkan, saya juga kenal dengan beberapa orang dari asal Asia Tengah, hampir ke Tiongkok, mereka memang tidak diberi kebebasan apapun, tidak diberi kebebasan pendidikan yang layak, untuk menjalankan ekonomi karena agama mereka Islam,” Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Profesor Amany Lubis kepada Muslim Obsession, Selasa (18/12/2018).

Amany juga mendengar kabar terakhir penyiksaan dan mereka ditangkap dan ditahan di kamp-kamp konsentrasi yang mirip saat zaman peperangan, tapi, Amany mengaku tidak tahu apa yang terjadi di dalam kamp tersebut.


Baca Juga:


“Kabar terakhir ada penyiksaan dan mereka di tangkap dan ditahan di kamp-kamp, kemudian tidak tahu lagi nasibnya apakah mati begitu saja, tapi umumnya yang saya dengar mereka di kembalikan sebagai jasad kepada keluarganya,” ujar Guru Besar UIN Jakarta ini.

Maka dari itu, upaya yang harus dilakukan pemerintah adalah memberikan perhatian terhadap Muslim yang berada di belahan dunia khususnya untuk Muslim Uighur. Amany mengaku pernah mendapatkan kesempatan berhaji bersama keluarga dari Uighur, dan menceritakan permasalahan yang dihadapi Muslim di Uighur.

“Saya pernah berkesempatan haji bersama keluarga dari Uighur sang istri adalah dokter dan yang laki-laki pegawai, maka mereka menceritakan bagaimana penderitaan mereka tidak bisa berkembang walaupun sudah memperoleh pendidikan tinggi, tetapi mereka mau membangun klinik aja susah, jadi mereka bekerja atau hidup dengan apa adanya sebagaimana berjalan, namun tidak ada dukungan dari masyarakat yang lebih luas, apalagi dari pemerintah,” ungkapnya.

Pemerintah indonesia, kata Amany, tentu bisa menyuarakan dengan cara mengambil langkah positif untuk menyatakan keberatan terhadap pemerintah China, walaupun ada hubungan baik dengan pemerintah China, untuk itulah Amany meminta agar pemerintah Indonesia memberikan bantuan dengan cara diplomasi.

“Bantuan dari Indonesia juga berupa diplomasi, kita sangat kuat mempunyai diplomasi publik, diplomasi kultural, diplomasi keagamaan, diplomasi lainnya, ini sangat penting, jadi kita tidak dituduh ikut campur urusan dalam negeri dari Tiongkok, tidak, kita adalah secara manusia yang bebas di atas bumi ini, dan mereka harus mendengar kabar dari kita, bahwa kita peduli terhadapnya,” pungkasnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here