Muhammadiyah: Umat Islam Indonesia Harus Keluar dari Ketertinggalan

359
Haedar Nashir dan Ahmad Syafii Ma'arif (Foto: Suara Muhammadiyah)

Jakarta, Muslim Indonesia – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menilai Islam Indonesia yang selama ini dicirikan sebagai Islam yang ramah dan moderat ternyata tidak cukup. Pasalnya, permaslahan dunia modern sangat kompleks dengan segala dinamikanya.

Haedar pun mengimbau agar umat Islam di Indonesia harus keluar dari ketertinggalan dan merebut momentum dan menjadi solusi. Menurutnya, peristiwa besar di tanah air belakangan ini tidak lepas dari kondisi termarjinalnya umat Islam dan berujung frustasi.

“Sehingga menampilkan wajah yang tidak mencerminkan akhlak Islami dan membentuk mentalitas negatif. Kalau dalam atmosfer begini, kita tidak bisa (membangun) apa-apa,” ujarnya di mushalla Graha Suara Muhammadiyah, Selasa (24/4/2018).

Selain itu, lanjut Haedar, kondisi ini bukan berarti hilang harapan. Itulah alasan mengapa Muhammadiyah gencar membangun tonggak-tonggak kemajuan peradaban. Maka dari itu, Haedar dan PP Muhammadiyah kerap melakukan lawatan ke luar negeri dalam upaya membangun tonggak peradaban di segenap penjuru.

“Sejak awal tahun, kita kunjungan ke beberapa negara. Singapura, Australia, Mesir, Sudan, dan terakhir India. Ada hal yang sedang kita bangun,” ungkapnya.

“Kita ingin internasionalisasi Muhammadiyah bukan pada seminar dan dialog antar agama, itu sudah bagus dan terus dilanjutkan tapi kita ingin ada tonggak untuk keunggulan,” jelasnya.

Haedar menceritakan, saat berada di Mesir, membeli satu flat yang luas. Sebuah gedung permanen yang ada TK ABA, pusat kegiatan PCIM, dan ke depan bisa menjadi pusat studi keislaman.

”Kalau kita ingin internasionalisasi islam, maka kita harus keluar. Mesir itu jadi pusat pemikiran Islam yang netral di Timur Tengah. Maka para pemikir Muhammadiyah harus bisa mempengaruhi dan ke sana,” ulasnya.

Di Melborne Australia, Muhammadiyah telah membeli 10 hektar lahan di kawasan elit yang diproyeksikan menjadi pusat pendidikan. “Kalau kita bikin boarding school di sana, insyaallah cukup bagus,” ujarnya.

Ekspansi yang dilakukan ini seiring dengan era globalisasi dan dibukanya keran Masyarakat Ekonomi ASEAN.

Di Malaysia, kata Haedar, Muhammadiyah sudah mengantongi izin dari kementerian pendidikan Malaysia untuk segera beroperasinya Universitas Muhammadiyah Malaysia yang ditargetkan untuk terlebih dahulu menampung mahasiswa jenjang S2 dan S3.

“Kita punya 174 Perguruan Tinggi Muhammadiyah, tidak semua bisa belajar ke Eropa, jadi nanti sebagian bisa ke UM Malaysia,” pungkasnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here