Mohammad Natsir, Negarawan dan Ulama yang Patut Diteladani

776
Lukman Hakiem Parmusi OK
Lukman Hakiem saat menjadi pemateri dalam Seminar Mosi Integral Mohammad Natsir di Aula Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Jakarta, Muslim Obsession – Tak hanya diketahui sebagai negarawan yang sederhana, almarhum Mohammad Natsir juga dikenal sebagai politisi dan ulama santun, konsisten, toleran, namun teguh dalam berpendirian.

Oleh karenanya, Natsir yang pernah menjadi Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1959), Perdana Menteri NKRI (1950-1951), dan pendiri Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII) patut diteladani oleh siapapun, terutama para pejabat negara.

Mantan sekretaris Mohammad Natsir, Lukman Hakiem, menilai Natsir sebagai sosok seorang negarawan. Hal itu dikatakan lantaran Natsir tidak memikirkan kepentingan pribadi, melainkan memikirkan kepentingan masyarakat dan umat.

Ia mencontohkan saat hasil Konferensi Meja Bundar (KMB) tidak memasukkan Irian Barat ke wilayah Indonesia. Setelah itu Natsir dibujuk Soekarno untuk masuk kabinet tapi, ia tidak mau, karena baginya Irian Barat adalah wilayah penting.

“Padahal tawarannya jadi menteri loh, tapi Pak Natsir memilih berdiri di luar, membantu dari luar. Jadi bukan kepentingan pribadi,” ujar Lukman kepada Muslim Obsession setelah seminar Mosi Integral Natsir di Aula Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia (DDII), Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Selain tidak memikirkan kepentingan pribadi, lanjut Lukman, Natsir adalah seorang yang punya visi jauh ke depan. Itu dibuktikannya dengan merumuskan Mosi Integral yang bisa diterima semua kalangan.

“Bayangkan, seorang Presiden Indonesia Timur sampai mau berhenti untuk bergabung ke RI. Kalau bukan Natsir yang bujuk, belum tentu bisa,” ucapnya.

Bacaan Natsir juga luas, kata Lukman. Natsir adalah seorang pembaca dan penulis. Sehingga gagasannya banyak.

“Kebanyakan politisi sekarang itu, ketika ditanya langsung jawab. Spontan-spontan dan enggak mendalam,” kritiknya.

Selain itu, Lukman mengatakan yang patut dicontoh dari Natsir adalah sifat kesederhanaannya. Pernah Lukman melihat Natsir di gedung DDII mengenakan baju koko putih yang ada noda tintanya.

“Tapi beliau enggak merasa martabatnya jatuh dan kita enggak kurang hormat,” jelasnya.

Bahasan terkait Mosi Integral Mohammad Natsir, sebelumnya juga digelar di Aula Museum Naskah Proklamasi, Jakarta, Selasa (10/04/2018). Pada gelaran Seminar 68 tahun Mosi Integral NKRI Mohamad Natsir itu hadir Wakil Ketua DPR Fadli Zon.

Politisi Partai Gerindra itu mengatakan, sumbangsih Natsir terhadap negara ini luar biasa besar. Utamanya adalah Mosi Integaral Natsir yang dikatakan Fadli sebagai salah satu prestasi besar yang pernah dicapai parlemen Indonesia.

Mosi ini, kata dia, telah menyatukan Indonesia yang sebelumnya terpecah-pecah menjadi negara-negara bagian yang sesungguhnya hanya boneka Belanda.

“Tanpa Mosi Integral Natsir, maka tidak akan ada NKRI,” tandasnya. (Bal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here