Mimpi Aneh, Petinju Wanita ini Mantap Jadi Mualaf

496

Muslim Obsession – “Chika Nakamura. Itulah namanya. Beliau adalah mantan perinju profesional dan mantan juara di kelasnya”.

Begitulah Imam Shamsi Ali memulai postingannya di akun Instagramnya @imamshamsiali, Ahad (19/7/2020), berkisah tentang sosok Chika Nakamura yang mendapatkan hidayah melalui mimpi aneh.

Imam Shamsi Ali yang juga merupakan Direktur sekaligus imam di Jamaica Muslim Center, melanjutkan kisahnya tentang Chika.

“Suatu malam Chika bermimpi melihat sebuah gedung, Yang dia sebut aneh. Keesokan harinya dia lari pagi di kota NY, tiba-tiba dia melalui gedung yang dia lihat dalam mimpinya. Ternyata itu adalah masjid.

Dengan pakaian lari yang tidak sopan ketika itu dia tidak tahan untuk masuk ke gedung (masjid) itu. Di situlah Allah pertemukan saya dengan Chika. Dan sejak itu pula Chika memeluk Islam sebagai jalan hidupnya”.

Imam Shamsi menerangkan, saat ini Chika yang keturunan Jepang itu sangat serius dengan Islamnya. Bahkan telah berhasil meyakinkan kakeknya yang berusia 90 tahun di Jepang untuk memeluk Islam.

“Doakan semoga Chika tetap istiqamah!” pungkas Imam Shamsi.

Postingan tokoh Islam asal Sulawesi Selatan yang menetap lama di Negeri Paman Sam itupun disambut hangat netizen. Tak terkecuali sejumlah tokoh publik, seperti Tengku Zulkarnaen dan Arie Kuntung.

Siapakah Chika Nakamura?

Lahir dari keluarga asli Jepang, dimana kedua orangtuanya asli orang Jepang, Chika Nakamura cukup terkenal di AS. Kendati demikian, Chika harus melewati banyak kisah memilukan saat memilih petinju sebagai profesinya.

Tantangan karier datang dari keluarga, terutama kedua orangtuanya. Mereka tak setuju dengan pilihan karier Chika.

Berdasarkan adat ketimuran, keluarga besar Chika sangat menentang keputusannya menjadi petinju. Apalagi tinju identik dengan kekerasan dan dinilai tidak begitu menjanjikan dalam hal pendapatan.

Alhasil, sejak menetap di Amerika, hubungan antara Chika dan keluarga besarnya, terutama kedua orangtuanya, menjadi agak renggang. Kehidupan yang dialami oleh Chika selama di Amerika juga bisa dikatakan tidak semudah seperti bayangan orang lain.

Chika memiliki karier bagus sebagai petinju. Kendati demikian, Chika tak seperti petinju tenar lainnya yang memilih hidup bergelimang kemewahan. Petinju wanita berbadan kekar ini justru menjalani hidupnya dengan sederhana.

Hebatnya, dia tidak meminum mengkonsumi minuman alkohol atau berpesta pora yang merupakan budaya khas selebritas di Amerika Serikat. Sebaliknya, Chika memilih menerapkan pola makan dan pola hidup yang sehat.

Chika dikenal sebagai sosok yang lebih senang berlatih tinju dibandingkan bergaul dengan teman-teman yang suka bermewah-mewahan dan membuang-buang waktu percuma.

Ketekunannya berbuah hasil, dimana ia berhasil meraih berbagai penghargaan, diantaranya adalah Peringkat ke-10 petinju wanita dunia versi WIBA, rekor tak terkalahkan dalam lima kali tanding pada tahun 2007, dan memperoleh gelar New York State Golden Glove.

Di atas ring, Chika sangat ditakuti oleh lawan-lwanannya. Hal itu terlihat ketika pada 29 Juni 2007 silam, lawan yang sedianya akan melakoni sebuah pertarungan, hari itu dia justru membatalkannya.

Di balik ketenarannya, Chika memilih untuk lebih banyak menghabiskan waktu bersama pelatihnya, Carlos Ortiz, dan istrinya, Maria Ortiz.

Kesederhanaan yang dijalani Chika, rupanya terinspirasi dari kehidupan Carloz dan Maria Ortiz. Termasuk ketika tiba-tiba dia merasakan bahwa dunia tinju sudah tidak mampu memberikan ketentraman pada hatinya.

Chika merasa bahwa dia perlu terjun ke masyarakat dan bergelut di dunia sosial untuk lebih banyak berbagi pada sesama, dan pada akhirnya itu yang mendorongnya untuk mau kembali mengenyam bangku sekolah.

Dan akhirnya Chika memustuskan untuk benar-benar kembali ke bangku sekolah, dengan mendaftar dan memulai studinya sebagai mahasiswa di sebuah sekolah tinggi dengan jurusan studi bahasa Inggris.

Perlahan, kehidupan Chika berubah. Terlebih setelah kecelakaan yang pernah dialaminya saat menjalani proses pertandingan tinju. Dokter yang menangani terapinya menyarankan Chika beralih profesi saja dari dunia tinju yang terbilang keras bagi seorang wanita.

Chika sempat galau, mengingat ia merasa dunia tinju merupakan harapan hidupnya. Dia pun merasa telah banyak mengorbankan segalanya dalam kehidupannya demi mengejar mimpinya menjadi petinju dunia.

Perasaan tidak tenang itulah yang mendorongnya untuk mencari ketenangan, dan meninggalkan dunia tinju. Dia mulai mendatangi berbagai tempat ibadah agama-agama, hingga bermimpi melihat sebuah gedung yang menurutnya aneh. Dan, itulah masjid.

Ramadhan 1431 H, akhirnya seorang Chika Nakamura memutuskan dirinya menjadi seorang mualaf. Hari Jumat itu, dengan kemantapan hati, Chika bersyahadat dan memutuskan menjadi seorang muslimah yang siap untuk berdakwah di jalan Allah.

Keislaman Chika pun kian mantap, seiring pilihannya untuk mengenakan hijab. (Fath)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here