Meski di Lockdown, 100 Ribu Orang Tetap Menghadiri Pemakaman Ulama Besar di Bangladesh

250

Dhaka, Muslim Obsession – Kebijakan lockdown sepertinya tak memberikan pengaruh bagi masyarakat Bangladesh untuk mencegah penyebaran corona. Pasalnya lebih dari 100 ribu orang di Bangladesh justru melanggar kebijakan itu dengan tetap menghadiri pemakaman seorang ulama terkemuka di distrik Brahmanbaria.

Seperti dilansir CNN dan Associated Press, Senin (20/4/2020), jumlah orang yang menghadiri acara pemakaman ulama yang juga pemimpin senior sebuah partai Islamis setempat itu telah dikonfirmasi oleh asisten spesial Perdana Menteri Bangladesh, Shah Ali Farhad dan juru bicara Kepolisian Brahmanbaria, Imtiaz Ahmed.

Acara pemakaman ulama bernama Maulana Zubayer Ahmad Ansar itu digelar pada Sabtu (18/4) waktu setempat. Mereka disebut telah melanggar aturan lockdown karena pemerintah melarang perkumpulan lebih dari lima orang saat menghadiri ibadah atau acara doa dalam sekali waktu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Islamis setempat, Mohammad Mamunul Haque, menyebut bahwa puluhan ribu orang yang menghadiri pemakaman itu membanjiri jalanan distrik Brahmanbaria. Mereka berjalan kaki dan saling berdesakan demi menghadiri pemakaman itu.

Orang-orang berkumpul di depan Madrasah Jamia Rahmania yang menjadi lokasi pemakaman. Mufti Mubarro Ullah selaku kepala madrasah itu menyatakan awalnya pemakaman akan digelar secara sederhana demi mematuhi lockdown.

“Kami ingin membuat pengaturan kecil untuk pemakaman, dengan mematuhi panduan pemerintah dalam menjaga keselamatan dan kesehatan. Tapi orang-orang berkumpul untuk memberi penghormatan tanpa sepengetahuan kami. Kami tidak tahu bagaimana itu terjadi,” ucapnya.

Secara terpisah, juru bicara Kepolisian Sentral Bangladesh, Sohel Rana, pihak kepolisian tidak mampu mengendalikan kerumunan orang yang menghadiri pemakaman itu. Para personel yang bertugas untuk mengawal massa itu akhirnya ditarik dari acara tersebut.

Rana menambahkan bahwa sebuah komisi telah dibentuk untuk menyelidiki mengapa kerumunan orang sebanyak itu dibiarkan berkumpul pada satu waktu. Hingga Minggu (19/4) waktu setempat, otoritas Bangladesh mengonfirmasi 2.456 kasus virus Corona, dengan 91 kematian.

Namun para pejabat setempat menyebut total kasus yang sebenarnya jauh lebih banyak karena kurangnya alat tes virus Corona di negara itu. Sebagai upaya membatasi penyebaran virus Corona, otoritas Bangladesh memberlakukan lockdown nasional yang akan berlangsung hingga 25 April mendatang. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here