Menyudahi Dendam Kesumat: Kisah Muawiyah dengan Az-Zurqa binti Uday

181

Oleh: M. Ishom el-Saha (Dosen UIN Sultan Maulana Hasanuddin, Banten)

Disebut dalam kitab Qashashul Arab juz 1 karya Ibrahim Syamsuddin, bahwa ada perempuan berkebangsaan Kuffah, Iraq, dan pengikut setia Ali bin Abi Thalib yang bernama Az-Zurqa binti Uday. Dia sangat kecewa atas kekalahan Ali bin Abi Thalib dan sangat membenci Muawiyah karena dianggapnya melakukan kecurangan pasca perang Shiffin.

Setiap Az-Zurqa bertemu dengan pelaku sejarah Perang Shiffin, dia selalu mengungkit-ungkit masalah pergantian kepemimpinan dari Ali bin Abi Thalib kepada Muawiyah. Tak segan-segan perempuan asal Kuffah ini bersuara lantang untuk menyulut emosi orang-orang di sekitarnya.

Suara provokasi Az-Zurqa binti Uday digambarkan: “Jika yang mendengarkannya adalah seorang yang butek pikirannya maka dia akan langsung menghujamkan senjatanya ke lawan. Jika orang itu sebagai pengambil keputusan maka ia akan menindak lanjutinya langsung. Jika orang itu seorang muslim maka memilih berjihad. Jika orang itu hendak bepergian maka akan mengurungkan niatnya dan ikut ajakan Az-Zurqa.”

Pada intinya perempuan ini punya pengaruh besar di kalangan pelaku sejarah Perang Shiffin.

Suatu saat, Muawiyah yang telah berhasil menduduki tampuk kepemimpinan Islam menggantikan Ali bin Abi Thalib, mengumpulkan tokoh-tokoh berpengaruh. Ia ingin mendapatkan masukan informasi, siapa saja yang perlu “ditangani” untuk menyudahi konflik berkepanjangan di antara umat Islam?

Seketika itu ada yang melaporkan ke Khalifah, bahwa di Kuffah ada perempuan berpengaruh bernama Az-Zurqa yang dianggap mengancam kekuasaan Muawiyah.

Mendengar laporan itu, Muawiyah bertanya, “Bagaimana caranya supaya perempuan pengikut Ali itu tak bersuara dan memprovokasi orang-orang di sekitarnya?”

Loyalis Muawiyah menjawab, “Sekiranya Tuan mengizinkan maka kami akan membungkam mulutnya dengan cara menghabisi nyawanya.”

Mendengar masukan pengawalnya itu Muawiyah berkomentar, “Apa tidak ada cara yang lebih elegan? Apa kalian ingin namaku dicatat dalam sejarah telah membantai seorang perempuan gara-gara yang bersangkutan tak sepaham denganku? Demi Allah, saya tak akan melakukan itu!”

Hingga kemudian, Muawiyah memerintahkan satu regu pasukan untuk menemui Az-Zurqa dengan maksud mengundang perempuan itu menghadap Khalifah. Utusan Muawiyah itupun berangkat ke Kuffah untuk menemui Az-Zurqa.

Sesampainya di kediaman Az-Zurqa, utusan khalifah itu berkata, “Saya mendapat mandat untuk mengundangmu, keluargamu dan pengikutmu menghadap Khalifah.”

Az-Zurqa menjawab, “Kami adalah musuh Muawiyah. Apa jaminan yang kalian berikan bahwa kami akan diperlakukan dengan baik dan aman-aman saja?”

Utusan Muawiyah itupun menunjukkan surat undangan resmi dari Khalifah. Setelah berunding dengan keluarga, Az-Zurqa menyanggupi dan menuruti undangan Muawiyah.

Sesampainya di istana Muawiyah di kota Syam, Az-Zurqa betul disambut dengan penuh kemuliaan.

Muawiyah berkata, “Selamat datang bibiku! Bukankah engkau yang menaiki onta berwarna kemerah-merahan dan bersuara lantang menggelorakan orang-orang di sekitarmu sewaktu peran Shiffin?”

Az-Zurqa menjawab, “Betul, dan tidak salah! Saya melakukan itu karena kehormatan sebagai anak manusia yang dilalimi.”

Muawiyah bertanya kembali, “Bukankah, kamu yang berkata bahwa cahaya lentera kalah pamornya dengan sinar matahari. Kemerlip bintang tak seberapa dibandingkan cahaya bulan. Keledai tak bisa mengalahkan kecepatan kuda. Pedang tak akan bisa melukai kecuali dengan menghunusnya. Bukankah kamu juga berteriak agar orang-orang di sekitarmu waktu itu sabar dan bertahan dalam barisan mereka, karena orang berilmu berbeda dengan orang yang tak berilmu, dan demikian pula orang beriman tak sama dengan orang munafik?”

Az-Zurqa menjawab, “Benar! Karena kami cinta terhadap pimpinan kami, Ali bin Abi Thalib”.

Muawiyah lalu berkata, “Ketahuilah bibiku! Aku pun bersahabat dengan Ali, dalam denyut nadi dan aliran darahnya. Karena alasan itu juga kami menyudahi peperangan, agar tidak jatuh banyak korban. Hasrat kami untuk melukai disadarkan oleh akal budi kami untuk memilih berunding dengan kemampuan akal pikiran kami. Kebetulan logika memenangkan pihak kami. Wahai bibiku! Yang lalu biarlah berlalu. Sekarang apa maumu?”

Az-Zurqa menjawab, “Aku tak berhajat kepadamu.”

Sebagai pemimpin, Muawiyah tak tersinggung dengan apa yang diucapkan perempuan paruh baya di depannya itu. Dia justru berkata, “Wahai bibiku! Ketahuilah, semula para pembantuku mengusulkan kepadaku agar mengabisi nyawamu. Tapi bagiku, buat apa menyelesaikan masalah dengan membuat masalah baru. Aku ingin kita semua berdamai untuk menyongsong masa depan yang lebih baik lagi. Jika engkau masih belum terima, setidaknya redakan emosimu dan lembutkan suaramu!”

Pernyataan terakhir Muawiyah itu rupanya berhasil mengetuk hati Az-Zurqa. Logika dan hatinya tersentuh oleh pernyataan Muawiyah. Merekapun akhirnya saling memaafkan.

Sebagai bentuk penghormatan kepada Az-Zurqa dan pengikut Ali bin Abi Thalib di Kuffah, Muawiyah setiap tahunnya menghadiahkan 10 ribu dirham dan selalu mengunjungi mereka di masa kepemimpinannya. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here