Menurut Al-Ghazali, Ini Alasan Kenapa Allah Paling Layak Dicintai

292

Jakarta, Muslim Obsession – Alangkah indahnya bila manusia menjalin hubungan dengan Allah subhanahu wa ta’ala atas dasar cinta. Bukan atas dasar pamrih. Apalagi hanya mencari Allah ketika manusia butuh.

Padahal jika diliat secara mendalam, Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, di dunia ini sebenarnya hanya Allah lah yang paling layak dicintai. Karena semua alam raya ini milik Allah. Dan apa yang sebenarnya manusia cintai ada semua dalam sifat Allah.

“Kalau kamu suka yang cantik-cantik ketahuilah yang Maha Cantik itu Allah. Kalau kamu suka yang pintar-pintar ketahuilah yang Maha Pintar itu Allah, kalau kamu suka yang bijaksana, maka ketahuilah yang Maha Bijakasana itu Allah,” pesan Al-Ghazali.

Baca juga: Tanda-Tanda Allah Marah dan Berpaling dari Hidup Kita

Demikian dikatakan Dr. Fahruddin Faiz dosen filsafat dan tasawuf, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, dalam kajian Kitab Ihya Ulumuddin, karya Imam Al-Ghazali seperti dikutip dari akun YouTobe, Islam Tv_19, Sabtu (4/7/2020).

Bukan hanya itu, lanjut Fahruddin meneruskan kalimat Imam Al-Ghazali “Jika kamu suka orang yang adil, maka ketahuilah Yang Maha Adil itu Allah. Kalau kamu suka orang yang kaya, Maka ketahuilah Yang Maha Kaya itu Allah. Kalau kamu suka tegas, ketahuilah Yang Maha Tegas itu Allah, kalau kamu suka orang sabar ketahuilah Yang Maha Sabar itu Allah,” tuturnya.

Baca juga: 6 Penyebab Kita Gagal Kenal dengan Allah

“Kalau kamu cinta sama apa pun, itu puncak karakter cintanya itu ada pada Allah. Jadi sebenarnya Allah lah yang paling layak kamu cintai. Dan harusnya apapun cintamu itu harus membawa kedekatanmu kepada Allah,” jelasnya.

“Harusnya kata Al Ghazali, kita jatuh cintanya sama Allah. Lah ko bisa kita jatuh cinta kepada selain Allah? Pasti kamu sedang ketipu,” tambahnya.

Baca juga: Tiga Bekal yang Harus Dibawa Saat Bertemu dengan Allah

Memang kata Al-Ghazali ada syarat untuk bisa mencintai Allah, yakni hati harus bersih, tidak terbebani oleh nafsu. Ghazali menganalogikan dengan teori cermin. “Semakin nafsu menguasaimu, maka semakin gelam cerminmu. Kaya kamu maksiat sekali ada titik hitam satu. Semakin banyak maksiat, maka titik gelapnya semakin banyak,” jelasnya.

Cermin itu ibarat hati, jika cermin sudah kotor sudak banyak noda, bahkan sudah mengerak titik hitamnya sampai gelap menutupi, maka cahaya Allah itu tidak akan terpantul pada hati atau cermin yang gelap. “Kenapa hati gelap, karena hati kita dikuasai nafsu. Cepat-cepat dibersihkan, dan kembali kepada Allah,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here