Mentauhidkan Allah

169

Oleh: Ustadz Farid Okbah (UFO) (Ketua Bidang Agama PP Parmusi)

Selain Allah adalah makhluk. Yang paling tahu tentang Allah, ya Allah sendiri. Misi para nabi ‘alaihimussalam diutus Allah untuk mentauhidkan Allah. Bukan misi kekuasaan atau ekonomi atau yang lain.

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ رَّسُوْلًا اَنِ اعْبُدُوا اللّٰهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَۚ …

“Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah tagut,” (QS. An-Nahl, 16: 36).

وَمَآ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا نُوْحِيْٓ اِلَيْهِ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدُوْنِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum engkau (Muhammad), melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Aku, maka sembahlah Aku,” (QS. Al-Anbiya, 21: 25).

Karena itu, Allah mengajarkan bagi siapa yang butuh kepadaNya, sungguh Allah dekat akan memenuhi permintaannya (QS. Al-Baqarah, 2: 186):

وَاِذَا سَاَلَكَ عِبَادِيْ عَنِّيْ فَاِنِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ …

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku”.

Dalam Al-Quran nama Allah disebut sebanyak 2.724 kali. Nama yang paling banyak disebut. Karena itu disebut dengan nama yang paling agung “al-ismul a’zham”. Orang yang mengagungkan Allah dia sedang bertauhid.

Dalam riwayat Bukhari, ada tiga orang yang mengaku ibadahnya hebat:

Satu, sepanjang malam beribadah tidak tidur sedikitpun.

Kedua, sepanjang hari puasa.

Ketiga, tidak mau menikah.

Mereka dipanggil Nabi ﷺ sambil bersabda: “Aku orang yang paling tahu tentang Allah dan yang paling takut kepada Allah. Meskipun begitu, aku tidur malam dan bangun untuk Tahajjud. Kadang puasa kadang tidak. Dan aku menikahi para wanita. Maka siapa yang tidak mengikuti sunnahku dia bukan dari golonganku.”

Makanya, ulama itu orang yang paling takut kepada Allah.

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ …

“…Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama,” (QS. Fathir, 35: 28).

Karenanya, jangan bicara tentang Allah pakai pendapat akal. Karena akal ada batasnya.

Imam Syafi’i mengatakan: “Aku beriman kepada Allah sesuai maunya Allah. Aku  beriman kepada Rasulullah sesuai dengan maunya Rasulullah ﷺ”. Itulah wilayah aman bertauhid, tidak kepada pendapat manusia yang relatif kebenarannya.

Ilmu filsafat telah gagal mencapai Allah. Para filsuf hebat itu hanya bisa sampai kepada kesimpulan tuhan itu ada, tapi tidak bisa memastikan siapa tuhan yang sebenarnya itu? Di sinilah perlunya utusan Allah.

Lihatlah Nabi Ayyub ‘alaihissalam. Diuji Allah dengan penyakit selama 18 tahun. Habis hartanya, habis anak anaknya, dan sakit badannya. Semua lari menghindar kecuali istrinya. Dia hanya berdoa: “Ya Rabb .. aku sakit, dan Engkau Maha Pengasih.” (QS. Al-Anbiya, 21: 83). Sampai Allah mengangkat penyakitnya dengan perintah menghentakkan kakinya ke tanah dan keluarlah air untuk mandi dan minum,

اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ بَارِدٌ وَّشَرَابٌ

“(Allah berfirman), “Hentakkanlah kakimu; inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum,” (QS. Shad, 38: 42).

Umat manusia hari ini dilanda dengan pandemi virus corona (COVID-19) sudah kacau dan histeris. Mari kita kembali kepada Allah yang Maha Kuasa untuk mengangkat wabah itu.

Kembalilah kepada Allah,

“فَفِرُّوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗاِنِّيْ لَكُمْ مِّنْهُ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌۚ

“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah. Sungguh, aku seorang pemberi peringatan yang jelas dari Allah untukmu,” (QS. Adz-Dzaariyat, 51: 50).

Kebenaran yang datang dari Allah bersifat mutlak,

اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu,” (QS. Al-Baqarah, 2: 147).

Sedang pendapat manusia relatif. Lihatlah betapa gaduhnya mereka dengan istilah lockdown antara yang pro dan kontra.

Mari kita kembali kepada Allah yang Maha Kuasa untuk mengangkat wabah itu sambil kita berusaha maksimal tinggal #DiRumahAja, menjaga jarak ‘physical distancing’, menggunakan masker #mask4all, mencuci tangan dan meningkatkan daya tahan tubuh serta berobat bagi yang positif terinfeksi.

Wallahul Musta’an.


Miliki Buku Karya Ustadz Farid Okbah (UFO):

  1. Menemukan Kehidupan yang Hilang (160 hal)
  2. Mempersiapkan Kekuatan Umat Islam (280 hal)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here