Meninggalnya Imam Al-Ghazali, Beli Kain Kafan dan Memakaikannya Sendiri

162

Jakarta, Muslim Obsession – Siapa yang tak kenal dengan Imam Al-Ghazali bagi kalangan santri dan mahasiswa di perguruan Islam pasti kenal dengan sosok ini. Ya, Imam Al-Gazali adalah ulama tersehor yang namanya dikenal luas oleh para ilmuan dunia..

Kedalaman ilmu ulama bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi tersebut tak diragukan lagi, ia dijuluki Hujjatul Islam. Karya tulisnya ratusan dan dibaca selama berabad-abad hingga sekarang. Madzhab tasawufnya diikuti. Ilmu kalamnya menjadi benteng. Dan ulasan ushul fiqihnya menjadi rujukan.

Imam al-Ghazali juga serius mendalami filsafat meski akhirnya ilmu ini ia kritik sendiri. Reputasi Imam al-Ghazali sebagai ilmuan diakui oleh kawan maupun lawan. Tapi yang mesti diingat, kehebatannya tak datang tiba-tiba. Ulama yang terkenal dengan karya monumental Ihya’ Ulumiddin ini melalui kehidupan berliku sejak kecil.

Imam al-Ghazali pernah diangkat sebagai guru besar di Madrasah Nidhamiyah, Bagdad, era kekuasaan Nidhamul Mulk saat usianya 34 tahun. Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia pendidikan dan keislaman zaman itu yang belum pernah disandang siapa pun dalam usia yang relatif muda.

Meskipun, kehormatan itu sempat ia lepas begitu saja demi pendalamannya terhadap ilmu tasawuf..Namun demikian, bukan statusnya sebagai profesor itu yang membuat kisah Imam al-Ghazali menarik.

Setelah mengakhiri pengabdian di Madrasah Nidhamiyah, sang imam pulang ke kampung asal, Thus, dan mendirikan zawiyah atau semacam pesantren untuk meneruskan khidmah mengajar hingga akhir hayat. Pada detik-detik kewafatannya, sebuah peristiwa indah terjadi.

Abul Faraj ibn al-Juuzi dalam kitab Ats-Tsabât ‘indal Mamât memaparkan cerita dari Imam Ahmad, saudara kandung Imam al-Ghazali. Suatu hari, persisnya Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, saat terbit fajar, Imam al-Ghazali mengambil wudhu lalu menunaikan shalat shubuh. Usai sembahyang, al-Ghazali berkata:

“Saya harus memakai kain kafan.” Lalu ia mengambil, mencium, dan meletakkan kain kafan tersebut di kedua matanya.

Selanjutnya, Imam al-Ghazali berucap: “Saya siap kembali ke hadirat-Mu dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).” Ia pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat, lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya.

KH Bahauddin Nusrsalim atau Gus Baha mengatakan meninggalnya ulama besar Imam Al-Ghazali sangat tertib. Waliyullah ini sudah diberitahu kapan azalnya akan tiba, karena Imam Al-Ghazali sebelum meninggal membeli kain kafan sendiri, sampai kemudian ia memakainya, lalu setelah itu ia meninggal.

Imam al-Ghazali wafat pada 19 Desember 1111 dan dikebumikan di desa Thabran, kota Thus. Proses wafatnya yang tenang, damai, dan indah mencerminkan kualitas kehambaannya selama hidup. Kepergiannya ditangisi para ulama, murid-muridnya, dan jutaan umat Islam. Imam al-Ghazali mewariskan ratusan karya tulis, teladan, dan keilmuan yang tak lekang oleh zaman. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here