Menimbang Anies Sebagai Kuda Hitam

143

Oleh : Ali Sadikin (Alumni HMI Cabang Jakarta)

Sejak kemarin pendaftaran Calon Presiden dan Wakil Presiden sudah dibuka oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU RI), belum nampak satupun pasangan yang mendaftarkan diri. Tetapi publik sudah mahfum, ada dua nama besar yang diperkirakan akan bertarung dalam kompetisi politik tertinggi di Republik ini, Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Dua nama ini adalah seteru di pemilihan presiden 2014 lalu.

Semalam, saya berdiskusi di warung kopi dengan sejumlah kawan-kawan aktivis gerakan. Kami membahas pertarungan Pilpres yang sudah di depan mata. Seperti biasa, banyak analisis yang muncul di diskusi tersebut. Salah satunya tentang, betapa tidak menariknya jika Pilpres 2019 ini hanya menjadi ajang rematch Joko Widodo vs Prabowo Subianto.

Salah satu senior menyatakan : “Dulu, saat Jokowi belum mengerjakan apapun untuk Republik ini, dia bisa menang. Saat ini, Jokowi sudah melakukan banyak hal sebagai Presiden, jadi mudah baginya untuk menang lagi”.

Dari sejumlah diskusi dan analisis yang muncul semalam, ada yang menarik perhatiannya saya. Semua peserta ‘diskusi menteng’ itu meyakini, Ada calon kuat selain prabowo yang bisa menang jika hadapkan dengan Jokowi : Anies Baswedan. Iya, Anies, Gubernur DKI Jakarta.

Sejak menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anies memang tak berhenti menapatkan serangan bertubi-tubi dari kubu Basuki Tjahaya Purnama (Ahok), yang secara sederhana dianggap juga sebagai representasi dari pendukung Presiden Joko Widodo. Nyaris tidak ada kebijakan Anies yang baik dimata pendukung Jokowi (Ahok) ini. Para pendukung yang menurut Saya dibutakan oleh fanatisme sempit ini hanya sibuk menyerang Anies dan Sandi, tanpa sedikitpun melihat kebaikan yang ada di dalamnya.

Ketika Anies menutup tempat prostitusi Alexis, pendukung Jokowi (Ahok) teriak itu langkah politik. Padahal Alexis adalah janji Anies saat kampanye, dan Ia tunaikan tak lama setelah Ia menjabat. Awal Tahun 2018, Anies melakukan ground breaking hunian DP 0 di Pondok Kelapa, Jakarta Timur, para supporter Ahok meledek bahwa itu akan sulit terealisasi. Lalu, Ketika Anies hadir sendiri dan menyegel hampir seribu bangunan di Pulau Reklamasi, yang menjadi penyegelan terbesar sepanjang sejarah Jakarta, Ia lagi-lagi dituduh tengah mengambil langkah politik.

Anies adalah pemimpin politik, lahir dari sebuah proses politik. Kita semua meyakini bahwa langkah politiklah yang bisa membuat Jakarta bisa lebih baik seperti hari ini. Jadi, tak ada yang salah jika Anies mengambil langkah politik. Justru kita perlu bertanya jika Anies tak menjadikan langkah politk sebagai salah satu jalan untuk mewujudkan keadilan di Jakarta.

Hari ini terpampang dengan jelas, bahwa bagi kubu Joko Widodo, apapun yang dilakukan Anies adalah antitesa keberhasilan mereka. Karena itu label gagal harus selalu distempelkan ke Anies. Secara sederhana, para pendukung Ahok (yang notabene adalah pendukung Joko Widodo) selalu melihat keberhasilan Anies sebagai pengurang dari elektabilitas Jokowi.

Maka, gempur, jangan kasih ampun. Maka tak heran, pernah ada sebuah kicauan di twitter yang diposting oleh pendukung Jokowi, isinya sama : hoax bahwa Anies melanjutkan Reklamasi. Siapa yang nge-twit ? Addie MS, Gunawan Muhammad, Yunarto Wijaya, Chico Hakim, Saiful Mujani, dan banyak lagi.

Maka, malam tadi, Kami membahas bahwa 2019, bukan saja sekedar momentum untuk bertarung di Arena Pilpres. Tetapi saat yang tepat untuk mengalahkan Jokowi. Pilpres 2019 adalah momentum untuk bertarung saja, tetapi bertarung untuk menang. Lalu bagaimana mewujudkannya? Kami sepakat, bahwa menghadirkan Antitesa Jokowi sebagai lawan adalah faktor kunci untuk merebut kursi Presiden.

Oposisi pemerintah perlu memikirkan, menimbang Anies Baswedan untuk menjadi lawan yang setara bahkan lebih kuat dari Jokowi. Anies memiliki semuanya, elektabilitas, pendukung yang kuat di akar rumput dan jiwa kepemimpinan yang tidak khianat. Ingat minggu lalu, Anies berkata “Saya tidak ingin menjadi daftar orang yang mengkhianati promotornya”. Anies hanya perlu dukungan dari Prabowo dan Parpol untuk menjadi penantang Jokowi.

Di akhir diskusi semalam, kami sama-sama menunggu, apakah Prabowo akan rasional ingin Joko Widodo kalah, atau dia tetap ingin masuk arena dan membiarkan Jokowi melenggang dua periode. Kita tunggu saja. **

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here