Mengokohkan Jiwa Pancasila di Hari Kelahirannya

Keshalihan Orangtua dan Guru, Kunci Terbaik Bagi Keshalihan Anak Bangsa

143

Oleh: Dr. Muslich Taman (Praktisi Pendidikan)

Anak adalah anugerah, yang dapat menjadi penenang jiwa dan penyejuk mata bagi orangtuanya. Menjadi kekayaan paling berharga dan paling dibanggakan. Manakala, mereka dididik dengan sebaik-baiknya sehingga menjadi anak-anak shalih yang taat kepada Allah SWT, berbakti kepada kedua orangtua, dan bermanfaat luas bagi umat manusia.

Anak-anak yang demikian ini, menjadi perhiasan terindah dan paling menyenangkan bagi siapapun yang memandangnya, lebih-lebih begi kedua orangtuanya.

Anak juga ujian. Menuntut adanya tanggung jawab dan pengorbanan besar dari setiap orangtua yang menerima ujian itu. Membutuhkan ilmu dan wawasan luas dalam menghadapinya. Sebagai ujian, konsekuensinya bisa berujung pada kesuksesan yang membawa pada kemuliaan, dan bisa juga pada kegagalan yang menjerumuskan pada nestapa dan kehinaan.

BACA JUGA:

Menepis Badai Pandemi, Menuai Hikmah Pendidikan Masa Depan

Puasa, Perisai Diri dan Tangga Menujut Takwa

Menyoal Pelakor, Bagaimana Agar Tak Dekati Rumah Kita?

Anak juga bisa menjadi musuh. Menjadi penentang dan penghalang jalan kebaikan bagi orangtunya. Selalu menyulut kebencian dan amarah. Bahkan bisa menyengsarakan dan membawa pada kehancuran.

Semua orangtua, mendambakan anak-anaknya kelak menjadi orang yang membanggakan dan membahagiakannya. Dapat mewujudkan harapan dan impiannya. Menjaga dan merawatnya di saat usia senja, memenuhi segala kebutuhannya di saat ia miskin papa.

Bagi orangtua yang beriman dan taat pada ajaran agamanya, pada umumnya memiliki harapan lebih pada anak-anak mereka, bukan hanya agar mereka menjadi anak-anak yang baik di dunianya, tetapi juga supaya mereka bisa menghantarkannya menggapai husnul khatimah, mengajak memasuki surga-Nya, bahkan, mengangkat derajatnya di sisi-Nya. Dan, itulah kado terindah dari anak bagi orangtuanya.

Untuk menggapai dambaan mulia terhadap anaknya, pada umumnya orangtua rela melakukan apa saja, selama ia sanggup melakukannya. Semua ditempuhnya, demi mimpi besarnya pada si anak suatu saat nanti. Tapi amat sayang, banyak orangtua yang salah. Ada hal terpenting yang dilupakan dan ditinggalkan. Yaitu, menshalihkan dirinya sendiri, sebelum mengharapkan keshalihan pada diri anak-anaknya.

Hal di atas, merupakan pesan penting dari Allah kepada setiap orangtua, pada kisah Khidir bersama Musa, saat keduanya tiba-tiba dengan suka rela memperbaiki dinding rumah yang rusak di suatu kampung.

BACA JUGA: Hukum Berolahraga di Dalam Masjid

Allah berfirman, “Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang shalih. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu,” (QS. Al Kahfi: 82).

Bahwa ternyata diketahui, rumah tersebut adalah milik dua anak yatim, yang kedua orangtuanya dulu merupakan orang-orang yang shalih. Fakta terungkap, di bawah dinding rumah yang akan diperbaiki oleh Khidir tersebut, tersimpan harta warisan untuk dua anak yatim yang saat itu masih kecil. Allah berkehendak menjaga harta peninggalan tersebut, hingga kedua anak itu dewasa, biar keduanya bisa memanfaatkan harta warisan dari orangtuanya yang shaih.

Ibnu Katsir terkait ayat di atas menjelaskan, “Keshalihan orangtua akan dapat menjadi penjaga bagi anak keturunannya. Berkat ibadah yang dilakukan orangtua, akan bermanfaat bagi anak-anaknya di dunia dan akhirat. Keshalihan orangtua dapat mengangkat derajat kemuliaan anak keturunannya di surga nanti.”

BACA JUGA: Memaknai Hari Sumpah Pemuda di Tengah Pandemi

Keshalihan orangtua adalah hal penting bagi keshalihan anak-anaknya. Sebuah riset menunjukkan, bahwa lebih dari 60% perilaku anak, karena pengaruh prilaku dari orangtuanya. Apakah anak melihat langsung prilaku orangtuanya, ataupun tidak melihatnya.

Bagitulah juga prilaku guru bagi para muridnya. Guru-guru yang memiliki prilaku baik, akhlak yang mulia, dan hati yang tulus, akan sangat berpengaruh bagi pembentukan pribadi yang mulia bagi para muridnya. Kompetensi kepribadian yang dimiliki para guru memiliki korelasi kuat bagi pembentukan kepribadian murid-muridnya.

Karena itu, di hari Kelahiran Pancasila ini, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengingatkan pada amanat bahwa setiap guru profesional dalam menjalankan tugasnya dituntut memiliki kompetensi kepribadian, selain kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional. Setiap guru harus memiliki kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif dan berwibawa serta menjadi teladan bagi peserta didik.

BACA JUGA: Memaknai Hari Santri

Bagi para orangtua, sebagai guru pertama bagi anak-anaknya, bila kelak berharap anak-anaknya berbakti kepadanya, hendaknya ia sekarang berbakti kepada kedua orangtuanya. Kalau kelak berharap anak-anaknya taat kepada Allah, maka saatnya sekarang ia harus taat kepada-Nya. Kalau kelak berharap anak-anaknya menjadi orang yang memuliakan pasangan hidupnya, maka saatnya sekarang dirinya memuliakan pasangannya. Begitu seterusnya.

Guru dan orangtua, adalah bagai cermin besar bagi para siswa dan anak-anaknya. Bagaimana prilaku guru dan orangtua, begitulah prilaku yang akan ditiru para murid dan anak-anaknya. Buah tidak akan jatuh, jauh dari pohonnya.

Rasulullah mengingatkan, “Berbaktilah kalian pada orangtua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti pada kalian.” []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here