Menghina Nabi, Menag Tegaskan M Kece Bisa Dikenakan Pidana

162
Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas. (Foto: kemenag)

Jakarta, Muslim Obsession – Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas langsung merespons video ceramah Muhammad Kece yang tengah viral di media sosial telah melakukan penghinaan terhadap Nabi Agung Muhammad Saw.

Menag menegaskan, selain berpotensi merusak kerukunan umat beragama, ujaran kebencian dan penghinaan simbol keagamaan adalah tindak pidana. 

“Menyampaikan ujaran kebencian dan penghinaan terhadap simbol agama adalah pidana. Deliknya aduan dan bisa diproses di kepolisian, termasuk melanggar UU No 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama,” kata Yaqut dalam keterangan tertulis, Ahad (22/8/2021).

Dia menegaskan bahwa di tengah upaya untuk terus memajukan bangsa dan menangani pandemi Covid-19, semua pihak mestinya fokus pada ikhtiar merajut kebersamaan, persatuan, dan solidaritas. Bukan melakukan kegaduhan yang bisa mencederai persaudaraan kebangsaan.

Lebih lanjut, Yaqut mengungkapkan, aktivitas ceramah dan kajian seharusnya dijadikan sebagai ruang edukasi dan pencerahan.
Ceramah, lanjut dia, dilakukan bukan untuk saling menghinakan keyakinan dan ajaran agama lainnya.

Namun, sebagai media bagi para penceramah agama untuk meningkatkan pemahaman keagamaan publik terhadap keyakinan dan ajaran agamanya masing-masing.

“Ceramah adalah media pendidikan, maka harus edukatif dan mencerahkan,” tegasnya.

Sebab itu, dia meminta para penceramah agama tidak menjadikan ruang publik untuk menyampaikan pesan berisi ujaran kebencian maupun penghinaan

Kementerian Agama, lanjut Yaqut, saat ini terus berupaya mengarusutamakan penguatan moderasi beragama.

Hal ini akan dilakukan kepada seluruh stakeholder, mulai dari ASN, Forum Kerukunan, termasuk juga penceramah dan masyarakat luas. Ada empat indikator yang dikuatkan, yaitu komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, serta penerimaan terhadap tradisi.

“Dalam konteks ceramah agama, penguatan terhadap empat indikator moderasi ini penting dan strategis agar para penceramah bisa terus mengemban amanah pengetahuan dalam menghadirkan pesan-pesan keagamaan yang selain meneguhkan keimanan umat, juga mencerahkan dan inspiratif,” pungkasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here