Menghancurkan Petani, PBNU Tolak Kebijakan Impor 1 Juta Ton Beras

128

Jakarta, Muslim Obsession – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menegaskan, pihaknya menolak keras rencana pemerintah mengimpor beras 1 juta ton dari Thailand. Kebijakan itu jelas dianggap merugikan petani dalam negeri.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siradj menyebut, pihaknya menolak impor beras, karena mayoritas petani yang akan terdampak dari kebijakan tersebut merupakan warga NU.

“Nah, saya menolak keras impor ini kesepakatan impor ini. Pertama, kebanyakan petani, 99 persen, warga NU,” kata Said Aqil, dalam TV NU, Jumat (19/3/2021).

Dia juga sudah menyampaikan langsung keberatannya ke Wakil Menteri Pertanian Harvick Hasnul Qolbi yang kebetulan Bendahara PBNU.

“Beliau pun setuju sikap saya menolak MoU ini karena dalam data Kementan stok beras akhir 2020, 7,38 juta ton sementara produksi dalam negeri pada 2021 sebesar 17,51 juta ton, sehingga totalnya menjadi 24,9 juta ton, perkiraan kebutuhan 12,33 juta ton sehingga surplus 12,56 juta ton di 2021 ini. Ini artinya surplus, ngapain impor. Ini kebijakan siapa?” ujar Said Aqil.

Dia menyebut rencana itu hanya untuk menguntungkan segelintir pihak tertentu.

“Saya punya tanda tanya besar, untuk apa. Untuk kepentingan siapa dan kenapa ini harus dilaksanakan. Untuk kepentingan kelompok tertentu pasti ini tujuannya, saya tahu. Tolong nasib petani didahuluka. Petani sebagai tulang punggung ekonomi bangsa harus diprioritaskan, alih-alih untuk mendukung malah akan hancurkan nasib mereka,” ucap Said Aqil.

PBNU meminta adanya kesesuaian data antarlembaga pemerintah, seperti BPS, Bulog, Kemendag, dan Kementan.

Said Aqil memberi penekanan soal peran dan fungsi yang sampai saat ini dirasakan belum maksimal. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here