Mengerikan! 134 Muslim Dibantai di Mali Tengah

1151

Bamako, Muslim Obsession – Serangan teror terhadap umat Islam terus terjadi. Setelah teror Selandia Baru, kini publik dikejutkan dengan video pembantaian 134 petani dan penggembala Muslim di Ogossogou, Mali tengah, pada hari Sabtu kemarin. Menurut PBB, wanita yang sedang hamil ikut dibunuh dan beberapa korban dibakar hidup-hidup.

Video terbaru dari kekerasan itu beredar pada hari Minggu. Video menunjukkan para korban berserakan di tanah di tengah sisa-sisa rumah mereka yang terbakar. Milisi etnik Dogon menjadi pihak yang paling disalahkan dalam aksi ini. Ia disebut sebagai menyerang sebuah desa etnis Peuhl sesaat sebelum fajar pada hari Sabtu.

Menurut Tabital Pulaaku, sebuah kelompok misi antikekerasan Peuhl, di antara para korban di Ogossogou adalah wanita hamil, anak-anak kecil dan orang tua. Pria bersenjata ini menyamar sebagai petani dan membantai penggembala Fulani.

Menurut laporan ABC, Senin (25/3/2019), Kelompok etnis Fulani adalah seminomadik, terutama Muslim dan tinggal di berbagai negara Afrika Barat.Video grafis yang diperoleh The Associated Press menunjukkan setelah serangan hari Sabtu, banyak korban terbakar di dalam rumah mereka.

Tubuh anak kecil terlihat ditutupi dengan selembar kain, dan ada pula kartu ID ditunjukkan warga setempat berlumuran darah. Di Ibu Kota Mali, Bamako, Presiden Dewan Keamanan PBB Francois Delattre yang sedang berkunjung pada Sabtu malam mengecam pembunuhan itu sebagai “serangan tak terkatakan”.

Paling tidak 55 orang terluka dan misi PBB di Mali mengatakan bahwa mereka sedang bekerja untuk memastikan orang yang terluka telah dievakuasi. Di New York, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk serangan itu dan menyerukan pemerintah Mali untuk segera menyelidikinya serta membawa para pelaku ke pengadilan.

Kelompok ekstremis Islam diusir dari pusat-pusat kota di Mali utara selama operasi militer yang dipimpin Prancis 2013. Para militan, yang tersebar di seluruh daerah pedesaan, berkumpul kembali dan mulai melancarkan berbagai serangan terhadap militer Mali dan misi PBB.

Diketahui sejak 2015, ekstremisme telah merangsek jauh ke Mali tengah dan telah memperburuk ketegangan antara kelompok Dogon dan Peuhl. Anggota-anggota kelompok Dogon menuduh kelompok Peulh mendukung para militan yang terkait dengan kelompok-kelompok kekerasan di utara dan di luar negeri.

Namun, Kelompok Peulh menuduh balik kelompok Dogon mendukung tentara Mali dalam upayanya untuk membasmi ekstremisme. Pada bulan Desember 2018, Human Rights Watch telah memperingatkan bahwa pembunuhan milisi terhadap warga sipil di Mali tengah dan utara sudah di luar kendali.

Kelompok HAM itu mengatakan milisi etnik Dogon yang dikenal sebagai Dan Na Ambassagou dan pemimpinnya telah dikaitkan dengan banyak kekejaman dan menyerukan pemerintah Mali untuk menuntut para pelaku. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here