Mengenang Pak Timur

1695

Natsir Zubaidi, selaku penulis buku mengemukakan dalam Kata Pengantar; Pak Timur telah berjasa dalam kebijakan program Kementerian Agama, di antaranya dengan membentuk kelompok studi Islam untuk berbagai disiplin ilmu yang anggotanya terdiri dari dosen-dosen Perguruan Tinggi Agama Islam. Kelompok studi inilah yang telah melahirkan buku rujukan Islam untuk Disiplin Ilmu (IDI). Buku IDI yang sudah berhasil disusun atas prakarasa Pak Timur selaku Dirjen Binbaga Islam, antara lain: Islam untuk Disiplin Ilmu Ekonomi, Islam untuk Disiplin Ilmu Kesehatan dan Kedokteran, Islam untuk Disiplin Ilmu Bahasa, Islam untuk Disiplin Ilmu Hukum, Islam untuk Disiplin Ilmu Sosiologi, Islam untuk Disiplin Ilmu Biologi, dan Islam untuk Disiplin Ilmu Pertanian.

Dalam pidato pengukuhan sebagai Guru Besar Luar Biasa untuk Sosiologi Agama Islam yang diucapkan pada tanggal 19 Oktober 1981 di IAIN Raden Fatah Palembang, Pak Timur menekankan pentingnya merumuskan masalah Islam dan umat Islam di Indonesia, yang mencakup kerawanannya dan potensinya, penataan kelembagaan internal umat Islam, serta perumusan strategi nasional dalam bidang agama Islam yang terbesar jumlah pemeluknya di Indonesia.

Setelah pensiun, beliau aktif sebagai dosen mata kuliah Etika dan Filsafat Islam di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dosen Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Guru Besar Luar Biasa untuk Sosiologi Agama Islam di IAIN Raden Patah, Palembang. Selain itu sebagai Ketua Dewan Kurator Universitas Ibnu Chaldun Jakarta, salah satu pendiri Universitas Djuanda Bogor, dan Ketua STAI Thawalib Jakarta (1985-1997). Semasa hidupnya beliau mengemban amanah sebagai Ketua Umum dan Ketua Badan Pembina YAPI (Yayasan Asrama Pelajar Islam) Al-Azhar Sunan Giri dan Gunung Jati Jakarta. Saya pernah silaturahim ke kediaman beliau beberapa tahun sebelum wafatnya. Sosok pribadi Pak Timur itu calm, sejuk, santun dan berwibawa, meski saat itu beliau sudah tidak banyak beraktivitas karena usia lanjut.

Drs. H. Amidhan, mantan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji serta mantan Ketua MUI, dalam testimoninya mengemukakan, “Pak Timur di mata para pegawai lebih sebagai bapak (leader) daripada sebagai pejabat (birokrat). Oleh karena itu Pak Timur sampai akhir hayatnya sangat disayang oleh seluruh pegawai Departemen Agama ketika itu.”

Kepribadian Pak Timur yang rendah hati dikenang oleh Drs. H. Kafrawi Ridwan, MA, mantan Dirjen Bimas Islam. Saat itu Pak Timur yang menjabat Kepala Biro Perguruan Tinggi Departemen Agama mengendarai mobil VW putih pagi-pagi datang ke rumah Kafrawi yang waktu itu dosen IAIN di Yogyakarta, mengajak berangkat ke Malang untuk menyusun statuta IAIN. Konsep pemikiran Pak Timur dalam mengembangkan IAIN tak lepas dari tekad untuk menciptakan intelektual yang ulama dan ulama yang intelektual.

Pak Timur termasuk salah seorang yang gigih mempertahankan pendidikan agama tetap di bawah Departemen Agama. Mengutip Kafrawi, “Pak Timur beralasan, pendidikan agama itu adalah aset umat Islam yang mempunyai ciri kekhususan. Kalaupun akan disempurnakan, kurikulumlah yang perlu diperbaiki, sedangkan pengelolaannya tetap di bawah Departemen Agama. Pada saat itu Pak Timur dianggap sebagai tokoh ekstrem mempertahankan pendiriannya, terutama ketika harus berhadapan dengan bekas muridnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Daoed Joesoef.”

Man ’arafa nafsahu, faqad ’arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhan Penciptanya. Inilah inti filsafat Islam. Sampai ke Barat saya belajar filsafat, tetap demikian kesimpulan yang saya peroleh. Kebenaran Allah itu mutlak. Kebenaran manusia relatif karena ada nilai pembandingnya dari sudut pandang yang lain.” Kalimat ini diucapkan oleh Pak Timur di ruang kuliah Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) yang tetap diingat oleh salah seorang mahasiswanya yaitu Sdr. Drs. Adi Sunarya ketika kami memperbincangkan sosok Pak Timur Djaelani semasa hidupnya tidak lama setelah beliau meninggal dunia.

Pak Timur meninggal di Jakarta pada 7 Februari 2009 dalam usia 86 tahun. Sesuai permintaan Menteri Agama Muhammad Maftuh Basyuni dan Wakil Ketua MPR-RI A.M. Fatwa yang hadir melayat di kediaman beliau saat itu jenazah Pak Timur dimakamkan di komplek pemakaman keluarga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat.

Seperti diungkap A.M. Fatwa, motivasi gerak Pak Timur, selalu diwarnai oleh ruhul Islam. Selain itu pendidikan adalah bidang yang menjadi perhatian beliau. Sejalan dengan kesimpulan A.M. Fatwa di atas, saya kira tepat sekali generasi sekarang mempelajari pemikiran dan jejak perjuangan Pak Timur yang masih relevan sampai kini, seperti pemikirannya tentang kebudayaan, sumbangan Islam terhadap sosiologi di Indonesia, negara Pancasila bukan negara Sekuler, Islam dan Kebangsaan, aspek politik hukum di Indonesia dan lain-lain. Pikiran-pikiran Pak Timur sebagian dimuat dalam buku yang baru diterbitkan tersebut.

Semoga generasi muda Indonesia lebih memiliki kepedulian, lebih mampu menghargai dan memelihara legacy para pemimpin umat di masa lampau tanpa melihat dari golongan mana atau organisasi mana asal usul seseorang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here