Mengenang Bunda Cammana, Seluruh Hidupnya Dihabiskan untuk Shalawatan

132

Jakarta, Muslim Obsession – Belum lama ini, seluruh jamaah maiyah yang intens sinau bareng bersama Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun berduka. Semua berduka, dan merasa kehilangan atas kepergian Bunda Cammana.

Bunda Cammana mungkin sangat asing di telinga masyarakat Indonesia. Namanya tidak terkenal karena bukan youtubers, tidak pernah masuk dalam daftar trending topic di Twitter, tidak punya akun instagram, dll. Namun bunda sangat dikagumi dan segani oleh Cak Nun dan jamaah Maiyah.

Karena mulianya Bunda di mata Cak Nun dan jamaah, maka sangat pantas Bunda Cammana mendapat Ijazah Maiyah dari Jamaah Maiyah pada 2011 yang lalu. Ijazah maiyah ini tidak sembarangan diberikan. Hanya orang-orang tertentu yang dianggap bisa mendapatkan.

Baca juga: Hakikat Wudhu yang Disucikan adalah Batinnya, Bukan Badannya

Mereka adalah orang yang dipandang punya dedikasi kuat terhadap masyarakat, karena kesederhanaan dan keikhlasannya dalam mencintai Allah SWT dan Nabinya, Muhammad Saw. Bunda Cammana adalah salah satu sedikit orang yang dianggap punya kriteria tentang semua itu.

Mbah Nun sapaan akrab Cak Nun pernah menceritakan tentang sosok Bunda Cammana. Dia adalah seorang pejuang shalawat, yang menghabiskan seumur hidupnya untuk mentradisikan shalawat, mengajarkan shalawatan kepada orang-orang terdekatnya, mulai dari anak-anak hingga ibu-ibu rumah tangga.

Bunda Cammana adalah Maestro Parrawana Towaire. Parrawana Towaire artinya adalah Penabuh Rebana Perempuan. Dia selama ini tinggal di Kecamatan Limboro, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Selatan. Jika datang ke Mandar, Mbah Nun pasti menyempatkan diri datang ke rumahnya.

Ketika Mbah Nun sampai di kediaman Bunda Cammana, tidak ada obrolan khusus, tidak ada diskusi, tidak ada basa-basi. Shalawatan. Bunda Cammana mengumpulkan anak didiknya, dari yang kecil sampai yang dewasa, kemudian bergantian mereka melantunkan lagu-lagu shalawat.

Suaranya sangat khas, Mbah Nun menyebut bahwa Bunda Cammana memiliki suara vokal “kung” yang tidak dimiliki kebanyakan orang. Rumah Bunda Cammana sangat sederhana, rumah panggung khas daerah Sulawesi. Orang Mandar menyebutnya Rumah Boyang.

Bagi Mbah Nun sosok Bunda Cammana adalah orang yang sangat sederhana. Dia tidak butuh ketenaran, tidak butuh, pujian, tidak butuh penghormatan, tidak butuh kebanggaan. Terlihat kata Mbah Nun, ada wajah yang sangat ikhlas di seluruh tubuhnya dalam mencintai Allah dan Rasulnya.

Mbah Nun melihat cinta yang sederhana yang diungkapkan Bunda Cammana kepada Rasulullah Saw. Ceritanya, Bunda Cammana merintis tradisi shalawatan sejak tahun 1957, ketika ia masih berusia sekitar 13 tahun. Dan terus berlangsung hingga beberapa bulan lalu, sebelum bunda terbaring sakit.

Bunda Cammana seolah menjadi jawaban bahwa untuk mencintai Kanjeng Nabi dan berjuang bersama Kanjeng Nabi itu tidak sulit. Sangat sederhana. Bunda Cammana membumikan shalawat di tanah Mandar, jauh dari ingar-bingar sorotan dunia.

Bagi Mbah Nun, Bunda Cammana adalah sebuah jawaban bahwa untuk hidup secara Islam, mencintai Rasulullah Saw dan meneladani laku hidup Kanjeng Nabi itu tidak njlimet.

Seolah-olah Bunda Cammana itu ingin menyampaikan pesan kepada semua; bershalawatlah, Nak. Bershalawatlah kepada Rasulullah Saw, Nak! Bunda Cammana tidak menceramahi kita dengan materi-materi fikih yang selalu menjadi perdebatan di tengah masyarakat.

Dia mencintai Nabi dengan cara sederhana yang mudah dipahami anak-anak dengan bershalawat, sampai pada akhirnya pada Senin sore 7 September 2020, Bunda Cammana menghembuskan napas terakhir setelah beberapa lama terbaring sakit.

Sebuah kabar menyedihkan bagi kita semua. Tapi, semua jamaah Maiyah yakin Bunda Cammana pergi dengan senyuman bahagia. Karena ia kini telah paripurna. Bunda Cammana sudah disambut Kanjeng Nabi Muhammad Saw untuk bersholawat bersama. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here