Mengenal Zainab, Istri Setia Puteri Rasulullah

1596
Ilustrasi Pasangan Suami Istri

Muslim Obsession – Zainab adalah puteri pertama Rasulullah Saw. Ia lahir ketika Rasulullah berusia 30 tahun, yakni sebelum beliau diangkat menjadi Rasul.

Setelah beliau diangkat menjadi Rasul, beliau memiliki perhatian khusus kepada puteri-puterinya. Karenanya, ketika Zainab memasuki usia layak menikah, beliau menikahkannya dengan seorang pemuda bernama Abu Al-As bin Ar-Rabi’bin bin Abdusy Syams.

Sebagai kado pernikahan dan tanda cinta sang ibu, Khadijah rela melepas kalung kesayangannya. Kemudian dikenakannya pada leher Zainab.

Setelah menikah, mereka dikarunia dua anak yaitu Ali dan Umamah. Namun, Ali meninggal ketika masih kanak-kanak. Sedangkan Umamah tumbuh dewasa. Diceritakan, ia menikah dengan Ali bin Abi Thalib setelah wafatnya Fathimah.

Suatu hari, Zainab mendengar kabar bahwa ayahnya telah diangkat menjadi Nabi akhir zaman. Hal ini membuat hatinya yang lembut segera menerima hidayah Islam.

Namun sebaliknya, suaminya Abu Al-As tidak begitu saja mudah menerima Islam. Setelah mendengar istrinya Zainab telah memeluk Islam, ikatan tali kasih sayang antara dirinya dengan Zainab terancam putus.

Maka, Abu Al-As berkata pada istrinya, “Ya Zainab, kita tidak memperoleh apa yang kita harapkan dari pernikahan ini. Bila engkau berpegang teguh pada agamamu, sementara aku tetap pada agamaku.”

Mendengar kata-kata itu, Zainab menjawab, “Sebentar wahai saudaraku. Aku sudah tidak halal bagimu kalau engkau memang masih tetap berpegang teguh pada agamamu. Tidak ada lagi Zainab, kecuali setelah engkau beriman.”

Kondisi rumah tangga Zainab dan suaminya tetap berjalan seperti itu. Mereka terpisahkan satu sama lain.

Hingga pada tahun ke-6 setelah hijrah, orang-orang Quraisy datang ke daerah Badar untuk memerangi Rasulullah. Termasuk di antara mereka ialah Abu Al-As. Dalam pertempuran itu, kaum muslimin meraih kemenangan.

Abu Al-As tertangkap, hingga ia harus menjadi tawanan perang. Ketika mendengar berita penawanan suaminya, Zainab sangat bersedih.

Ia segera mengirimkan tebusan untuk membebaskan suaminya. Di antara barang tebusan itu adalah sebuah kalung dari batu onyx zafar hadiah dari ibunya.

Hingga akhirnya, kalung itu sampai di tangan Rasulullah. Beliau mengenali kalung itu dan mengingatkannya pada istri tercinta Khadijah.

Setelah itu, hati Rasulullah menjadi iba dan membebaskan Abu Al-As. Namun, ia mengambil perjanjian agar menceraikan puterinya.

Ketika sampai di Makkah, Abu Al-As menemui Zainab seraya berkata, “Istriku, kembalillah kepada ayahmu demi ikrarku di hadapannya.” Setelah mengucapkan itu, Abu Al-As berpaling dari Zainab. Ia menangis tersedu-sedu.

Kesedihannya memuncak, ketika ia tidak diperbolehkan mengantar Zainab kembali kepada ayahnya. Maka ia berkata kepada saudara kandungnya Kinanah bin Rabi’,

”Wahai saudaraku, engkau tahu bagaimana kedudukan Zainab di hatiku? Hingga aku tidak menginginkan ada wanita Quraisy berjalan bersamanya.” Seiring waktu, setelah perpisahannya itu, Abu Al-As hidup dengan pikiran kusut dan hati terluka.

Sedangkan Zainab tinggal di Madinah dengan badan yang sakit-sakitan. Kalau bukan karena ketakwaannya, barangkali ia telah bertemu ajalnya, akibat kesedihan yang dialaminya.

Tahun demi tahun berlalu, berkat bimbingan cahaya iman dan kecintaan mendalam kepada Zainab, ia memeluk Islam.

Sejak itu mereka bersatu kembali. Keduanya saling membalas kesetiaan, kelembutan dan kasih sayang. Keharmonisan rumah tangga Zainab dan Abu Al-As tetap dipertahankan. Hingga Zainab dipanggil menghadap Allah pada tahun ke delapan hijrah. (Vina)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here