Mengenal Penyakit-Penyakit dalam Rumah Tangga (Bagian 1)

129
Ilustrasi: Rumah tangga bahagia (Foto: orami)

Muslim Obsession – Seperti tubuh, rumah tangga juga memiliki penyakit. Harapan membangun rumah tangga yang sakinah pun bisa pupus jika penyakit-penyakit tersebut dibiarkan menggerogoti.

Berikut ini beberapa penyakit rumah tangga yang bisa diidentifikasi. Harapannya dengan mengetahui penyakit-penyakit tersebut, pasangan suami-istri bisa mewujudkan bangunan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah.

1. Kutilan (Kurang Tahu Ilmu Pernikahan)

Rumah tangga akan sukses jika dipandu dengan ilmu agama. Pasangan suami-istri yang memiliki ilmu agama mumpuni niscaya diberi kebaikan oleh Allah Ta’ala dalam rumah tangganya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّين

“Barangsiapa dikehendaki ALLAH kebaikan, maka akan dipahamkan ia dalam ilmu agama,” (HR. Bukhari).

2. Kutuan (Kurang Tahu Arah dan Tujuan Pernikahan)

Tujuan pernikahan, seperti dalam QS. Rum ayat 21, adalah supaya pasangan suami-istri bisa hidup damai penuh ketenangan, saling jaga, saling melengkapi saling membahagiakan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu tenteram…” (QS. Ar-Rum: 21).

3. Kusta (Kurang Sabar Meraih Cita)

Bukankah naik tangga mesti dari tangga pertama dulu? Begitu juga dengan membangun rumah tangga. Tapi sayangnya, kebanyakan orang ingin langsung sampai di tangga puncak. Tentu tidak mungkin. Bersabarlah dalam proses berumah tangga, insya Allah pada akhirnya akan sampai pula ke tangga puncak.

Allah Ta’ala berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian beruntung,” (QS. Ali ‘Imraan: 200 ).

4. Kudis (Kurang Urus Duit Selalu Habis)

Manajamen keuangan yang tidak cakap, boros, tidak bisa menentukan skala prioritas, tidak bisa menahan diri untuk belanja yang tidak penting serta mengabaikan kebutuhan yang pokok dan jangka panjang, bisa membuat biduk rumah tangga menjadi oleng. Maka cerdaslah dalam mengelola uang dan tidak boros, insya Allah keluarga akan damai dan mapan.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan ( hartamu ) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan,” (QS. Al-Isra’ : 26-27).

5. Kanker (Kantong Kering)

Pasangan suami-istri yang malas karena tidak mau belajar untuk hidup cerdas pada akhirnya akan jatuh miskin bahkan fakir. Karena kondisi inilah akan banyak bisikan setan sehingga muncul banyak percekcokan, pertikaian, dan lain sebagainya. Banyaklah belajar dan bekerja keras, maka insya Allah kita akan terbebas dari kemiskinan yang sangat menyesatkan dan kefakiran yang bisa berujung pada kekufuran. Na’udzubillah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كادَ الفَقْرُ أنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

“Hampir-hampir kefakiran itu menjadi kekafiran,” (Imam Al-Baihaqi dalam kitab “Syu’abul Iman” no. 6612).

6. Sembelit (Sedekah dan Memberi Sangat Sulit)

Jika seluruh anggota keluarga pelit maka rezeki akan sulit. Jikapun ada keluarga yang pelit tapi rezeki terus melangit, maka berhati-hatilah karena bisa jadi itu istidraj.

Pelit membuat semua urusan rumah tangga akan rumit. Tapi jika Anda dermawan, maka semua urusan rumah tangga akan penuh kebaikan dan keberkahan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ – وَلاَ يَقْبَلُ اللَّهُ إِلاَّ الطَّيِّبَ – فَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِيْنِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيْهَا لِصَاحِبِهِاَ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ أَوْ فَصِيْلَهُ، حَتَّى تَكُوْنَ مِثْلَ الْجَبَلِ

“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Allah tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Allah akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembang biakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit,” (HR. Bukhari).

BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here