Mengapa Pendiri NU Dikenal 3 Orang?

3616

Jakarta, Muslim Obsession – Ormas Islam terbesar di Indonesia Nahdlatul Ulama (NU) telah memasuki usia yang cukup matang, yakni 94 tahun tepat pada 31 Januari 2020. Kiprah NU yang turut serta mewarni pembangunan bangsa ini, tentu tidak lepas dari para pendirinya.

Biasanya yang disebut pendiri NU itu adalah tiga kiai, yaitu Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, Kiai Abdul Wahab Hasbullah, dan Kiai Bisri Syansuri, walau sebenarnya pendiri NU itu banyak, yaitu para ulama besar selain tiga kiai utama tersebut.

Kiai Cholil Bangkalan yang merupakan guru dari Kiai Hasyim juga disebut sebagai pendiri NU, begitu juga Kiai Faqih Maskumambang Gresik yang disebut-sebut sebagai Wakil Rais Akbar.

Kiai Mas Alwi Abdul Aziz yang menamai Nahdlatul Ulama, Kiai Ridwan Abdullah yang membuat lambang NU, juga Kiai Abdul Chalim yang merupakan Wakil Katib dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama pertama kali, adalah di antara para ulama pendiri Nahdlatul Ulama, dan masih banyak lagi.

Pertanyaannya, mengapa biasanya yang disebut pendiri NU diwakili oleh tiga kiai Jombang yaitu Kiai Hasyim, Kiai Wahab, dan Kiai Bisri? Karena ketiganya adalah di antara yang berperan awal pembentukan NU. Juga karena ketiga kiai itu adalah pimpinan tertinggi di NU secara berurutan.

“Kiai Hasyim adalah pemimpin tertinggi NU yang pertama, sebagai Rais Akbar. Beliau wafat digantikan oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah, dan ketika wafat digantikan KH. Bisri Syansuri, dengan jabatan tertinggi di NU, Rais ‘Aam,” ujar Yusuf Suharto, Tim Aswaja NU Center PWNU Jatim dalam keterangan tertulisnya, Jumat (31/1/2020).

Peran Kiai Hasyim Asyari dalam pembentukan NU demikian signifikan. Kiai Hasyim Latif menyebutkan dalam buku NU Penegak Panji Ahlussunah walJamaah, bahwa atas usul Kiai Hasyim Asy’ari pada pertemuan Komite Hijaz pada 16 Rajab 1344 atau 31 Januari 1926 agar Komite Hijaz tidak serta merta dibubarkan.

Kiai Hasyim Asy’ari menyarankan agar Komite Hijaz tidak dibubarkan begitu saja, tetapi diteruskan dalam bentuk jamiyah yang mengurusi umat Islam. Demikianlah cikal bakal NU.

Ada pun Harlah NU tahun ini mengusung tema Meneguhkan Kemandirian NU bagi Peradaban Dunia. Kemandirian yang dimaksud bukan hanya tentang ekonomi, melainkan juga dalam bidang sosial, politik, dan lainnya. Jika kemandirian bisa dilakukan secara optimal maka akan mengurangi beban pemerintah.

“Kemandirian itu bukan berarti kita berhadapan dengan pemerintah, tetapi baagaimana mengeksploitasi di dalam NU. Semangat kemandirian adalah memperkuat keberadaan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasional,” Wakil Sekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi.

Ia mencontohkan bagaimana pentingnya koin muktamar. Manfaat koin muktamar disebutnya banyak. Salah satu penggunaan koin muktamar dalam waktu pendek adalah untuk pembiayaan Muktamar ke-34 NU yang diselenggarakan di Lampung pada Oktober 2020.

“Bagaimana eksistensi negara harus semakin kokoh itu kan manfaaat untuk masyarakat bangsa. Kemudian juga di muktamar membicarakan penguatan sektor ekonomi masyarakat. Itu manfaat yang akan diperoleh. Impact kepada masyarakat baik yang berpartisipasi maupun yang tidak berpartisipasi dalam koin muktamar,” jelasnya. (Albar)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here