Mengapa Parmusi Jawa Tengah Mendirikan Satgas Pangan?

169

Oleh: Anding Sukiman (Ketua PW Parmusi Jawa Tengah)

Sebagai aktivis sejak usia belasan tahun, saya tidak pernah berhenti melakukan berbagai aktivitas di tengah-tengah masyarakat baik di perkotaan maupun desa. Dalam perjalanan tersebut otomatis saya menjalankan shalat di masjid, di manapun saat adzan berkumandang. Dan saat itu saya melihat  bahwa masjid-masjid tempat saya singgahi umumnya kosong.

Jamaah shalat hanya ada beberapa gelintir saja dan saat saya tanya ke imam shalat, beliau menyampaikan bahwa hari-harinya masjid kosong karena jamaah yang umumnya petani sibuk bekerja di sawah dari pagi sampai sore, sehingga jarang ke masjid. Kalaupun ke masjid biasanya pada awal Ramadhan untuk ikut Shalat Tarawih dan pada pertengahan Ramadhan masjid pun kosong lagi.

Di beberapa kabupaten saya sering mendengarkan adzan pada jam 16.30 WIB. Saya sempat dibuat kaget dan bertanya kepada kawan-kawan yang mendampingi perjalanan dan mendapatkan penjelasan bahwa itu adzan Ashar dan sudah menjadi kesepahaman jika adzan Shalat Ashar memang tidak tepat waktu atau sengaja diundur. Alasannya, jika adzan tepat waktu maka akan mengganggu para petani yang bekerja di sawah.

Mendengar penjelasan tersebut, hati ini merasa terhentak, dan langsung menjawab, “Oh, wajarlah jika tikus, wereng, walang sangit, dan jamur perusak tanaman merajalela karena para petani mengabaikan seruan Allah untuk menjalankan ibadah. Selain soal hama para petani juga harus membeli obat hama dan jamur serta pupuk dengan harga yang sangat mahal”.

Para petani saat ini serasa lupa bahwa sesungguhnya hidup ini hanya untuk beribadah kepada Allah dan kelupaan ini ditandai degan kesibukan bekerja di sawah. Padahal dengan kesibukan di sawah dan berani meninggalkan shalat tersebut, tidak banyak hasil yang didapat.  Tanaman-tanaman mereka sering habis diserang hama wereng, tikus, walangsangit, sundep, jamur dan lain-lain.

Karena itulah kami dari PW Parmusi Jawa Tengah merasa perlu untuk ambil bagian dalam mengatasi masalah ini.

Langkah strategis dalam gerakan dakwah di masjid-masjid pedesaan ini dilakukan untuk memberikan solusi kepada para petani agar mendapatkan pupuk, obat hama dan jamur yang murah dan berkualitas. Namun di sisi lain para petani juga harus sadar bahwa sebaik apapun obat hama dan pupuk jika tidak mendapatkan ridha Allah maka semua itu tidak akan berarti.

Satuan tugas pangan Parmusi dibentuk untuk memfasilitasi petani dalam mendapatkan pupuk sekaligus obat hama dan jamur yang berkualitas tersebut, sekaligus mengajak petani masuk ke masid untuk shalat berjamaah. Agar program ini bersinergi maka kami Parmusi Jawa Tengah mengajak pengurus masjid menjadi agen pemasaran pupuk yang sekaligus obat hama dan jamur.

Sehingga, di samping mengurus masjid, takmir ini juga mendapat rezeki dan para petani juga berinfaq ke masjid dan memberi santunan kepada anak-anak yatim dan fakir miskin, karena dengan harga kisaran Rp.60.000 ini sudah termasuk infaq. Saya berharap program ini bisa mengakar kuat di tengah masyarakat. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here