Menemukan Surga di Dalam Penjara

Kisah Nyata Seorang Narapidana di Turki

353
Ilustrasi Penjara (Photo: Istimewa)

Muslim Obsession – Saya menyaksikan seorang manusia betapa butuhnya dia kepada Allah, betapa menderitanya ruh manusia di kehidupan ini tanpa Allah. Ketika seseorang menemukan Allah Ta’ala dan bersungguh-sungguh menjaga shalatnya, saya bisa merasakan perubahan orang tersebut dengan penuh perasaan.

Atas nama yayasan kami, saya mondar mandir ke penjara untuk memberikan ceramah kepada para napi. Ada yang berstatus tahanan, ada pula yang dapat hukuman berapa tahun, puluhan tahun, bahkan seumur hidup. Ada juga beberapa napi seumur hidup yang terisolasi dari yang lain dan hidup di ruang sel seorang diri.

Saya pun penasaran dengan keadaan para napi yang terisolasi itu. Ketika saya mengutarakan keinginan untuk melihat mereka, Kepala Lapas lantas mengatakan bahwa mereka sangat berbahaya, tidak boleh dikunjungi.

Suatu hari saya pergi lagi ke Lapas. Kepala Lapas memanggil saya ke ruangannya. Beliau bertanya, “Buku yang kamu kaji untuk napi adalah karya Said Nursi kan?”. “Ya” jawab saya.

Beliau menceritakan bahwa dia bermimpi dengan Said Nursi semalam. Dalam mimpinya Ustadz Said Nursi datang ke Lapas dan memegang map berisi berkas. Beliau mengajak saya berkeliling di Lapas, mengunjungi para napi satu per satu. Bahkan beliau memintaku untuk membuka pintu sel para napi hukuman seumur hidup yang tinggal di sel sendiri dan mengunjungi mereka juga.

Pak Ali, Kepala Lapas, sangat tersentuh dengan mimpi ini dan mengatakan mulai minggu depan kamu bisa berceramah kepada napi yang tinggal di sel sendiri dan menyampaikan hakikat-hakikat ini. Seminggu kemudian saya datang lagi ke Lapas dengan penuh antusias.

Pak Ali menugaskan beberapa sipir untuk mendampingi saya dan dia juga ikut bersama kami. Kami masuk ke sel napi tahanan seumur hidup. Masing-masing tinggal di ruang sel sendirian. Di depan sel mereka ada sebuah ruang kosong. Mereka diizinkan masuk ke dalam ruangan tersebut sehari sekali dan hanya satu jam untuk sekedar jalan-jalan.

Kepala Lapas berkata, “Jika kita masuk ke dalam sel, itu berbahaya”. Kemudian dia panggil 3 orang napi ke ruangan ini. Dinding ruangannya sangat tinggi, tak ada jendela kecuali ada jendela yang mengarah ke langit.

Kami berkumpul dengan 3 napi. Kemudian saya mulai berceramah tentang hakikat-hakikat keimanan. Saya membaca buku “Iman Kunci Kesempurnaan” karya Said Nursi sambil menjelaskannya. Salah satu dari 3 napi itu mendengarkan saya dengan penuh perhatian.

Ketika saya lanjut menjelaskan isi buku, dia memberhentikan saya dan berkata “Tak perlu banyak penjelasan, tolong teruskan membaca!”.

Saya pun kaget, dalam hati saya berkata, “Apa benar dia paham apa yang saya baca?” Sayapun penasaran dan bertanya apa yang dia pahami dari bacaan tadi. Dia menjelaskan dengan baik apa yang tadi saya baca. Saya pun terheran-terheran, dengan sekali mendengar dia mampu memahami semuanya.

Saya menyadari bahwa ketika manusia terputus hubungannya dengan dunia luar, ruhnya berkembang dan perasaan yang terdapat dalam dirinya meningkat, sehingga berpeluang mendapatkan kebaikan dengan sempurna. Dalam diri manusia terdapat potensi baik dan buruk. Jika manusia mengembangkan potensi buruknya, maka bisa saja masuk penjara dengan sebuah kriminal besar. Dia sudah mendapatkan hukuman paling berat.

Ketika berceramah, saya pegang 3 buku, yaitu “Iman Kunci Kesempurnaan”, “Cahaya Iman dari Bilik Tahanan”, dan “Nasihat Spiritual” karya Said Nursi. Napi yang penuh antusias itu secara spontan merebut tiga buku tersebut dari tangan saya seraya berkata, “Ustadz, buku-buku ini saya sita!”.

Saya pun kaget tak menduga tindakan seperti ini. Kemudian saya katakan, “Buku-buku ini sengaja saya bawa untuk kalian”.

Tapi dia sendiri yang ambil tiga-tiganya. Napi tersebut telah mendekam di sel itu selama 17 tahun. Kami tidak tahu berapa lama lagi ia akan mendekam di sana. Bayangkan, bagaimana keadaan beliau seorang diri di ruang sel kecil selama 17 tahun. Hanya bernafas melalui sela-sela teruji besi yang setebal pulpen. Tidak ada jendela, yang terlihat hanya ruang kosong yang ada di depan sel.

Kemudian kami tinggalkan ruang itu, tapi saya penasaran apa yang terjadi dengan napi tersebut. Saya menantikan dengan penuh antusias jadwal ceramah saya di Lapas pada pekan depan. Minggu depannya saya datang lagi ke Lapas. Seharusnya saya bertemu dengan napi lainnya, namun saya minta Kepala Lapas mempertemukan saya dengan napi yang saya temui minggu lalu. Kepala Lapaspun mengiyakan.

Saya masuk ke ruangan yang sama. Saya bertemu dengan 2 orang, tetapi napi yang ‘”menyita” buku saya tidak hadir. Sayapun bertanya kepada mereka, “Di mana Pak Mustafa?”. Mereka berkata Pak Mustafa menjadi “gila” setelah membaca buku yang kamu kasih.

Saya bertanya kembali, mana mungkin menjadi gila. Mereka menjawab “Ustadz! sekarang Mustafa shalat terus. Dulu kerjaannya bunuh orang terus, sekarang shalat terus”.

“Kenapa kalian mengatakan bahwa dia gila? Padahal dia shalat terus?” ujarku.

Mereka berkata, “Hal ini tidak biasa. Kerjaannya shalat terus, sampai-sampai tidak makan dari pagi hingga sore”.

Di sela percakapan mereka, Pak Mustafa datang menghampiri mereka sembari memegang buku. Dari kejauhan saya terheran-heran ketika melihat buku yang dia pegang sudah menebal dan bengkak.

Pak Mustafa berkata, “Tahukah kalian apa yang saya alami? Sudah bertahun-tahun saya “lapar” dan tak berdaya. Bayangkan, seorang anak yang kehilangan ibunya selama bertahun-tahun dan merasakan penderitaan akibat dari tidak adanya orang yang mengasuhnya lalu dia bertemu dengan ibunya kembali, tentu dia memeluk ibunya dan tak ingin berpisah lagi dengannya. Saya pun hidup bertahun-tahun tanpa Allah. Buku-buku ini membuat saya menemukan Allah. Oleh sebab itu saya tidak ingin berpisah dengan buku-buku ini”.

Ia pun mulai meneteskan air mata. Sambil berkaca-kaca, ia berkata pada saya, “Ustadz, ketika saya shalat bisa berlangsung selama 2-3 jam. Saya tidak bisa menahan diri dan menangis. Apakah tangisan ini membatalkan wudhu dan shalat saya? Saya khawatir dengan hal itu”.

“Demi Allah, shalatmu tidak batal. Justru saya khawatir dengan shalat yang saya kerjakan selama ini,” jawab saya.

Pak Mustafa membaca hakikat-hakikat ini layaknya orang yang sangat haus dan kemudian menemukan Tuhannya seperti seorang anak yang bertemu kembali dengan ibunya setelah lama berpisah. Dia merasakan kehidupan surga dalam penjara.

Sungguh benar apa yang dikatakan Badiuzzaman Said Nursi, “Siapa yang mengenal dan menaati Allah, akan bahagia meskipun hidup dalam penjara. Namun siapa yang melupakan Allah, akan sengsara meskipun hidup dalam istana”.

(Dialami dan diceritakan oleh seorang Da’i bernama Said Sasmaz di Kota Bursa, Turki. Diterjemahkan dan diringkas oleh Hasbi Sen pada 15 Januari 2021).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here